WACANA: PENDIDIKAN UNTUK GENERASI EMAS


Oleh: Prof. Dr. Cahyono Agus

Generasi Emas 2045 telah dicanangkan oleh Mendikbud Muhammad Nuh saat peringatan Hardiknas 2 Mei 2012, sebagai proyeksi generasi yang akan menjadi pelaku utama bagi 100 tahun Kemerdekaan Indonesia. Generasi utama yang mampu berprestasi menjulang tinggi dibanding generasi sebelumnya dan bangsa lainnya untuk mewujudkan Bangsa Indonesia yang besar, maju, jaya dan bermartabat.

Generasi berkarakter “generasi emas” haruslah memiliki kompetensi, karakter, gaya hidup, nilai relijius dan fighting spirit unggulan dalam kehidupan. Juga memiliki sikap, pola pikir, konsep dan berperadaban unggul dengan wawasan yang cerdas, luas, mendalam, produktif, kreatif, inovatif,  dan futuristik. Memiliki kompetensi, karakter, gaya hidup dan fighting spirit unggulan dalam kehidupan.  Sehingga menumbuhkan tanggung-jawab dan kontribusi nyata dalam mewujudkan lingkungan dan kehidupan yang sehat, damai, bermartabat dan berkelanjutan seutuhnya.

Bonus Demografi Indonesia akan berlangsung antara tahun 2012 – 2035. Menurut Badan Pusat Statistik 2011, jumlah anak usia 0-9 tahun mencapai 45,93 juta, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Mereka inilah anak-anak kader Generasi Emas 2045, yang harus mendapat pendidikan unggulan secara sungguh-sungguh. Jangan sampai berbalik menjadi bencana demografi membebani Indonesia. Kelompok anak usia dini 0-9 tahun merupakan masa keemasan (the golden age) seorang anak, menjadi periode yang sangat penting dalam perkembangan fisik dan mental seorang manusia.

Pembebanan pembelajaran pada baca, tulis hitung (calistung) maupun Ujian Nasional (UNAS) bagi anak didik usia emas, nampaknya justru tidak menjadikan anak didik menjadi insan pembelajar yang baik. Anak didik justru tertekan, mengambil jalan pintas, curang, korupsi, orientasi nilai, kehilangan substansi dan integritas. Anak didik menjadi terpisahkan dengan nilai budaya dan kemanusiaan, sehingga menganggap pelajaran di sekolah sebagai momok yang berat, sulit, menakutkan, menjemukan, jenuh, membosankan namun menjadi kewajiban yang harus dipaksakan. Anak didik menjadi mudah tergoda untuk bermain, game, entertainment, permainan dengan teknologi canggih yang menyenangkan, sesuai selera, mengerti kebutuhan, serasa menyatu dalam kehidupan dan membikin ketagihan anak. Demikian juga perploncoan pada awal pembelajaran justru menjadikan individu yang pendendam, suka kekerasan, ego, tidak tepo sliro, bahkan ketika sudah menjadi pemimpin bangsa saat inipun justru semakin arogan dan mau menangnya sendiri.

Siswa usia emas di Jepang lebih banyak diajari etika, moral, budaya, kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab,  sesuai dengan perkembangan anak, tanpa beban berat pelajaran calistung. Tidak ada tes ujian dari tingkat pertama sampai tingkat ke tiga (setara SD kelas 1 sampai SD Kelas 3), karena tujuan pendidikan adalah untuk menanamkan konsep dan pembentukan karakter, bukan hanya tes dan indoktrinasi.Pelajar adalah masa depan Jepang, sehingga dipersiapkan dengan matang. Finlandia menduduki rangking pertama dalam Global Education Rank  sedunia justru karena sistem pendidikan yang mengharuskan sekolah tidak lama dan tidak ada pekerjaan rumah. Namun selalu dengan pemaknaan pada setiap proses pembelajaran.

Menurut Rossabeth Moss Kanter, generasi masa depan akan didominasi oleh nilai-nilai dan pemikiran cosmopolitan, sehingga dituntut memiliki 4C yaitu: concept, competence, connection, dan confidence. Untuk melahirkan para inspirator, inisiator, motivator, dan organisator bangsa yang kompeten. Thomas J. Stanley menunjukkan bahwa dari 100 faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang, IQ hanya diurutan ke-21, bersekolah di sekolah favourite diurutan ke-23, dan lulus dengan nilai terbaik/hampir terbaik cuma faktor sukses diurutan ke-30. Sementara 10 faktor pertama utama adalah: jujur, disiplin, trampil, dukungan keluarga, kerja keras, mencintai pekerjaan, kepemimpinan, semangat & berkepribadian kompetitif, pengelolaan kehidupan, dan kemampuan menjual gagasan & produk.

Indonesia harus melakukan restorasi (pembaharuan, revolusi) pendidikan dengan menemu kenali kembali pada “khithah” sistem pendidikan nasional yang tepat. Yang berakar kuat pada nilai religious dan budaya leluhur nasional sendiri dengan reformulasi kekinian, mengacu pada sistem pendidikan yang menyenangkan  (edu-tainment) yang mementingkan nilai budaya dan kemanusiaan. Sebagaimana yang telah diterapkan oleh Ki Hadjar Dewantara (KHD) saat mendirikan Perguruan Taman Siswa tahun 1922 di Yogyakarta. Karena kesenian nasional dapat menanamkan benih atau bekal budi pekerti (watak atau tabiat) yang akan merapatkan jiwa anak pada kebangsaannya. Sedangkan dengan pelajaran kesenian, kita bisa membentuk jiwa dan raga anak, sehingga kelak akan mencapai derajat manusia utama serta dapat menyusun perikehidupan yang pantas dalam masyarakat yang akan dipikul bersama sama oleh mereka sekalian.

Dalam sistem Tri Pusat Pendidikan KHD , yang utama justru lingkungan keluarga, yang berperan besar dalam meletakkan dasar-dasar budi pekerti, watak, karakter anak. Jadi tidak bisa ditinggalkan hanya dengan alasan apapun, seperti tidak sempat, sibuk dsb. Lingkungan sekolah, berperan melejitkan ‘kebaikan’ anak, membimbing perubahan ‘nature ke culture’ nya anak sesuai kodratnya, sekaligus mereduksi, meredupkan, mengaburkan watak-watak buruk bawaan akibat pengaruh di keluarga maupun di lingkungan sekitarnya (seperti merokok, suka ‘misuh’, emosian/temperamental dll). Inilah mengapa posisi sekolah berada di tengah-tengah antara keluarga & lingkungan. Fungsinya juga menyiapkan sang anak agar mampu secara merdeka dalam arti mandiri bertanggungjawab terhadap diri dan ketertiban sekitarnya, dalam bergabung dengan lingkungan sosialnya di manapun berada. Pada usia emas dini, pembiasaan jiwa anak akan ‘keindahan’ baik sikap, tutur kata, tindakan, keyakinan, pemikiran, impian, angan-angan akan banyak sekali menuntun mereka di usia dewasa. Basis pendidikan religious dan seni budaya akan mengasah hal ini secara hampir sempurna.

Sistem among yang harus dikembangkan adalah metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Dalam sikap Momong, Among, dan Ngemong, terkandung nilai yang sangat mendasar, yaitu pendidikan tidak memaksa namun bukan berarti membiarkan anak berkembang bebas tanpa arah. Metode Among mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan kasih sayang. Menjadi manusia merdeka yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati nilai kemanusiaan setiap orang. Sesuai dengan petuah Ki Hadjar “educate the head, the heart, and the hand”.

Pengetahuan & kepandaian hanya sekedar alat, buah pendidikan adalah matangnya jiwa, yang dapat mewujudkan hidup & penghidupan yang tertib & suci serta bermanfaat bagi orang lain. Tembang, Lagu dan Gerak dalam metode pendidikan anak mampu menstimulus anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Tantangan dunia di era digital ini, anak-anak akan semakin berjarak dengan lingkungannya. Mari kita menjulangkan prestasi tinggi dengan kembali pada metode pembelajaran yang berakar kuat pada nilai religious dan budaya leluhur.

Sumber: http://acahyono.staff.ugm.ac.id/2016/05/wacana-pendidikan-untuk-generasi-emas-oleh-prof-dr-cahyono-agus.html

Silabus Matakuliah Metodologi Studi Islam

Metodologi Studi Islam merupakan mata kuliah yang signifikan bagi pengembangan wawasan dan skill mahasiswa dalam konteks metodologis. Dalam mata kuliah ini diberikan penekanan (stressing) mengenai urgensi, potensi, dan peranan Islam sebagai suatu sistem kehidupan dan berbagai dimensi pendekatan dalam studi Islam serta aspek-aspek pemikiran Islam secara integral.
Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan wawasan mengenai urgensi studi Islam dan berbagai permasalahannya, kedudukan dan fungsi agama dalam kehidupan, dan pengkajian Islam dalam berbagai dimensi dan aspeknya secara optimal.

Ajaran Islam untuk Membongkar Penindasan Sosial

Sebagai rahmatan lil alamin, apakah Islam dirasakan oleh seluruh makhluk di bumi ini? Jangan jauh-jauh, apakah pada masa kini Islam telah memberikan “rahmat” pada perempuan? Para feminis sangat pesimistis dengan agama di mana patriarki terjaga sempurna.
Saya merumuskan tiga hal yang menghambat suara perempuan dalam arus pemikiran dan dakwah Islam di Indonesia yang sunyi senyap dan kurang bergairah ini. Pertama, kurangnya pemikiran Islam Transformatif yang menyentuh ketertindasan perempuan. Kedua, suara perempuan yang membeodan mereproduksi tatanan sosial yang sama. Ketiga, penjegalan suara perempuan akibat pemisahan gender.
Penjelasan poin pertama detailnya begini. Kurangnya pemikiran tentang Islam Transformatif yang dirumuskan Kuntowijoyo sebagai upaya pembaharuan tatanan sosial yang lebih adil tidak pernah terasa hingga sekarang, sejak gelombang Islamisasi tahun 1970-an yang dimotori oleh Nurcholis Madjid dan kawan-kawan. Islam tetap mereproduksi tatanan sosial yang membuat perempuan tetap menjadi manusia kelas dua.
Perang wacana Islam di di Indonesia terpolarisasi antara pemahaman konservatif dan pro-demokrasi. Polarisasi ini seksama tapi tidak memberikan sumbangan apa pun kepada perempuan, justru lebih menekankan pada apologetik Islam dan lagi-lagi legitimasi untuk perempuan tetap berada dalam struktur yang telah ada.
Jikalau sudah banyak upaya reformasi pemikiran dan tafsir-tafsir lebih ramah perempuan, suara dari tafsir dan pemikiran tersebut kalah dan dibungkam dalam wacana perdebatan pemikiran Islam yang sayup ini. Pemikiran Islam terbawa pada isu pencegahan radikalisme dan upaya untuk menunjukkan pada dunia internasional bahwa Indonesia tidak mereproduksi Islam yang marah dan suka perang sebagai tandingan wacana Islam Timur Tengah.
Terkait poin kedua ihwal suara perempuan dalam dakwah Islam kini hanya “membeo” dari struktur sosial yang menindas dirinya. Ustadzah-ustadzah perempuan tidak bicara tentang pengalaman perempuan sebagai makhluk bebas dan sadar tetapi mendengungkan kembali posisi perempuan dalam struktur masyarakat. Menjadikan relasi ketertindasan perempuan yang resiprokal dan kompleks terhadap laki-laki yang berdasarkan relasi kehidupan.
Perempuan sebagai partner, perempuan yang setara dengan ribuan kata tapi…Dan legitimasi yang digunakan adalah tafsir ulama laki-laki yang tentu saja ketinggalan zaman. Ilmu keislaman yang diserap oleh para pendakwah ini bukan Islam yang berasal dari suara perempuan seperti Asma Barlas, Fatimah Merrisi ataupun Aminah Wadud. Perempuan yang mampu bersuara, menyuarakan suara laki-laki yang mengharapkan perempuan tetap di tempatnya, dan bahkan pembicaraan ini hanya terdapat pada perbincangan dengan pendengar sesama perempuan itu sendiri.
Dan yang terakhir adalah pemisahan ruang gerak yang menutup ruang bagi perempuan untuk berbicara. Pemikiran perempuan tidak diangkat karena ada stigma bahwa perempuan tidak bisa rasional dan agama bukan sesuatu yang pantas untuk dibuat menjadi “rasional”. Karenanya, lagi-lagi, walaupun perempuan bisa berpikir dan berbicara, ruang mereka untuk berbicara dipisah, dan buah pengetahuan mereka tidak dipercaya.
Dan saya menggunakan analogi putri duyung dalam pembungkaman perempuan pada ranah agama ini. Ketika muncul kesempatan perempuan untuk berbicara ketika mereka sudah bisa masuk ruang publik, mereka menjadi putri duyung yang berhasil menukar ekornya dengan sepasang kaki, tapi tetap tak bisa bicara tentang apa yang telah menimpa dirinya, segala usahanya. Tapi bukan hanya karena putri duyung bisu, tapi tidak ada laki-laki yang mau mendengarkan ceritanya.


Sumber: https://geotimes.co.id/kolom/agama/islam-dan-transformasi-sosial-bagi-perempuan/

Referensi Tambahan
Haynes, J. (2015). Religion in Global Politics: Explaining Deprivatization. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 3(2), 199-216.
Idris, S & Tabrani, Z. A. (2017). Realitas Konsep Pendidikan Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling3(1), 96-113.
Lvina, E. (2015). The Role of Cross-Cultural Communication Competence: Effective Transformational Leadership Across Cultures. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 3(1), 1-18.
Musradinur & Tabrani. ZA. (2015). Paradigma Pendidikan Islam Pluralis Sebagai Solusi Integrasi Bangsa (Suatu Analisis Wacana Pendidikan Pluralisme Indonesia). Proceedings 1st Annual International Seminar on Education 2015. Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press, 77-86
Muttaqin, F. (2015). Early Feminist Consciousness and Idea Among Muslim Women in 1920s Indonesia. Jurnal Ilmiah Peuradeun3(1), 19-38.
Tabrani. ZA & Hayati. (2013). Buku Ajar Ulumul Qur`an (1). Yogyakarta: Darussalam Publishing, kerjasama dengan Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh
Tabrani. ZA & Masbur, M. (2016). Islamic Perspectives on the Existence of Soul and Its Influence in Human Learning (A Philosophical Analysis of the Classical and Modern Learning Theories). Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling1(2), 99-112.
Tabrani. ZA. (2008). Mahabbah dan Syariat. Selangor: Al-Jenderami Press
Tabrani. ZA. (2009). Ilmu Pendidikan Islam (Antara Tradisional dan Modern). Selangor: Al-Jenderami Press
Tabrani. ZA. (2011). Dynamics of Political System of Education Indonesia. International Journal of Democracy, 17(2), 99-113
Tabrani. ZA. (2011). Nalar Agama dan Negara dalam Perspektif Pendidikan Islam. (Suatu Telaah Sosio-Politik Pendidikan Indonesia). Millah Jurnal Studi Agama, 10(2), 395-410
Tabrani. ZA. (2011). Pendidikan Sepanjang Abad (Membangun Sistem Pendidikan Islam di Indonesia Yang Bermartabat). Makalah disampaikan pada Seminar Nasional 1 Abad KH. Wahid Hasyim. Yogyakarta: MSI UII, April 2011.
Tabrani. ZA. (2012). Future Life of Islamic Education in Indonesia. International Journal of Democracy, 18(2), 271-284
Tabrani. ZA. (2012). Hak Azazi Manusia dan Syariat Islam di Aceh. Makalah disampaikan pada International Conference Islam and Human Right, MSI UII April 2012, 281-300
Tabrani. ZA. (2013). Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Satuan Pendidikan Keagamaan Islam (Tantangan Terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah), Jurnal Ilmiah Serambi Tarbawi, 1(2), 65-84
Tabrani. ZA. (2013). Modernisasi Pendidikan Islam (Suatu Telaah Epistemologi Pendidikan), Jurnal Ilmiah Serambi Tarbawi, 1(1), 65-84
Tabrani. ZA. (2013). Pengantar Metodologi Studi Islam. Banda Aceh: SCAD Independent
Tabrani. ZA. (2013). Urgensi Pendidikan Islam dalam Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Sintesa, 13(1), 91-106
Tabrani. ZA. (2014). Buku Ajar Filsafat Umum. Yogyakarta: Darussalam Publishing, kerjasama dengan Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh
Tabrani. ZA. (2014). Buku Ajar Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Bahan Ajar untuk Mahasiswa Program Srata Satu (S-1) dan Program Profesi Keguruan (PPG)). Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press
Tabrani. ZA. (2014). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Darussalam Publishing
Tabrani, Z. A. (2014). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kualitatif.
Tabrani. ZA. (2014). Islamic Studies dalam Pendekatan Multidisipliner (Suatu Kajian Gradual Menuju Paradigma Global). Jurnal Ilmiah Peuradeun2(2), 127-144.
Tabrani. ZA. (2014). Isu-Isu Kritis dalam Pendidikan Islam. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 13(2), 250-270
Tabrani. ZA. (2014). Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Qur`an dengan Pendekatan Tafsir Maudhu`i. Jurnal Ilmiah Serambi Tarbawi, 2(1), 19-34
Tabrani. ZA. (2015). Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak
Tabrani. ZA. (2015). Keterkaitan Antara Ilmu Pengetahuan dan Filsafat (Studi Analisis atas QS. Al-An`am Ayat 125). Jurnal Sintesa, 14(2), 1-14
Tabrani. ZA. (2015). Persuit Epistemologi of Islamic Studies (Buku 2 Arah Baru Metodologi Studi Islam). Yogyakarta: Penerbit Ombak
Tabrani. ZA. (2016). Aliran Pragmatisme dan Rasionalisasinya dalam Pengembangan Kurikulum 2013, dalam Saifullah Idris (ed.), Pengembangan Kurikulum: Analisis Filosofis dan Implikasinya dalam Kurikulum 2013, Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press 2016
Tabrani. ZA. (2016). Perubahan Ideologi Keislaman Turki (Analisis Geo-Kultur Islam dan Politik Pada Kerajaan Turki Usmani). Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling2(2), 130-146.
Tabrani. ZA. (2016). Transpormasi Teologis Politik Demokrasi Indonesia (Telaah Singkat Tentang Masyarakat Madani dalam Wacana Pluralisme Agama di Indonesia). Al-Ijtima`i- International Journal of Government and Social Science, 2(1), 41-60
Walidin, W., Idris, S & Tabrani. ZA. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif dan Grounded Theory. Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press
Vohra, S. (2015). The Practice of Dowry in the Perspective of Hinduism In India. Jurnal Ilmiah Peuradeun3(3), 363-370.


Revolusi Islam dan Peningkatan Posisi Perempuan

Perempuan adalah separuh dari masyarakat manusia dan salah satu dari dua unsur pembentuk ikatan keluarga. Melihat sekilas pada sejarah dunia membuktikan bahwa dalam banyak masyarakat, perempuan menghadapi keterbatasan dan  hak-hak mereka yang ternistakan. Hal itu bersumber dari perspektif ekstrim terhadap perempuan.
Menurut pandangan itu, perempuan adalah gender tingkat kedua serta tidak memiliki nilai unggul. Sebagai reaksi dari pandangan tersebut muncul gerakan dan pandangan feminisme yang ingin menebus ketertinggalan dan kerugian serta kezaliman terhadap kaum perempuan di masa lalu. Namun sayangnya, gerakan itu dalam banyak hal melangkah terlalu berlebihan bahkan hendak menghapus semua perbedaan esensial antara perempuan dan laki-laki.
 Agama Islam, memiliki perspektif yang proporsional terkait perempuan dan juga posisinya. Perspektif Islam dalam masalah perempuan jauh dari berlebih-lebihan dan bahkan perbedaan dzat antara perempuan dan laki-laki dinilai sebagai elemen penting bagi perkembangan dan kesempurnaan manusia. Menurut Islam, perempuan dan laki-laki memiliki posisi yang sama, akan tetapi berbeda dari sisi kekuatan fisik dan afeksi. Oleh karena itu, karakter dan hak mereka juga berbeda.
Menurut filsuf Iran, Murtadha Mutahhari: “Perempuan dan laki-laki adalah dua bintang pada dua orbit yang berbeda, keduanya harus bergerak pada poros masing-masing ... kunci kebahagiaan perempuan dan laki-laki dan pada hakikatnya umat manusia adalah jika keduanya bergerak pada poros masing-masing. Ketika itu kebebasan dan kesamaan akan bermanfaat di mana tidak ada satu pun yang keluar dari poros dan jalur alami dan fitrahnya.” Pada masa ketika sejumlah masyarakat khususnya bangsa Arab badui, menistakan hak-hak primer perempuan yaitu hak untuk hidup, Islam datang dengan ajaran-ajaran langit yang mengangkat kembali posisi dan hak perempuan sebagai manusia mulia.
Di Republik Islam Iran, kaum perempuan memiliki posisi tinggi, penting dan keunggulan khusus. Sejak dahulu, masyarakat Iran khususnya pasca masuknya Islam ke persada Persia ini, kaum perempuan memiliki posisi terhormat. Meski demikian posisi politik dan sosial perempuan dalam masyarakat, mengalami fluktuasi  sesuai dengan kemunculan dan keruntuhan berbagai pemerintahan.
Sebagai contoh, sebelum kemenangan Revolusi Islam, perempuan menjadi alat dan produk yang disalahgunakan, akibat politik budaye rezim berkuasa. Imam Khomeini ra. menyamakan kondisi perempuan di era rezim Shah Pahlevi sama seperti era jahiliyah. Karena di era jahiliyah, posisi spiritual perempuan dinistakan sehingga sampai menjadikan perempuan sebagai produk.
Perspektif rezim Pahlevi terkait perempuan sama seperti pola pandangan Barat dan tidak terikat dengan nilai-nilai, tuntutan agama dan identitas nasional. Kebebasan perempuan hanya demi mengesankan Iran mirip dengan Barat. Dengan kata lain, rezim Pahlevi berusaha agar perempuan Iran berubah seperti perempuan Barat.
Pada masa itu, rezim Pahlevi melakukan berbagai proyek perubahan dengan melemahkan nilai-nilai agama dan tradisional dalam masyarakat. Imbasnya adalah perluasan kefasadan khususnya di kota-kota besar. Oleh karena itu, kaum perempuan Iran yang berkomitmen dengan nilai-nilai Islam serta menentang politik dan program anti-agama rezim, menolak untuk berpartisipasi di sektor politik, sosial dan ekonomi. Pada akhirnya mereka terkucilkan.
Kaum perempuan memainkan peran penting dalam berbagai transformasi politik dan sosial. Salah satu dimensi lain dari keunggulan Revolusi Islam Iran adalah partisipasi kaum Muslimah di berbagai sektor. Kaum perempuan memiliki peran determinan dalam kemenangan Revolusi Islam tahun 1979. Mereka memiliki posisi penting dalam berbagai transformasi budaya dan sosial pasca Revolusi Islam.
Doktor Paul Spracman, penulis dan penerjemah Amerika Serikat dalam hal ini mengatakan, “... dalam berapa kali kunjungan ke Iran, saya menyaksikan berbagai aktivitas luas kaum perempuan Iran dalam masyarakat... saya berpendapat bahwa kaum perempuan Iran lebih kuat dibanding kaum laki-laki.”
Menyusul Revolusi Islam di Iran, terjadi perubahan besar di seluruh persendian politik, sosial dan budaya masyarakat khususnya terkait masalah perempuan. Pasca Revolusi Islam, kaum perempuan dapat menikmati kembali hak-hak dan tugas mereka seperti yang tercantum dalam UUD yang berlandaskan ajaran agama Islam. Pada pasal 20 UUD Republik Islam Iran disebutkan, “Semua individu rakyat baik perempuan dan laki-laki adalah sama mendapat perlindungan hukum dan memiliki semua hak kemanusiaan, politik, ekonomi, sosial dan budaya dengan tetap menjaga ketentuan dalam Islam.” Begitu juga pada pasal 21 UUD Iran disebutkan bahwa pemerintah diwajibkan untuk menjamin hak materi, spiritual, individual dan sosial kaum perempuan dari semua sisi dengan menjaga ketentuan agama Islam.
Munculnya Revolusi Islam di Iran membawa perubahan baru dalam perspektif terhadap kaum perempuan. Revolusi Islam bukan hanya menciptakan perubahan mental dan pemikiran kaum perempuan, melainkan juga menciptakan atmosfer budaya yang proporsional bagi partisipasi lebih luas kaum perempuan dalam masyarakat. Saat ini, selain peningkatan akademik kaum perempuan Iran, motivasi belajar dan juga tingkat keberhasilan perempuan di berbagai sektor ilmiah juga semakin pesat.
Tercatat lebih dari 68 persen kapasitas pendidikan tinggi di Iran diisi oleh perempuan. Jumlah perempuan yang melek huruf di Iran di era sebelum Revolusi yang mencapai 34 persen, melejit hingga 80 persen pada tahun-tahun pasca Revolusi Islam. Berdasarkan laporan UNESCO pada 2012, Republik Islam Iran termasuk di antara enam negara terkemuka di dunia di bidang kemerataan akses pendidikan untuk perempuan dan laki-laki.
Selain itu, menyusul penekanan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, soal gerakan produksi ilmu pengetahuan di Iran, disaksikan pula pemekaran potensi para perempuan kreatif Iran dan partisipasi mereka di olimpiade ilmiah dunia. Pertumbuhan dan peningkatan partisipasi perempuan Iran di berbagai bidang ilmiah dan teknologi serta pematenan karya dan kreasi mereka, juga terobosan baru di bidang teknologi nano, energi nuklir, antariksa dan lain-lain, adalah bagian dari seluruh capaian perempuan Iran selama bertahun-tahun pasca Revolusi Islam.
Sekarang, perempuan Iran dengan mudah menikmati hak-hak mereka seperti hak memberikan suara dalam pemilu, menjadi pegawai pemerintah dan bahkan menjabat posisi penting dan sesuai di sejumlah bidang. Sementara di sejumlah negara, kondisi kaum perempuan masih terpaut jauh dari kondisi ideal.
Salah satu faktor peningkatan posisi kaum perempuan Iran pasca Revolusi Islam adalah perspektif positif para pemimpin Revolusi Islam khususnya Imam Khomeini yang menekankan peran penting perempuan di berbagai aktivitas politik-sosial. Oleh sebab itu, pasca Revolusi Islam, masalah penjagaan dan peningkatan nilai terhormat kaum perempuan di sektor individu maupun sosial sangat ditekankan. (IRIB Indonesia)

Sumber: http://indonesian.irib.ir/22-bahman/item/91565-revolusi-islam-dan-peningkatan-posisi-perempuan

Referensi Tambahan
Haynes, J. (2015). Religion in Global Politics: Explaining Deprivatization. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 3(2), 199-216.
Idris, S & Tabrani, Z. A. (2017). Realitas Konsep Pendidikan Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling3(1), 96-113.
Lvina, E. (2015). The Role of Cross-Cultural Communication Competence: Effective Transformational Leadership Across Cultures. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 3(1), 1-18.
Musradinur & Tabrani. ZA. (2015). Paradigma Pendidikan Islam Pluralis Sebagai Solusi Integrasi Bangsa (Suatu Analisis Wacana Pendidikan Pluralisme Indonesia). Proceedings 1st Annual International Seminar on Education 2015. Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press, 77-86
Muttaqin, F. (2015). Early Feminist Consciousness and Idea Among Muslim Women in 1920s Indonesia. Jurnal Ilmiah Peuradeun3(1), 19-38.
Tabrani. ZA & Hayati. (2013). Buku Ajar Ulumul Qur`an (1). Yogyakarta: Darussalam Publishing, kerjasama dengan Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh
Tabrani. ZA & Masbur, M. (2016). Islamic Perspectives on the Existence of Soul and Its Influence in Human Learning (A Philosophical Analysis of the Classical and Modern Learning Theories). Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling1(2), 99-112.
Tabrani. ZA. (2008). Mahabbah dan Syariat. Selangor: Al-Jenderami Press
Tabrani. ZA. (2009). Ilmu Pendidikan Islam (Antara Tradisional dan Modern). Selangor: Al-Jenderami Press
Tabrani. ZA. (2011). Dynamics of Political System of Education Indonesia. International Journal of Democracy, 17(2), 99-113
Tabrani. ZA. (2011). Nalar Agama dan Negara dalam Perspektif Pendidikan Islam. (Suatu Telaah Sosio-Politik Pendidikan Indonesia). Millah Jurnal Studi Agama, 10(2), 395-410
Tabrani. ZA. (2011). Pendidikan Sepanjang Abad (Membangun Sistem Pendidikan Islam di Indonesia Yang Bermartabat). Makalah disampaikan pada Seminar Nasional 1 Abad KH. Wahid Hasyim. Yogyakarta: MSI UII, April 2011.
Tabrani. ZA. (2012). Future Life of Islamic Education in Indonesia. International Journal of Democracy, 18(2), 271-284
Tabrani. ZA. (2012). Hak Azazi Manusia dan Syariat Islam di Aceh. Makalah disampaikan pada International Conference Islam and Human Right, MSI UII April 2012, 281-300
Tabrani. ZA. (2013). Kebijakan Pemerintah dalam Pengelolaan Satuan Pendidikan Keagamaan Islam (Tantangan Terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah), Jurnal Ilmiah Serambi Tarbawi, 1(2), 65-84
Tabrani. ZA. (2013). Modernisasi Pendidikan Islam (Suatu Telaah Epistemologi Pendidikan), Jurnal Ilmiah Serambi Tarbawi, 1(1), 65-84
Tabrani. ZA. (2013). Pengantar Metodologi Studi Islam. Banda Aceh: SCAD Independent
Tabrani. ZA. (2013). Urgensi Pendidikan Islam dalam Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Sintesa, 13(1), 91-106
Tabrani. ZA. (2014). Buku Ajar Filsafat Umum. Yogyakarta: Darussalam Publishing, kerjasama dengan Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh
Tabrani. ZA. (2014). Buku Ajar Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Bahan Ajar untuk Mahasiswa Program Srata Satu (S-1) dan Program Profesi Keguruan (PPG)). Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press
Tabrani. ZA. (2014). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Darussalam Publishing
Tabrani. ZA. (2014). Islamic Studies dalam Pendekatan Multidisipliner (Suatu Kajian Gradual Menuju Paradigma Global). Jurnal Ilmiah Peuradeun2(2), 127-144.
Tabrani. ZA. (2014). Isu-Isu Kritis dalam Pendidikan Islam. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 13(2), 250-270
Tabrani. ZA. (2014). Menelusuri Metode Pendidikan dalam Al-Qur`an dengan Pendekatan Tafsir Maudhu`i. Jurnal Ilmiah Serambi Tarbawi, 2(1), 19-34
Tabrani. ZA. (2015). Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak
Tabrani. ZA. (2015). Keterkaitan Antara Ilmu Pengetahuan dan Filsafat (Studi Analisis atas QS. Al-An`am Ayat 125). Jurnal Sintesa, 14(2), 1-14
Tabrani. ZA. (2015). Persuit Epistemologi of Islamic Studies (Buku 2 Arah Baru Metodologi Studi Islam). Yogyakarta: Penerbit Ombak
Tabrani. ZA. (2016). Aliran Pragmatisme dan Rasionalisasinya dalam Pengembangan Kurikulum 2013, dalam Saifullah Idris (ed.), Pengembangan Kurikulum: Analisis Filosofis dan Implikasinya dalam Kurikulum 2013, Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press 2016
Tabrani. ZA. (2016). Perubahan Ideologi Keislaman Turki (Analisis Geo-Kultur Islam dan Politik Pada Kerajaan Turki Usmani). Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling2(2), 130-146.
Tabrani. ZA. (2016). Transpormasi Teologis Politik Demokrasi Indonesia (Telaah Singkat Tentang Masyarakat Madani dalam Wacana Pluralisme Agama di Indonesia). Al-Ijtima`i- International Journal of Government and Social Science, 2(1), 41-60
Walidin, W., Idris, S & Tabrani. ZA. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif dan Grounded Theory. Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press
Vohra, S. (2015). The Practice of Dowry in the Perspective of Hinduism In India. Jurnal Ilmiah Peuradeun3(3), 363-370.