Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif

 Oleh: Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M. Si

Salah satu pertanyaan penting dan sering muncul dari para peneliti dan mahasiswa yang sedang melakukan penelitian adalah masalah triangulasi. Banyak yang masih belum memahami  makna dan  tujuan tiangulasi dalam penelitian, khususnya penelitian kualitatif. Karena kurangnya pemahaman itu, sering kali muncul persoalan tidak saja antara mahasiswa dan dosen dalam proses pembimbingan, tetapi juga antar dosen pada saat menguji skripsi, tesis, dan  disertasi.  Hal ini tidak akan terjadi jika masing-masing memiliki pemahaman yang cukup mengenai triangulasi. Umumnya pertanyaan berkisar apakah triangulasi perlu dalam penelitian dan jika perlu, bagaimana melakukannya. Berikut uraian ringkasnya yang disari dari berbagai sumber dan pengalaman penulis selama ini.

Triangulasi pada hakikatnya merupakan pendekatan multimetode yang dilakukan peneliti pada saat mengumpulkan  dan menganalisis data. Ide dasarnya adalah bahwa fenomena yang diteliti dapat dipahami dengan baik sehingga diperoleh kebenaran tingkat tinggi jika didekati dari berbagai sudut pandang. Memotret fenomena tunggal dari sudut pandang yang berbeda-beda akan memungkinkan diperoleh tingkat kebenaran yang handal.  Karena itu, triangulasi ialah usaha mengecek kebenaran data atau informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara mengurangi sebanyak  mungkin bias  yang terjadi pada saat pengumpulan dan analisis data.

Sebagaimana diketahui dalam penelitian kualitatif peneliti itu sendiri  merupakan instrumen utamanya. Karena itu, kualitas penelitian kualitatif sangat tergantung pada kualitas diri penelitinya, termasuk pengalamannya melakukan penelitian merupakan sesuatu yang sangat berharga. Semakin banyak pengalaman seseorang dalam melakukan penelitian, semakin peka memahami gejala atau fenomena yang diteliti. Namun demikian, sebagai manusia, seorang peneliti sulit terhindar dari bias atau subjektivitas. Karena itu, tugas peneliti mengurangi semaksimal mungkin bias yang terjadi agar diperoleh kebenaran utuh. Pada titik ini para penganut kaum positivis meragukan tingkat ke’ilmiah’an  penelitan kualitatif. Malah ada yang secara  ekstrim menganggap penelitian kualitatif tidak ilmiah.

Sejarahnya, triangulasi merupakan teknik yang dipakai untuk melakukan survei dari tanah daratan dan laut untuk menentukan  satu titik tertentu  dengan menggunakan beberapa cara yang berbeda. Ternyata teknik semacam ini terbukti mampu mengurangi bias dan kekurangan yang diakibatkan oleh pengukuran dengan satu metode atau cara saja. Pada masa 1950’an hingga 1960’an, metode tringulasi tersebut mulai dipakai  dalam penelitian kualitatif sebagai cara untuk meningkatkan pengukuran validitas dan memperkuat kredibilitas temuan penelitian dengan cara membandingkannya dengan  berbagai pendekatan yang berbeda.

Karena menggunakan terminologi dan cara yang mirip dengan model paradigma positivistik (kuantitatif), seperti pengukuran dan validitas, triangulasi mengundang perdebatan cukup panjang di antara para ahli penelitian kualitatif sendiri. Alasannya, selain mirip dengan cara dan metode penelitian kuantitatif, metode yang berbeda-beda memang dapat dipakai untuk mengukur aspek-aspek yang berbeda, tetapi toh juga akan menghasilkan data yang berbeda-beda pula. Kendati terjadi perdebatan sengit, tetapi seiring dengan perjalanan waktu, metode triangulasi semakin lazim dipakai dalam penelitian kualitatif karena terbukti mampu mengurangi bias dan meningkatkan kredibilitas penelitian.

Dalam berbagai karyanya,  Norman K. Denkin  mendefinisikan triangulasi sebagai gabungan atau kombinasi berbagai metode yang dipakai untuk mengkaji fenomena yang saling terkait dari sudut pandang dan perspektif yang berbeda. Sampai saat ini, konsep Denkin ini dipakai oleh para peneliti kualitatif di berbagai bidang. Menurutnya, triangulasi meliputi empat hal, yaitu: (1)  triangulasi metode, (2) triangulasi antar-peneliti (jika penelitian dilakukan dengan kelompok), (3) triangulasi sumber data, dan (4) triangulasi teori. Berikut penjelasannya.

1. Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau data  dengan cara yang berdeda. Sebagaimana dikenal, dalam penelitian kualitatif peneliti menggunakan metode wawancara, obervasi, dan survei. Untuk memperoleh kebenaran informasi yang handal dan gambaran yang utuh mengenai informasi tertentu, peneliti bisa menggunakan metode wawancara bebas dan wawancara terstruktur. Atau, peneliti menggunakan wawancara dan obervasi atau pengamatan untuk mengecek kebenarannya. Selain itu, peneliti juga bisa menggunakan informan yang berbeda untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Melalui berbagai perspektif atau pandangan diharapkan diperoleh hasil yang mendekati kebenaran. Karena itu, triangulasi tahap ini dilakukan jika data atau informasi yang diperoleh dari subjek atau informan penelitian diragukan kebenarannya. Dengan demikian, jika data itu sudah jelas, misalnya berupa teks atau naskah/transkrip film, novel dan sejenisnya, triangulasi tidak perlu dilakukan. Namun demikian, triangulasi aspek lainnya tetap dilakukan.

2. Triangulasi antar-peneliti dilakukan dengan cara menggunakan lebih dari satu orang dalam pengumpulan dan analisis data. Teknik ini diakui memperkaya khasanah pengetahuan mengenai informasi yang digali dari subjek penelitian. Tetapi perlu diperhatikan bahwa orang yang diajak menggali data itu harus yang telah memiliki pengalaman penelitian dan  bebas dari konflik kepentingan agar tidak justru merugikan peneliti dan melahirkan bias baru dari triangulasi.

3. Triangulasi sumber data adalah menggali kebenaran informai tertentu melalui berbagai metode dan sumber perolehan data. Misalnya, selain melalui wawancara dan observasi, peneliti bisa menggunakan observasi terlibat (participant obervation), dokumen tertulis, arsif, dokumen sejarah, catatan resmi, catatan atau tulisan  pribadi dan gambar atau foto. Tentu masing-masing cara  itu akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda, yang selanjutnya akan memberikan pandangan (insights) yang berbeda pula mengenai fenomena yang diteliti. Berbagai pandangan itu akan melahirkan keluasan pengetahuan untuk memperoleh kebenaran handal.

4. Terakhir adalah triangulasi teori. Hasil akhir penelitian kualitatif berupa sebuah rumusan informasi atau thesis statement.  Informasi tersebut selanjutnya dibandingkan dengan perspektif teori yang televan untuk menghindari bias individual peneliti atas temuan atau kesimpulan yang dihasilkan. Selain itu, triangulasi teori dapat meningkatkan kedalaman pemahaman asalkan peneliti mampu  menggali pengetahuan teoretik secara mendalam atas hasil analisis data yang telah diperoleh. Diakui tahap ini paling sulit sebab peneliti dituntut memiliki expert judgement ketika membandingkan temuannya dengan perspektif tertentu, lebih-lebih jika  perbandingannya  menunjukkan hasil yang jauh berbeda.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyatakan bahwa triangulasi menjadi sangat penting dalam penelitian kualitatif, kendati pasti menambah waktu dan biaya seta tenaga. Tetapi harus diakui bahwa triangulasi dapat meningkatkan kedalaman pemahaman peneliti baik mengenai fenomena yang diteliti maupun konteks di mana fenomena itu muncul. Bagaimana pun, pemahaman yang mendalam (deep understanding) atas fenomena yang diteliti  merupakan nilai yang harus diperjuangkan oleh setiap peneliti kualitatif. Sebab, penelitian kualitatif lahir untuk menangkap arti (meaning) atau memahami gejala, peristiwa, fakta, kejadian, realitas atau masalah tertentu mengenai peristiwa sosial dan kemanusiaan dengan kompleksitasnya secara mendalam, dan bukan untuk  menjelaskan (to explain) hubungan antar-variabel atau membuktikan hubungan sebab akibat atau korelasi dari suatu masalah tertentu. Kedalaman pemahaman akan diperoleh hanya jika data cukup kaya, dan berbagai perspektif digunakan untuk memotret sesuatu fokus masalah secara komprehensif. Karena itu, memahami dan menjelaskan jelas merupakan dua wilayah yang jauh berbeda. Selamat mencoba!

Sumber: https://www.uin-malang.ac.id/r/101001/triangulasi-dalam-penelitian-kualitatif.html

Review Artikel Jurnal dan Cara Melakukannya

Pandemi Covid-19 membuat beberapa kampus mengeluarkan kebijakan penggantian penelitian yang megharuskan terjun ke lapangan dengan penelitian dengan metode studi literatur atau review jurnal. Bagi mahasiswa S2 dan S3 rasanya kegiatan review jurnal terdengar tidak asing, namun bagi beberapa mahasiswa S1 kegiatan review jurnal masih terasa asing. Terlebih memang tidak semua kampus atau dosen memberikan tugas dalam bentuk review jurnal kepada mahasiswa S1. Pada beberapa mahasiswa khususnya mahasiswa S1 masih bingung atau bahkan tidak mengerti mengenai konsep dan cara melakukan review jurnal. Pengertian review jurnal sendiri secara umum merupakan kegiatan memberi ulasan terhadap sebuah artikel jurnal, merangkum dan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan artikel tersebut.

Agar lebih jelas pada artikel kali ini akan dijelaskan secara ringkas mengenai pengertian review jurnal dan bagaimana cara melakukannya.

Pengertian Review Jurnal

Review dalam bahasa indonesia berarti tinjauan atau meninjau. Review juga dapat berarti ulasan atau mengulas. Kegiatan review jurnal dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan menulis untuk memberikan ulasan/tinjauan pada sebuah artikel jurnal agar diketahui kelebihan, kekurangan, dan kualitasnya. Secara umum, review jurnal bertujuan untuk memberikan informasi, gambaran, ide/gagasan tentang artikel jurnal yang telah dibuat.

Writting Bee menjelaskan bahwa, review artikel merupakan teks yang memuat ringkasan penelitian tentang topik tertentu. Dapat juga diartikan sebagai rangkuman sekaliguas evaluasi dari tulisan orang lain. Kegiatan review jurnal bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai topik tertentu. Dengan adanya review dari sebuah artikel diharapkan pembaca dapat terbantu dalam memahami topik tanpa membaca seluruh isi buku.

Evaluasi logis dari tema utama, argumen pendukung dan implikasinya terhadap dokumen asli adalah isi dari sebuah review. Artikel hasil kegiatan review, tidak menyediakan penelitian baru sebab review artikel merupakan rangkuman dari dokumen asli. Namun, sebagai seorang yang me-review, kamu harus mempunyai cara untuk menanggapi penelitian yang ditinjau/diulas. Dalam kegiatan me-review, kamu akan mengevaluasi artikel lalu mengembangkan respon terhadap teori dan ide/gagasan yang digunakan dalam artikel tersebut.

The Australian International University menyebut ulasan sebuah artikel dapat terbantu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, yaitu:

  • 1.     Tujuan: Apa yang dilakukan dalam artikel ini?
  • 2.     Teori: Apakah ada kerangka teori eksplisit? Jika tidak, adakah asumsi teoretis yang penting?
  • 3.     Konsep: Apa konsep sentralnya? Apakah konsep tersebut didefinisikan dengan jelas?
  • 4.     Argumen: Apa argumen utamanya? Apakah ada hipotesis khusus?
  • 5.     Metode: Metode apa yang digunakan untuk menguji hipotesis tersebut?
  • 6.     Bukti: Apakah buktinya disediakan? Seberapa memadai bukti itu?
  • 7.     Nilai: Apakah posisi nilai jelas atau tersirat?
  • 8.     Sastra: Bagaimana karya ini cocok dengan literatur yang lebih luas?
  • 9.     Kontribusi: Seberapa baik penelitian memajukan pengetahuan kita tentang subjek?
  • 10.  Gaya: Seberapa jelas bahasa/gaya/ekspresi penulis?
  • 11.  Kesimpulan: Penilaian keseluruhan secara singkat

Cara Melakukan Review Jurnal

            Untuk memulai kegiatan review jurnal, bacalah secara sekilas artikel yang akan diulas. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui organisasi sebuah artikel, baca beberapa kali lalu buatlah semacam catatan atau komentar sepanjang proses pembacaan. Lebih lanjut, ada beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam mereview sebua artikel jurnal, yaitu:

1. Membaca Naskah Secara Aktif

        Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam membaca naskah, Pertama, Jika artikel hasil review yang kamu lakukan akan diterbitkan di sebuah jurnal, pahami panduan gaya publikasinya, periksa format dan pedoman gaya jurnal yang dituju tersebut. Hal ini akan membantu kamu terkait bagaimana mengevaluasi dan menyusun ulasan.

Kedua, membaca artikel untuk mengetahui organisasinya, lihatlah artikel jurnal yang akan direview dan ciba pahami logikanya. Bacalah judul, abstrak, dan heading, untuk mengetahui bagaimana susunan artikel. Lakukan skimming awal, untuk mengidentifikasi pertanyaan atau permasalahan yang dibahas di dalam artikel.

Ketiga, setelah selesai membaca sekilas, bacalah artikel secara keseluruhan untuk membangun kesan keseluruhan, identifikasi tesis artikel, argumen utama, dan garis bawahi di posisi yang dinyatakan dalam pendahuluan dan kesimpulan.

Keempat, teliti kembali bagian artikel bagian demi bagian. Gunakan margin tepi naskah untuk menulis catatan dan komentar.  Ketika proses membaca secara mendalam, analisis seberapa baik artikel tersebut menyelesaikan masalah utamanya. Jika perlu, tanyakan kepada diri kamu sendiri mengenai isi artikel, misalnya “apakah penelitian ini penting? Apakah penelitian ini memberikan kontribusi pada bidang yang diteliti?”. Di tahap ini, berikan catatan terkait setiap inkonsistensi terminologis, masalah organisasi, saltik, dan masalah format.

2. Mengevaluasi Artikel

            Kiat mengevaluasi artikel yang pertama adalah putuskan seberapa baik abstrak dan pengantar memetakan artikel. Tentukan seberapa baik abstrak merangkum artikel, masalah yang dibahas, teknik, hasil dan signifikansinya, pastikan pendahuluan memetakan struktur artikel, apakah artikel itu menggunakan dasar yang jelas atau tidak. pendahuluan yang baik memberikan kamu  gagasan yang jelas mengenai apa yang diharapkan  di bagian selanjutnya. Bisa jadi menyatakan masalah dan hipotesis, jelaskan metode penelitian secara singkat, lalu tentukan apakah percobaan membuktikan atau membantah hipotesis penelitian.

Kedua, evaluasi referensi/tinjauan pustaka yang digunakan di dalam artikel. Pastikan sumber rujukan yang digunakan berwibawa, seberapa baik tinjauan pustaka meringkas sumber, dan apakah sumber menempatkan artikel di bidang penelitian atau hanya menyebutkan nama-nama terkenal.

Ketiga, periksa metode penelitian yang digunakan. Pastikan metode yang digunakan merupakan metode yang tepat dan masuk akal untuk menyelesaikan masalah. Bandingkan dengan cara lain yang mungkin dapat digunakan untuk melakukan percobaan atau menyusun penyelidikan, catat setiap perbaikan yang dilakukan penulis.

Keempat, menilai bagaimana artikel menyajikan data dan hasil. Tentukan apakah tabel, gambar, diagram, dan alat bantu visual lainnya secara efektif mengatur informasi. Pastikan bagian hasil dan diskusi data dengan jelas merangkum dan menginterpretasikan data. Pastikan tabel dan gambar yang dicantumkan sesuai dan tidak berlebihan.

Kelima, mengevaluasi bukti dan analisis non-ilmiah. Khusus untuk artikel non-ilmiah, tentukan seberapa baik artikel menyajikan bukti yang mendukung argumennya. Pastikan bukti yang digunakan relevan dan secara meyakinkan menganalisis dan menafsirkan bukti.

Keenam, nilai gaya tulisan. Gaya penulisan artikel haruslah singkat, padat, dan benar. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai upaya mengevaluasi gaya penulisan kamu.

  • 1.     Apakah bahasanya jelas dan tidak ambigu, atau apakah jargon yang berlebihan mengganggu kemampuannya untuk membuat argumen?
  • 2.     Apakah ada tulisan yang terlalu bertele-tele? Bisakah ada ide yang dinyatakan dengan cara yang lebih sederhana?
  • 3.     Apakah tata bahasa, tanda baca, dan terminologi yang digunakan sudah benar?

3. Menulis Ulasan

            Tulislah ulasan kamu dengan tahapan berikut:

Pertama, garis besar ulasan kamu. Ambil kembali catatan dalam evaluasi bagian demi bagian. Buatlah semacam tesis, lalu uraikan bagaimana kamu bermaksud mendukung tesis dalam tubuh ulasan kamu. Ungkapkan contoh spesifik yang merujuk pada kekuatan dan kelemahan yang ada dalam catatan evaluasi kamu. Tesis dan bukti haruslah konstruktif dan bijaksana. Tunjukkan kekuatan maupun kelemahan, dan usulkan solusi alternatif lain alih-alih hanya berfokus pada kelemahan.

Kedua, tulis draft pertama ulasan kamu. Setelah melakukan tahap pertama selanjutnya tulis ulasan kamu. Tulislah ulasan berdasarkan pedoman publikasi kamu, jika belum ada biasanya bisa ditulis dengan mengikuti panduan umum: pendahuluan merangkum artikel dan menyatakan tesis, bandan memberikan contoh spesifik dari teks yang mendukung tesis kamu, dan kesimpulan yang merangkum ulasan kamu dengan menyatakan kembali tesis dan menawarkan saran untuk penelitian selanjutnya.

Ketiga, perbaiki draft ulasan kamu sebelum mengirimkannya. Sebelum mengirimkan naskah ulasan periksa kembali naskah ulasan artikel kamu. Pastikan tidak ada kesalahan pengetikan, tata bahasa, dan tanda baca. Baca kembali ulasan kamu dan posisikan kamu sebagai orang lain yang sedang membaca. Nilailah sendiri, naskah ulasan kamu, apakah kritiknya adil dan seimbang? Pastikan tulisanmu logis, ringkas, dan jelas. Hindari penulisan yang bertele—tele, jika perlu minta teman untuk membaca naskah ulasan artikel kamu dan memberi penilaian.

Sekian artikel mengenai review artikel jurnal dan cara melakukannya. Artikel ini merangkum dari beberapa sumber, baik internet maupun buku. Semoga dapat menambah wawasan dan manfaat!

Sumber Artikel: https://ranahresearch.com/ranah-research-pengertian-review-jurnal/

Menulis dan Mempublikasikan Artikel Ilmiah untuk Jurnal

Pencapaian tertinggi dalam sebuah karya ilmiah adalah ketika dipublikasikan. Dengan publikasi jurnal ilmiah tidak hanya sebagai prasyarat akreditasi melainkan juga memperkaya literasi keilmuan yang ada. Meskipun demikian dalam publikasi sebuah karya ilmiah terdapat beberapa etika yang perlu diperhatikan. Salah satu bentuk publikasi ilmiah adalah jurnal. Tidak semua artikel hasil penelitian dapat dikatakan sebagai jurnal ilmiah. Sebelum melakukan penulisan artikel pada jurnal ilmiah biasanya akan melakukan telaah pustaka terkait dengan teori dan penelitian terdahulu sesuai dengan bidang keilmuan yang menjadi masalah penelitian.
Menulis secara teknis sesungguhnya merupakan kegiatan menjabarkan kerangka tulisan menjadi kalimat-kalimat, paragraf-paragraf, dan sub-subbab/bab. Dalam proses itu, pemilihan kata dan penggunaan ejaan dan tanda baca sangat penting. Kata atau kelompok kata akan mewadahi gagasan yang akan disampaikan penulis kepada (calon) pembaca. Akan tetapi, gagasan terkecil yang paling sempurna yang dimiliki penulis berupa kalimat utama, bukan pada kata atau kelompok kata. Oleh karena itu, untuk menghasilkan tulisan yang rinci dan sistematis, setelah kerangka tulisan terwujud, mulailah dengan merumuskan kalimat-kalimat utama untuk setiap bagian tulisan. Sebagai contoh, untuk bagian pendahuluan suatu artikel, sudah cukup memadai bila (calon) penulis dapat menyiapkan 5-7 kalimat utama untuk selanjutnya dijabarkan menjadi 5-7 paragraf.
Penjabaran kerangka tulisan dilakukan dengan merangkai kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf. Kalimat-kalimat yang terangkai dalam paragraf dan paragraf-paragraf yang terangkai dalam sebuah tulisan dikemas dengan sebaik-baiknya. Intinya, kalimat-kalimat itu isinya saling mendukung, saling melengkapi, saling merinci dan memperjelas kalimat-kalimat yang lain. Satuan  gagasan diikat oleh paragraf-paragraf. Analogi yang mudah adalah setiap judul makalah, laporan penelitian, artikel, atau buku itu dapat diibaratkan seperti sebuah pohon. Setiap pohon memiliki cabang, ranting, dan daun. Sebuah tulisan, ibaratnya sebuah pohon. Ia memiliki cabang-cabang (subbab), ranting (sub-subbab), dan daun (rincian dalam sub-subbab, yang berupa paragraf-paragraf). Dalam setiap satuan itu harus menunjukkan adanya kesatuan dan kepaduan dalam levelnya masing-masing.



SIlabus MK Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian adalah proses atau cara ilmiah untuk mendapatkan data yang akan digunakan untuk keperluan penelitian. Metodologi juga merupakan analisis teoretis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban. Hakikat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.

Pendidikan dan Interaksi Sosial

BY: Tabrani. ZA
Pendidikan berfungsi memberdayakan potensi manusia untuk mewariskan, mengembangkan serta membangun kebudayaan dan peradaban masa depan. Di satu sisi, pendidikan berfungsi untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang positif, di sisi lain pendidikan berfungsi untuk menciptakan perubahan ke arah kehidupan yang lebih inovatif. Oleh  karena itu, pendidikan memiliki fungsi kembar (Budhisantoso, 1992;  Pelly, 1992). Dengan fungsi kembar itu, sistem pendidikan asli di suatu daerah memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan dan ke-budayaan.
Berbagai permasalahan pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masih rendahnya mutu pendidikan. Masalah lainnya adalah gagalnya sektor dalam menanamkan serta menumbuhkembangkan  pendidikan nilai di sekolah. Hal ini terbukti dari berbagai permasalahan seperti rusaknya lingkungan alam yang mengakibatkan berbagai bencana alam seperti kekeringan berkepanjangan, banjir bandang, kebakaran hutan, polusi udara, polusi tanah/air, dan terakhir luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sudah dua tahun, sampai hari ini belum juga dapat diatasi. Semua permasalahan ini hanya menghasilkan dan menyisakan kesengsaraan rakyat Indonesia. Adimassana (2000) menambahkan bahwa salah satu penyebabnya adalah akibat dari kegagalan sektor pendidikan dalam melaksanakan pendidikan nilai di sekolah. Zamroni (2000:1) menge-mukakan bahwa pendidikan cenderung hanya menjadi sarana “stratifikasi sosial” dan sistem persekolahan yang hanya “mentransfer” kepada peserta didik, apa yang disebut sebagai dead knowled, yaitu pengetahuan yang terlalu berpusat pada buku (textbookish), sehingga bagaikan sudah diceraikan dari akar sumbernya dan aplikasinya. Lebih lanjut Suastra (2005) mengatakan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat asli yang penuh dengan nilai-nilai kearifan (local genius) diabaikan dalam pembelajaran di sekolah. Dengan demikian, pembelajaran menjadi ”kering” dan kurang bermakna bagi siswa. Hal inilah yang perlu mendapat perhatian serius bagi para pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan di daerah.
Penentuan metode mengajar yang akan digunakan seharusnya selalu diawali dari situasi nyata di dalam kelas. Bila situasi di dalam kelas berubah maka metode mengajar pun juga harus berubah. Karena itulah seorang guru sebagai ”pengendali” kegiatan belajar mengajar di dalam kelas harus menguasai dan tahu kelebihan dan kekurangan beberapa macam teknik pembelajaran dengan baik, sehingga guru mampu memilih dan menerapkan teknik pembelajaran yang paling efektif untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Perubahan situasi dan tujuan pembelajaran di dalam kelas memerlukan kepekaan guru, artinya seorang guru harus mampu mendiagnosis masalah yang muncul dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Selain itu guru juga dituntut mampu menganalisis dan mendeskripsikan akar penyebab dari masalah serta mampu memilih pendekatan yang paling tepat untuk digunakan memecahkan masalah tersebut.
Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan perbaikan kualitas pembelajaran juga harus berangkat dari permasalahan pembelajaran nyata di dalam kelas, tidak hanya ‘melulu’ berangkat dari kajian yang bersifat teoritis akademis tanpa mempertimbangkan permasalahan pembelajaran nyata di dalam kelas, karena bisa jadi permasalahan pembelajaran di dalam kelas satu dengan kelas lainnya berbeda walaupun dalam satu sekolah yang sama. Penelitian yang dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran yang tidak diawali dari permasalahan pembelajaran real yang dihadapi oleh guru dan siswa di dalam kelas, menyebabkan temuannya tidak aplicable dalam kancah nyata.
Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mengemban fungsi tersebut pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan, di antaranya PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional. Kedua perangkat hukum tersebut mengamanatkan agar kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah dengan berpedoman pada Panduan Umum yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
Penerapan Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah (MPBS) adalah bentuk alternatif otonomi pendidikan sebagai wujud reformasi pendidikan di mana sekolah diberikan peluang yang sangat luas dalam mengelola sekolah serta mengembangkan kurikulumnya sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Peluang inilah yang harus dimanfaatkan oleh para pengambil kebijakan pendidikan di daerah dan para guru dalam rangka mengembangkan potensi lokal dan sekaligus melestarikan nilai-nilai positif yang terkandung dalam budaya bangsa kita.
Pembelajaran yang akan datang perlu diupayakan agar ada keseimbangan/ke-harmonisan  antara pengetahuan sains itu sendiri dengan penanaman sikap-sikap ilmiah, serta nilai-nilai kearifan lokal yang ada dan berkembang di masyarakat. Oleh karena itu,  lingkungan sosial-budaya siswa perlu mendapat perhatian serius  dalam mengembangkan pendidikan sains di sekolah karena di dalamnya terpendam sains asli yang dapat berguna bagi kehidupannya. Dengan demikian, pendidikan sains akan betul-betul bermanfaat bagi siswa itu sendiri dan bagi masyarakat luas. Hal ini sesuai dengan pandangan reformasi pendidikan sains dewasa ini yang menekankan pentingnya pendidikan bagi upaya meningkatkan tanggung jawab sosial. Berdasarkan usaha reformasi ini, tujuan pendidikan tidaklah hanya untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi saja, tetapi yang lebih penting juga adalah bagaimana memahami kehidupan manusia itu sendiri. Bagaimana manusia membuat pemahaman tentang dunia alamnya dan bagaimana mereka berinteraksi dengan keseluruhan tatanan makrokosmos sangat  ditentukan oleh pandangan mereka tentang dunia dan nilai-nilai universal.{Ђ}

Pembahasan Singkat Tentang Metodologi Penelitian

Oleh: Tabrani. ZA

Pengertian
Ada beberapa pengertian metodologi penelitian. Cara baru atau modern dalam memperoleh ilmu pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut dengan metodologi penelitian (research methodology) atau penelitian ilmiah. Cara ini awalnya dikembangkan oleh Francis Bacon di tahun 1610. Awalnya ia mengembangkan metode berpikir induktif dengan melakukan pengamatan langsung terhadap gejala-gejala alam atau masyarakat. Lalu hasil pengamatannya tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan, kemudian akhirnya diambil kesimpulan umum. Metode ini kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh Deobold van Dallen. Ia merumuskan bahwa dalam mencari kesimpulan harus dilakukan dengan mengadakan observasi langsung, dan membuat dokumentasi-dokumentasi terhadap semua fakta terhadap objek yang diamatinya.
Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok, yakni:
  1. Segala sesuatu yang positif, yakni gejala tertentu yang muncul pada saat dilakukan pengamatan.
  2. Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala yang tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan.
  3. Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi, yaitu gejala-gejala yang berubah-ubah pada kondisi-kondisi tertentu.
Berdasarkan hasil pencatatan-pencatatan ini kemudian ditetapkan ciri-ciri atau unsur-unsur yang pasti ada pada suatu gejala. Selanjutnya hal tersebut dijadikan dasar pengambilan atau generalisasi. Prinsip-prinsip umum yang dikembangkan oleh Bacon ini kemudian dijadikan dasar untuk mengembangkan metode yang l;ebih praktis. Selanjutnya diadakan penggabungan antara proses berpikir deduktif –induktif-verifikatif seperti yang dilakukan oleh Newton dan Galileo. Akhirnya lahir suatu cara melakukan penelitian, yang dewasa ini kita kenal dengan metode penelitian ilmiah (scientific research method).
Selanjutnya Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.  Hakikat penelitian dapat dipahami dengan mempelajari berbagai aspek yang mendorong penelitian untuk melakukan penelitian. Setiap orang mempunyai motivasi yang berbeda, di antaranya dipengaruhi oleh tujuan dan profesi masing-masing. Motivasi dan tujuan penelitian secara umum pada dasarnya adalah sama, yaitu bahwa penelitian merupakan refleksi dari keinginan manusia yang selalu berusaha untuk mengetahui sesuatu. Keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan merupakan kebutuhan dasar manusia  yang umumnya menjadi motivasi untuk melakukan penelitian.

Tiga Tujuan dilakukannya Penelitian
Adapun tujuan Penelitian adalah penemuan, pembuktian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
  1. Penemuan. Data yang diperoleh dari penelitian merupakan data-data yang baru yang belum pernah diketahui.
  2. Pembuktian. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk membuktikan adanya keraguan terhadap informasi atau pengetahuan tertentu.
  3. Pengembangan. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada.
Fungsi (kegunaan hasil) penelitian:
Kegunaan penelitian dapat dipergunakan untuk memahami masalah, memecahkan masalah, dan mengantisipasi masalah.
  1. Memahami masalah. Memahami berarti memperjelas suatu masalah atau informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya menjadi fakta. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk memperjelas suatu masalah atau informasi yang tidak diketahui dan selanjutnya diketahui.
  2. Memecahkan masalah. Memecahkan berarti meminimalkan atau menghilangkan masalah. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk meminimalkan atau menghilangkan masalah.
  3. Mengantisipasi masalah. Mengantisipasi berarti mengupayakan agar masalah tidak terjadi. Data yang diperoleh dari penelitian digunakan untuk mengupayakan agar masalah tersebut tidak terjadi.

Pages: 1 2 3