Soal Final MK PPMD Ganjil 2016-2017

SOAL FINAL MATAKULIAH
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MODERN DI DUNIA
SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016/2017
Prodi                         : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Unit                          : Semua Unit
Fakultas/Univ.          : Fakultas Tarbiyah/ Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh
Dosen Pengasuh       : Tabrani. ZA, S. Pd.I., M.S.I., MA.

A.    Ketentuan
  1. Bacalah soal di bawah ini dengan baik dan benar. Selanjutnya buatlah jawaban anda dalam bentuk artikel ilmiah dengan mengacu kepada pertayaan-pertanyaan tersebut yang anda narasikan menurut anda masing-masing. Point pertanyaan akan menjadi sub-sub judul pada artikel anda.
  2. Setiap pendapat yang anda kemukakan pada jawaban anda harus mengacu dan mempunyai referensi (footnote) yang jelas. Minimal referensi yang anda gunakan adalah 3 (Tiga) buku.
  3. Buatlah judul artikel anda tersebut menurut anda sendiri (Judul Bebas).
  4. Anda dilarang mengcopy paste dengan cara apapun. Anda juga dilarang melihat punya teman anda. Jika terdapat jawaban anda yang sama persis dengan punya kawan anda, maka anda dianggap gugur dan dianggap tidak mengikuti Ujian Final (UAS).
  5. Kumpulkan tugas anda dalam bentuk hard copy pada hari final. Dan soft copynya anda kirim/ upload melalui form upload tugas di website: www.tabraniza.com paling lambat tanggal 3 Januari 2017 jam 23.59.
B.     Soal-Soal
  1. Sejarah pemikiran dan pembaharuan Islam di Indonesia memiliki dimensi yang sangat menarik, bahkan tidak pernah berhenti untuk dikaji, terutama oleh para peneliti dan pemerhati masalah sejarah dan pemikiran Islam. Kemukakan sedikit pendapat anda tentang sejarah pemikiran dan perkembangan Islam di Indonesia!
  2. Jelaskan bagaimana Perkembangan munculnya Islam Normatif dan Islam Historis!
  3. Jelaskan bagaimana aplikasi pendekatan Islam Tekstual dalam melihat realitas Islam Normatif serta aplikasi Islam Tradisional dalam melihat realitas Islam Historis!
  4. Jelaskan bagaimana relasi agama dan pembangunan dalam teologi pembebasan!
  5. Jelaskn bagaimana pandangan Marxisme terhadap Islam? Dan Bagaimana prinsip tasammuh (toleransi) bagi kelompok Marxisme!
  6. Bagaimanakah evolusi Rahman dalam perkembangan dan pembaharuan Islam menurut 4 (empat) prinsip dasar Islam (Al-Qur`an, Hadits, Ijma` dan Qiyas) !
  7. Jelaskan bagaimana pandangan Muhammad Iqbal dan Muhammad Abduh dalam pembaharuan pendidikan!
#Selamat Bekerja, semoga sukses selalu, amin ya Rabb#

Download Buku Tentang Islam_English Version

By: Tabrani. ZA

Di era yangmodern ini, kemajuan teknologi membuat segalanya menjadi mudah. Dunia pun seakan ada dalam genggaman kita. Dengan adanya teknologi, apa yang kita inginkan dengan mudah bisa kita dapatkan. Sebut saja salah satunya seperti internet. Dibalik kecanggihan akan internet serta euforia media sosial saat ini, membuat hampir semua kalangan melupakan sesuatu yang di jamannya menjadi sebuah tren sebelum internet menghipnotis penggunanya. Pasti banyak yang bertanya-tanya, apakah sesuatu yang dimaksud? Jawabannya tidak lain adalah “Buku”. Mengapa harus buku? Karena sebelum semua orang mengenal internet, buku di anggap sebagai jendela dunia. Lewat buku, banyak ilmu pengetahuan yang bisa kita dapatkan, kita bisa dengan bebas memperluas wawasan, bahkan beraneka kejutan dan hiburan pun bisa kita peroleh. Dengan adanya buku, kita dapat memahami kehidupan manusia dibelahan dunia lain, sekaligus dengan latar belakang sosial dan kultural mereka yang beragam. Bahkan bagi seorang penikmat buku, kecerdasan sosial, spiritual dan intelektual akan semakin terasah. Tidak jarang kita temui seseorang yang berubah kehidupannya karena terinspirasi oleh kata-kata yang terkandung dalam sebuah buku yang dibacanya.
Berikut ini kami sediakan beberapa buku tentang Islam yang dapat anda download dan anda baca. Buku yang kami sediakan pada halaman ini semuanya dalam bahasa Inggris. Semoga bermanfaat bagi kita semua, amiin...!!!

Silahkan klik tombol download untuk mendownload buku yang anda inginkan!!!
1. en_Brief Illustrated Guide to Understanding Islam
2. en_Concept of God in Major Religions
3. en_Discover the Islam
4. en_Enjoining Right & Forbidding Wrong By Ibn Taymiyya
5. en_In Pursuit of Allahs Pleasure
6. en_Islam in Focus
7. en_Islam is the Religion of Peace
8. en_Islam its Foundations and Concepts
9. en_Islamic Studies Book
10. en_Islamic Studies Orientalists and Muslim Scholars
11. en_Islam-The Religion You can no Longer Ignore
12. en_Political System in Saudi Arabia
13. en_Principles During Times of Fitan
14. en_Religious Freedom in Saudi Arabia
15. en_Religious Police in Sadi Arabia
16. en_The Evolution of Fiqh (Islamic Law & The Madh-habs)
17. en_The Principles of Islam
18. en_The Religion of Truth
19. en_The Signs Before the Day of Judegment
20. en_The Truth About the Original Sin
21. en_This is the Truth

Learning from Late Marx

By: Kohei Saito*

Recent years have seen the development of a fresh area of research into Marx’s critique of political economy, based on his previously unpublished economic manuscripts and notebooks, which have been made newly available in the updated edition of the complete works of Marx and Engels, the Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA).1 Lucia Pradella published the first detailed analysis in English of Marx’s London Notebooks, and Brill’s Historical Materialism book series recently celebrated its hundredth volume with a translation of Marx’s original manuscript for volume 3 of Capital, based on the new MEGA edition. The same series also published Heather Brown’s Marx on Gender, which drew extensively on his late notebooks.2 And earlier this year, the second, expanded edition of Kevin Anderson’s Marx at the Margins: On Nationalism, Ethnicity and Non-Western Societies appeared. The first edition of Anderson’s book, published in 2010, inaugurated this new trend in Marxist studies, and it remains among the most important achievements in the field.
The book’s title can be read in two ways: it not only addresses Marx’s analysis of marginalized (i.e., peripheral) societies under capitalism, but also the marginalized texts of Marx’s own work, such as his newspaper articles, the French edition of Capital, and, most importantly, his research notebooks. Six years on, this latter sense of “marginality” is gradually but surely changing, due in no small part to Anderson’s pioneering work. Due to his careful study of Marx’s marginal writings and notebooks, the book has opened both a new path for research and a strong tool to counter familiar criticisms of Marx’s “productivism” and “economic determinism.” Anderson and other scholars have persuasively shown that the depth and diversity of Marx’s critique of capitalism extended to such supposedly neglected areas as race, gender, and ecology.
In the second edition, Anderson finds the original task of the book fulfilled: to “undercut the fashionable argument that Marx was fundamentally a Eurocentric thinker trapped in the narrow frameworks of his time, the mid-nineteenth century, and thus largely impervious to contemporary issues like race, gender, and colonialism” (vii). Critics have long claimed that Marx’s theory assumed, with a mixture of optimism and condescension, that the development of productive forces in Western European countries would be the driving factor in a historical progress toward socialism, even if it produced misery and destruction in peripheral, colonized societies. Marx was the target of repeated criticism by postcolonial scholars such as Edward Said, who accused both Marx and orthodox Marxism of a naïve, orientalist affirmation of the “great civilizing influence of capital,” which effectively ignored the cruel reality of the colonized countries.
Anderson concedes that Marx, from the Communist Manifesto through his New York Daily Tribune articles on India in the early 1850s, was still trapped by the prevailing ethnocentrism of the time, and did believe uncritically in the progressive character of capitalist domination in the colonies (237). Thus it is not wrong to accuse Marx, in his earlier writings, of imposing a Eurocentric, unilinear vision of history on non-Western countries, though even these works include descriptions of British domination as “barbarism” (238).
However, as Anderson demonstrates, Marx’s critique of capitalism grew far more subtle and sophisticated as a result of his theoretical and practical engagement with the Taiping Rebellion, the Second Opium War, the Indian Rebellion, and the American abolitionist movement against slavery. The decisive change came in the late 1860s, when Marx voiced his unequivocal support for Irish independence. In an 1869 letter to Engels, he wrote: “The English working class will never accomplish anything before it has got rid of Ireland. The lever must be applied in Ireland. This is why the Irish question is so important for the social movement in general”.3 Marx not only argued that the English working class could not entrust the eventual emancipation of their Irish counterparts to the development and expansion of British capitalism; he maintained that English workers could not liberate themselves as long as they remained reluctant to take action against British colonialism. Instead of passively waiting for emancipation, Marx argued, the working classes of both England and Ireland had to take up the Irish cause as a central issue.
In the following years, Marx went on to study non-Western and pre-capitalist societies, efforts that are documented in his notebooks of 1879–82. In what is probably the book’s most original and important chapter, Anderson carefully examines these little-known notebooks, arguing for the later Marx’s nuanced, multilateral understanding of history. He marshals impressive evidence in this regard, uncovering the background to Marx’s famous admission—first in a letter to Vera Zasulich and later in the preface to the Russian edition of the Manifesto—that his analysis in Capital was “explicitly restricted to the countries of Western Europe.” Decades before the Bolshevik Revolution, Marx even recognized the possibility of a unique Russian path to socialism.

Social Change and Human Nature

By: Will Miller*
When radical social change is mentioned, apologists for present practice take a philosophical turn. In nearly every discussion of social alternatives to market capitalism, defenders of the marketplace appeal to their own conception of human nature as the final explanation of the predatory competitiveness of our age of waste and greed. We are quickly assured that the ever more unsatisfying and dangerous exploitation of our natural and social environment is an inevitable consequence of our human nature.
According to the market view of human nature, we are—and have always been—greedy, grasping creatures, entirely absorbed in ourselves, manipulating others as means to our own private ends. All human ties of love, affection and social unity are really manipulative appearances that conceal the sheer private opportunism that actually motivates us. We are all bottomless pits of insatiable desires, so no amount of consuming, owning or controlling is ever enough. These traits of individualism are cast as universal human nature, making market capitalism inevitable and radical social change impossible. Occasionally, defenders of market capitalism seem slightly saddened by their own view of human nature. But more often they cannot disguise their pleasure at the dismay they provoke in gentler folk.
It is not without reason that economics has come to be known as the dismal science. Mainstream economists since Adam Smith have assumed that all human relations are ultimately those of the marketplace, of buying and selling, of control and exploitation of the suffering, vulnerability and desperation of others. The current dominance of private property relations—where land, resources and tools are exclusively controlled by a small minority of individuals for their private perpetual reward—is projected backward over the whole span of human history. However useful this projection may be for justifying existing market society, it is strikingly poor anthropology, dubious history, and third-rate psychology.
But it seems actual human history has had a much different bent. For our first few hundred thousand years on this planet—according to current evidence—humans lived in small groups organized around mutually beneficial social relations, with resources held in common as social property. Social equality and voluntary divisions of labor endured for millennia as the basis for human communal life. With essentially social incentives, everyone who could contributed to the commonwealth for the use of all. In the long sweep of this history the emergence of dominant classes—chiefs, kings, aristocracies of birth and wealth—is a very recent event, perhaps no more than 10,000 years ago, or less, depending on which culture is considered. From time to time, small human communities organized in such communal ways continue to be ‘discovered,’ communities that have been spared being “civilized” by conquest at the hands of more “advanced” class societies.
A common pattern for the development of class societies, where a dominant class holds the power to exploit the labor and lives of subordinate class members, begins with the emergence of wealth as social, and communally produced surplus beyond subsistence. Often the first storable surpluses came with settlement agriculture and the emergence of production organizers, who coordinated the complexities of agriculture as a new means of production. Seizure of this social surplus provided the means for the emergence of a dominant class. The surplus provides the material means for creating a “palace guard” to enforce the relations of domination, on behalf of those who seek to institutionalize their private ownership of that stolen social surplus.
This is the pattern of the earliest coup d’ etat, out of which the state and class society is institutionalized. Accompanied as it often was by male-supremacist divisions of labor, the social opportunities for free and cooperative association were shattered by a succession of forms of domination from slavery and serfdom to “free” wage labor. The most recent installment in this historical process, market capitalism, is only 500 years old in Europe and much newer elsewhere. Capitalism in Europe succeeded in wresting control from the patchwork of feudal estates and their lords. The modern capitalist nation-state was the outcome of this struggle to lay the foundations for market relations of buying, selling and owning to become the primary determinants of human life. The new system’s need for primitive capital accumulation led to the conquest and colonization of most of the rest of the world over the last five centuries.

Pages: 1 2 3

Antara Politik dan Pendidikan (2)

By: Tabrani. ZA

Kontrol Negara Terhadap Pendidikan
Sebagai suatu proses yang banyak menentukan corak dan kualitas kehidupan individu dan masyarakat, tidak mengherankan apabila semua pihak memandang pendidikan sebagai wilayah strategi bagi kehidupan manusia sehingga program-program dan proses yang ada di dalamnya dapat dirancang, diatur, dan diarahkan sedemikian rupa untuk mendapatkan output yang didinginkan. Inilah salah satu alasan mengapa begitu banyak orang tua yang sanggup mengorbankan harta mereka yang berharga untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Ini pulalah salah satu alasan mengapa suatu negara sangat peduli dan menyediakan anggaran dalam jumlah yang besar untuk bidang pendidikan. Semua itu dilakukan dalam rangka membangun suatu sistem pendidikan yang memiliki karakteristik, kualitas, arah, dan output yang diinginkan. Untuk memastikan terwujudnya keinginan tersebut, banyak negara yang menerapkan kontrol sangat ketat terhadap program-program pendidikan, baik yang diselenggarakan sendiri oleh negara maupun yang diselenggarakan oleh masyarakat.
Salah satu fungsi sistem pendidikan di banyak Negara adalah menghasilkan pengetahuan teknis/ administratif yang pada akhirnya diakumulasi oleh kelompok-kelompok dominan dan digunakan dalam mengontrol ekonomi, politik, dan budaya. Alih-alih menjadi pusat pencerahan dan intelektualisasi sekolah-sekolah justru menjadikan pusat indoktrinasi. Kandungan (content) dari kurikulum pembelajaran terus mengalami perubahan, bukan karena merespons perkembangan dunia ilmu pengetahuan atau tantangan baru, tetapi dalam rangka menjawab tuntutan-tuntutan tertentu dari negara terhadap peran politik sekolah-sekolah.
Ketika doktrin-doktrin para penguasa negara berseberangan dengan nilai-nilai yang hidup secara riil dalam masyarakat, maka institusi-institusi sekolah menjadi sumber konflik, baik antar sesama perangkat sekolah itu sendiri maupun antara perangkat sekolah dengan peserta didik. Ketika para anggota perangkat sekolah dan peserta didik merambah ke luar lingkungan sekolah, maka skala konflik meluas menjadi konflik sosial politik.
Persoalan ini memunculkan pertanyaan sebagai berikut, Apakah masih mungkin mengembalikan fungsi sekolah sebagai wisdom of education? Apakah kontrol Negara terhadap sekolah dapat dihilangkan? Apakah suatu sistem pendidikan dapat berjalan tanpa ada mekanisme kontrol? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini tergantung pada bagaimana konsep kita tentang sekolah dan Negara. Apa pun jawabannya, inti persoalan adalah bagaimana memformulasikan posisi dan peran Negara dalam pengembangan sistem pendidikan tanpa harus “mengganggu” tujuan asasi pendidikan sebagai pusat pencerahan masyarakat.

Prospek Kajian Politik Pendidikan
Sebagai suatu kajian yang relatif baru dan merupakan pengembangan dari bidang kajian yang telah mapan (established), yaitu kajian politik dan kajian pendidikan, kelayakan politik pendidikan sebagai suatu bidang kajian banyak dipertanyakan, baik oleh para sarjana ilmu politik maupun oleh para sarjana ilmu pendidikan. Namun, pengalaman panjang bangsa Indonesia, mulai dari era kolonial hingga era reformasi, memperlihatkan betapa pendidikan dan politik saling berkaitan. Keterkaitan tersebut dapat dilihat dari karakteristik berbagai kebijakan pendidikan yang dibuat oleh rezim yang berkuasa. Hal itulah yang memperlihatkan bahwa para ilmuwan pendidikan di negeri ini membutuhkan wawasan politik yang memadai untuk dapat menjelaskan berbagai persoalan kependidikan yang ada. Begitu juga sebaliknya, para ilmuwan politik di negeri ini membutuhkan wawasan kependidikan untuk dapat menjelaskan berbagai persoalan politik dengan baik kepada masyarakat. Pada konteks inilah kita pantas optimis bahwa pada masa-masa mendatang, kajian-kajian politik pendidikan akan semakin dibutuhkan sehingga kajian-kajian dalam bidang ini akan berkembang pesat.

Problem Metodologi Penelitian Politik Pendidikan
Proses kemunculan politik pendidikan sebagai suatu bidang kajian, baik di kalangan ilmuwan politik maupun ilmuwan pendidikan telah melalui pergumulan metodologis yang panjang dan penuh perdebatan. Di satu pihak, para penggagas bidang kajian ini dengan penuh gairah menjelaskan bahwa kajian politik pendidikan adalah kajian yang penting dilakukan, baik oleh para ilmuwan politik maupun para ilmuwan pendidikan.
Namun, tanpa penjelasan dan metodologis yang jelas ternyata sulit untuk bisa diminati. Hingga awal 1970-an, kajian politik pendidikan belum memiliki basis metodologi yang mantap, walaupun pada saat ini penelitian yang terfokus pada bidang kajian ini sudah cukup berkembang. Kelemahan metodologis tersebut dipengaruhi oleh karakteristik dan keterbatasan metodologis dalam tradisi studi politik dan kependidikan yang menjadi induknya.

Pages: 1 2