EDUCATION ZONE
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
← Back to home

Mendengar Data: Grounded Theory, Fenomenologi, dan Seni Penelitian Kualitatif

July 26, 2025
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini merenungkan inti dari penelitian kualitatif, yang sering disalahpahami di kampus-kampus kita sebagai penelitian yang longgar, cukup dengan wawancara dan uraian deskriptif. Penulis berargumen bahwa jantung penelitian kualitatif adalah seni mendengar: kesediaan membiarkan data berbicara dengan suaranya sendiri sebelum peneliti menjatuhkan penilaian. Esai ini menelusuri dua tradisi besar yang sangat menekankan seni mendengar. Pertama, grounded theory yang dirintis Barney Glaser dan Anselm Strauss, dengan prinsip perbandingan terus-menerus, pengambilan sampel teoretis, dan kejenuhan data, serta perkembangannya dalam versi Strauss dan Corbin maupun versi konstruktivis Kathy Charmaz. Kedua, fenomenologi yang berakar pada Edmund Husserl, dengan prinsip kembali kepada hal itu sendiri dan penangguhan prasangka, serta penerapannya dalam penelitian oleh Clark Moustakas dan Max van Manen. Esai ini juga mengurai kesalahan-kesalahan yang sering muncul dalam skripsi dan tesis, menimbang peran peneliti sebagai instrumen, dan membahas triangulasi sebagai cara menjaga keterpercayaan. Merujuk buku-buku metodologi yang penulis tulis bersama Warul Walidin dan Saifullah Idris, tulisan tentang triangulasi di Education Zone, serta penelitian-penelitian kualitatif di Jurnal Ilmiah Peuradeun, esai ini menegaskan bahwa penelitian kualitatif menuntut ketelitian, kesabaran, dan kerendahan hati, sebagaimana Al-Qur’an memuji orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik.

Keywords: Penelitian kualitatif; Grounded theory; Fenomenologi; Triangulasi; Refleksivitas

KEY POINTS

  • Penelitian kualitatif bukan penelitian yang longgar; jantungnya adalah seni mendengar data dengan teliti.
  • Grounded theory membangun teori dari data melalui perbandingan terus-menerus, bukan menguji teori yang sudah ada.
  • Fenomenologi berusaha memahami pengalaman hidup sebagaimana dialami, dengan menangguhkan prasangka peneliti.
  • Banyak skripsi kualitatif terjebak dalam deskripsi tanpa analisis, atau memakai label metode tanpa menjalankan prinsipnya.
  • Peneliti adalah instrumen utama; karena itu refleksivitas dan triangulasi menjadi sangat penting.
  • Seni mendengar dalam penelitian sejalan dengan ajaran Al-Qur’an tentang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik.

— — — ARTICLE — — —

“Dengarkan Dulu, Nak”

Seorang mahasiswa datang ke rumah seorang teungku tua di sebuah gampong untuk wawancara penelitian skripsinya tentang pendidikan dayah pada masa konflik. Ia membawa daftar pertanyaan yang telah disusun rapi, perekam suara, dan buku catatan. Setelah berbasa-basi sebentar, ia mulai bertanya satu per satu sesuai daftar. Setiap kali sang teungku mulai bercerita panjang, mahasiswa itu dengan sopan memotong dan mengarahkan kembali ke pertanyaan berikutnya. Ia khawatir waktunya habis sebelum semua pertanyaan terjawab.

Setelah beberapa kali dipotong, sang teungku tersenyum dan berkata pelan, “Nak, dengarkan dulu. Yang ingin kamu ketahui mungkin tidak ada di dalam daftar pertanyaanmu.”

Kalimat sederhana itu merangkum inti dari penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif bukan soal mengumpulkan jawaban atas daftar pertanyaan yang sudah disiapkan, melainkan soal mendengar dengan sungguh-sungguh, sehingga hal-hal yang tidak terduga dapat muncul. Data kualitatif tidak selalu menjawab pertanyaan kita; kadang ia justru mengoreksi pertanyaan kita.

Sayangnya, di banyak kampus, penelitian kualitatif sering disalahpahami. Ia dianggap sebagai pilihan yang lebih mudah daripada kuantitatif, karena tidak memerlukan statistik. Akibatnya, banyak skripsi kualitatif yang hanya berisi uraian deskriptif hasil wawancara, tanpa analisis yang mendalam dan tanpa ketelitian metodologis. Esai ini hendak mengembalikan penelitian kualitatif pada martabatnya, dengan menelusuri dua tradisi besar yang sangat menekankan seni mendengar: grounded theory dan fenomenologi.

Grounded Theory: Teori yang Tumbuh dari Tanah

Dua sosiolog Amerika, Glaser dan Strauss (1967), menerbitkan The Discovery of Grounded Theory. Buku ini lahir dari kegelisahan terhadap dominasi penelitian yang hanya menguji teori-teori besar yang sudah ada. Menurut mereka, ilmu sosial juga perlu menemukan teori baru yang tumbuh dari data, berakar pada kenyataan, seperti tanaman yang tumbuh dari tanah. Karena itu, mereka menyebutnya grounded theory, teori yang membumi.

Ada beberapa prinsip kunci dalam grounded theory. Pertama, perbandingan terus-menerus. Peneliti tidak menunggu semua data terkumpul untuk mulai menganalisis. Ia mengumpulkan dan menganalisis data secara bersamaan, terus membandingkan setiap potongan data baru dengan data sebelumnya, untuk menemukan kategori-kategori dan hubungan di antaranya.

Kedua, pengambilan sampel teoretis. Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang menentukan sampel sejak awal, dalam grounded theory peneliti memilih partisipan berikutnya berdasarkan kebutuhan teori yang sedang tumbuh. Jika analisis awal memunculkan sebuah kategori yang belum jelas, peneliti mencari partisipan yang dapat memperjelas kategori itu.

Ketiga, kejenuhan teoretis. Pengumpulan data dihentikan ketika data baru tidak lagi memunculkan wawasan baru tentang kategori-kategori yang sedang dikembangkan. Jumlah partisipan, karena itu, tidak ditentukan oleh angka tertentu, melainkan oleh kecukupan data untuk membangun teori. Guest et al. (2006), dalam eksperimen yang banyak dikutip di jurnal Field Methods, menemukan bahwa pada kelompok yang relatif seragam, sebagian besar tema sudah muncul dalam dua belas wawancara pertama. Temuan ini bukan resep angka, tetapi pengingat bahwa kejenuhan dapat dan perlu ditunjukkan, bukan sekadar diklaim.

Dalam perkembangannya, grounded theory bercabang. Glaser menekankan bahwa teori harus muncul dengan sendirinya dari data, tanpa terlalu banyak prosedur yang kaku. Strauss dan Corbin (1990) mengembangkan prosedur pengodean yang lebih sistematis: pengodean terbuka untuk memecah data menjadi konsep-konsep, pengodean aksial untuk menghubungkan konsep-konsep itu, dan pengodean selektif untuk menemukan kategori inti yang mengikat semuanya. Belakangan, Charmaz (2006) menawarkan versi konstruktivis, yang menegaskan bahwa teori tidak sekadar ditemukan dalam data, tetapi dibangun bersama oleh peneliti dan partisipan melalui interaksi dan penafsiran.

Dalam Metodologi Penelitian Kualitatif & Grounded Theory (Walidin et al., 2015), kami berusaha memperkenalkan prinsip-prinsip ini kepada para peneliti di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Salah satu pesan yang kami tekankan adalah bahwa grounded theory menuntut kesabaran yang luar biasa. Peneliti harus bersedia menunda kesimpulan, terus kembali ke data, dan membiarkan kategori-kategori tumbuh dengan sendirinya, bukan memaksakan kerangka yang sudah ia siapkan dari awal.

Sebuah ilustrasi sederhana dapat membantu. Misalkan seorang peneliti ingin memahami bagaimana santri baru beradaptasi dengan kehidupan dayah. Dalam wawancara awal, ia menemukan ungkapan-ungkapan seperti “rindu rumah”, “takut salah di depan teungku”, “dibantu abang kelas”, dan “lama-lama terbiasa bangun sebelum subuh”. Pada tahap pengodean terbuka, ungkapan-ungkapan ini diberi label konsep. Ketika data bertambah, peneliti mulai melihat bahwa bantuan senior dan keteladanan teungku berhubungan dengan berkurangnya rasa rindu dan takut. Pada tahap pengodean aksial, hubungan-hubungan ini dirumuskan. Akhirnya, peneliti mungkin menemukan kategori inti, misalnya “pengasuhan berlapis”, yang menjelaskan bagaimana adaptasi santri berlangsung melalui jaringan pengasuhan dari teungku, senior, dan teman sebaya. Kategori inti itulah benih teori yang tumbuh dari data, bukan dari buku.

Fenomenologi: Kembali kepada Hal Itu Sendiri

Tradisi kedua adalah fenomenologi, yang berakar pada filsafat Husserl (1982). Semboyan Husserl yang terkenal adalah ajakan untuk kembali kepada hal itu sendiri. Ia ingin memahami fenomena sebagaimana ia hadir dalam kesadaran, sebelum ditutupi oleh teori, asumsi, dan prasangka.

Untuk itu, Husserl memperkenalkan epoche, penangguhan penilaian. Peneliti diminta untuk mengurung sementara pengetahuan dan keyakinannya tentang fenomena yang diteliti, agar fenomena itu dapat menampakkan dirinya sebagaimana adanya. Ini bukan berarti peneliti harus menjadi kosong, karena hal itu mustahil. Tetapi peneliti harus sadar akan prasangkanya sendiri dan berusaha tidak membiarkannya menentukan apa yang ia lihat.

Dalam penelitian, fenomenologi dipakai untuk memahami pengalaman hidup. Pertanyaannya bukan tentang sebab akibat, melainkan tentang makna: bagaimana rasanya mengalami sesuatu, dan apa makna pengalaman itu bagi orang yang menjalaninya. Moustakas (1994) merumuskan langkah-langkah penelitian fenomenologis, mulai dari epoche, reduksi fenomenologis untuk menemukan unsur-unsur pokok pengalaman, variasi imajinatif untuk menemukan struktur pengalaman, hingga sintesis untuk merumuskan esensi pengalaman itu. Van Manen (1990) menawarkan fenomenologi hermeneutis, yang menekankan penafsiran dan penulisan sebagai bagian dari proses memahami pengalaman hidup.

Dalam Metodologi Penelitian Fenomenologis (Walidin et al., 2023), kami mencoba menjembatani tradisi ini dengan kebutuhan penelitian di bidang pendidikan dan studi Islam. Pengalaman seorang guru madrasah di daerah terpencil, pengalaman santri yang menghafal Al-Qur’an, atau pengalaman keluarga yang kehilangan anggotanya dalam bencana, semuanya adalah pengalaman hidup yang dapat dikaji secara fenomenologis. Yang dibutuhkan adalah kesediaan peneliti untuk mendengar tanpa menghakimi, dan untuk menuliskan pengalaman itu dengan setia.

Kesalahan yang Sering Terjadi

Dari pengalaman membimbing dan menguji skripsi serta tesis, serta menelaah naskah jurnal, ada beberapa kesalahan yang sering muncul dalam penelitian kualitatif.

Pertama, deskripsi tanpa analisis. Banyak laporan penelitian kualitatif hanya menyajikan kutipan wawancara satu demi satu, lalu menyimpulkan dengan meringkas apa yang dikatakan partisipan. Padahal, penelitian kualitatif menuntut analisis: menemukan pola, tema, kategori, dan hubungan di antaranya, lalu menafsirkannya dalam kerangka yang lebih luas. Braun dan Clarke (2006), dalam artikel di Qualitative Research in Psychology yang menjadi salah satu rujukan metodologi paling banyak dikutip, mengingatkan bahwa tema tidak “muncul dengan sendirinya” dari data; peneliti yang aktif menemukannya melalui langkah-langkah yang harus dapat dijelaskan dan diperiksa.

Kedua, label tanpa prinsip. Ada penelitian yang menyebut dirinya grounded theory, tetapi tidak menghasilkan teori apa pun, dan tidak menjalankan perbandingan terus-menerus maupun pengambilan sampel teoretis. Ada pula yang menyebut dirinya fenomenologis, tetapi tidak menjalankan epoche dan tidak berfokus pada pengalaman hidup. Label metode dipakai sebagai hiasan, bukan sebagai cara kerja.

Ketiga, wawancara yang berubah menjadi angket. Seperti mahasiswa dalam kisah di awal esai ini, banyak peneliti menjalankan wawancara seperti mengisi angket: pertanyaan dibacakan satu per satu, jawaban dicatat, lalu pindah ke pertanyaan berikutnya. Padahal, wawancara kualitatif seharusnya memberi ruang bagi partisipan untuk bercerita, dan peneliti harus peka untuk menggali lebih dalam ketika muncul hal-hal yang menarik.

Keempat, kesimpulan yang sudah ditentukan sejak awal. Peneliti memasuki lapangan dengan keyakinan yang kuat tentang apa yang akan ia temukan, lalu hanya memilih data yang mendukung keyakinannya. Ini adalah pengkhianatan terhadap semangat penelitian kualitatif yang menuntut keterbukaan terhadap hal-hal yang tidak terduga. Data yang bertentangan dengan dugaan awal justru sering menjadi pintu menuju temuan yang paling berharga.

Peneliti sebagai Instrumen

Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen utama. Ia yang mengamati, mewawancarai, mencatat, dan menafsirkan. Karena itu, kualitas penelitian sangat bergantung pada kualitas peneliti: kepekaannya, kejujurannya, dan kesadarannya akan posisi dirinya sendiri.

Di sinilah pentingnya refleksivitas. Peneliti perlu terus bertanya: bagaimana latar belakang saya, keyakinan saya, dan kepentingan saya memengaruhi cara saya melihat data? Seorang peneliti yang meneliti dayah tempat ia sendiri pernah belajar memiliki akses yang istimewa dan pemahaman yang mendalam, tetapi juga rentan terhadap bias. Ia mungkin cenderung menutupi hal-hal yang kurang baik, atau sebaliknya, terlalu kritis karena pengalaman pribadinya. Menuliskan posisi ini secara terbuka dalam laporan penelitian adalah bagian dari kejujuran ilmiah. Finlay (2002), dalam Qualitative Health Research, menyebut refleksivitas sebagai upaya “menampakkan” peneliti: bukan untuk menghapus subjektivitas, yang mustahil, tetapi untuk membuatnya terlihat dan dapat ditimbang pembaca.

Catatan lapangan dan memo analitis membantu peneliti melacak perkembangan pemikirannya sendiri, dan menjadi jejak yang dapat diperiksa oleh orang lain.

Triangulasi dan Keterpercayaan

Salah satu cara menjaga keterpercayaan penelitian kualitatif adalah triangulasi. Dalam tulisannya yang dimuat di Education Zone, Rahardjo (2022) menjelaskan bahwa triangulasi adalah cara memeriksa kebenaran data dengan melihat sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang, sehingga bias dalam pengumpulan dan analisis data dapat dikurangi. Merujuk Denzin (1978), ia menguraikan empat jenis triangulasi: triangulasi metode, triangulasi peneliti, triangulasi sumber data, dan triangulasi teori. Triangulasi memang memerlukan waktu dan tenaga lebih besar, tetapi memperdalam pemahaman.

Dalam penelitian kami tentang internalisasi nilai-nilai Pancasila di UIN Ar-Raniry (Tabrani ZA et al., 2024), pengumpulan data dilakukan dengan teknik triangulasi, dan analisis dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Kajian tentang fenomena hijrah di kalangan milenial di Langsa memakai pendekatan kualitatif untuk memahami bagaimana anak-anak muda memilih pembimbing keagamaannya (Wati et al., 2022). Kajian Idris dan Syahril (2019) tentang dodaidi juga menggali praktik yang hidup di tengah para ibu rumah tangga. Penelitian-penelitian ini memperlihatkan bagaimana pendekatan kualitatif, bila dijalankan dengan teliti, mampu mengungkap makna dan proses yang tidak dapat ditangkap oleh angka.

Mendengar dalam Cahaya Al-Qur’an

Seni mendengar dalam penelitian kualitatif sesungguhnya memiliki akar yang dalam dalam ajaran Islam. Al-Qur’an dalam Surat Az-Zumar memuji hamba-hamba yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah yang diberi petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berakal. Ayat ini menggambarkan sikap epistemologis yang sangat indah: mendengar dengan terbuka, menimbang dengan jernih, lalu memilih yang terbaik.

Rasulullah juga dikenal sebagai pendengar yang luar biasa. Dalam berbagai riwayat tentang akhlak beliau, digambarkan bahwa ketika seseorang berbicara kepada beliau, beliau menghadapkan diri sepenuhnya kepada orang itu dan mendengarkannya hingga selesai. Beliau tidak memotong pembicaraan orang lain dan tidak terburu-buru menilai.

Bagi seorang peneliti Muslim, teladan ini sangat bermakna. Mendengar partisipan dengan sungguh-sungguh bukan hanya tuntutan metodologis, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap martabat manusia. Setiap orang yang bersedia berbagi pengalaman hidupnya kepada peneliti telah memberi amanah yang besar. Amanah itu harus dijaga dengan mendengar secara jujur dan menuliskan dengan setia.

Penutup: Kembali ke Rumah Teungku

Kembali ke rumah teungku tua di gampong itu. Seandainya mahasiswa tersebut menyimpan daftar pertanyaannya sejenak dan benar-benar mendengar, ia mungkin akan menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada jawaban atas semua pertanyaannya. Ia mungkin akan mendengar kisah tentang bagaimana dayah tetap mengajar di tengah desingan peluru, bagaimana santri dan teungku saling menjaga, dan bagaimana ilmu tetap diwariskan meskipun dunia di sekitarnya sedang terbakar. Kisah-kisah itu mungkin tidak ada dalam daftar pertanyaannya, tetapi justru di sanalah inti penelitiannya berada.

Penelitian kualitatif menuntut kita untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak bertanya daripada menyimpulkan, dan lebih banyak sabar daripada tergesa-gesa. Ia bukan jalan pintas bagi mereka yang takut statistik, melainkan jalan panjang bagi mereka yang bersedia belajar dari kehidupan.

Sebagaimana pesan sang teungku: dengarkan dulu. Sebab sering kali, yang paling ingin kita ketahui justru tersembunyi di luar daftar pertanyaan kita.

References

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using Thematic Analysis in Psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa

Charmaz, K. (2006). Constructing Grounded Theory: A Practical Guide through Qualitative Analysis. London: SAGE.

Denzin, N. K. (1978). The Research Act: A Theoretical Introduction to Sociological Methods (2nd ed.). New York: McGraw-Hill.

Finlay, L. (2002). “Outing” the Researcher: The Provenance, Process, and Practice of Reflexivity. Qualitative Health Research, 12(4), 531–545. https://doi.org/10.1177/104973202129120052

Glaser, B. G., & Strauss, A. L. (1967). The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine.

Guest, G., Bunce, A., & Johnson, L. (2006). How Many Interviews Are Enough? An Experiment with Data Saturation and Variability. Field Methods, 18(1), 59–82. https://doi.org/10.1177/1525822X05279903

Husserl, E. (1982). Ideas Pertaining to a Pure Phenomenology and to a Phenomenological Philosophy, First Book (F. Kersten, Trans.). The Hague: Martinus Nijhoff.

Idris, S., & Syahril, S. (2019). The Concept of Child Education Through Dodaidi in Aceh. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 7(2), 369–382. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v7i2.337

Moustakas, C. (1994). Phenomenological Research Methods. Thousand Oaks: SAGE.

Rahardjo, M. (2022, 7 Maret). Triangulasi dalam Penelitian Kualitatif. Education Zone. https://www.tabraniza.com/2022/03/triangulasi-dalam-penelitian-kualitatif.html

Strauss, A., & Corbin, J. (1990). Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques. Newbury Park: SAGE.

Tabrani ZA, Walidin, W., Idris, S., & Huda, M. (2024). Pancasila as the Core Value for Character Building in Islamic Higher Education Institutions. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 12(2), 565–592. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v12i2.1212

van Manen, M. (1990). Researching Lived Experience: Human Science for an Action Sensitive Pedagogy. Albany: SUNY Press.

Walidin, W., Idris, S., & Tabrani ZA. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif & Grounded Theory. Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press.

Walidin, W., Idris, S., & Tabrani ZA. (2023). Metodologi Penelitian Fenomenologis. Darussalam Publishing.

Wati, S., Alkaf, M., & Idami, Z. (2022). Religion on Millennials: Phenomenon of Hijra and Changes in Islamic Landscape in Aceh. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 10(1). https://doi.org/10.26811/peuradeun.v10i1.709

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →

Archive