EDUCATION ZONE
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
← Back to home

Bagaimana Kita Tahu? Epistemologi di Zaman Pesan Berantai dan Kebenaran yang Dipilih

July 16, 2025
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

[Tempel abstrak di sini — biarkan saja jika tidak ada]

Esai ini membawa salah satu cabang filsafat yang paling mendasar, yakni epistemologi atau teori pengetahuan, ke dalam persoalan sehari-hari: bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu benar, di tengah banjir pesan berantai, kabar bohong, dan kecenderungan memilih kebenaran yang sesuai selera. Penulis menelusuri rumusan klasik tentang pengetahuan sebagai keyakinan yang benar dan beralasan sejak Plato, tantangan yang diajukan terhadap rumusan itu, perdebatan antara rasionalisme Descartes dan empirisme Locke serta Hume, hingga sintesis Immanuel Kant. Tradisi Islam ternyata memiliki epistemologi yang sangat kaya: rumusan Al-Nasafi tentang tiga sumber pengetahuan, yakni indera yang sehat, berita yang benar, dan akal; pengalaman keraguan dan pencarian kepastian Al-Ghazali; tiga corak nalar bayani, burhani, dan ’irfani yang dipetakan Muhammad Abed al-Jabiri; serta ilmu hadis sebagai salah satu sistem paling canggih dalam sejarah manusia untuk menguji kesaksian. Merujuk kajian penulis tentang epistemologi studi Islam dan arah baru metodologi studi Islam, serta temuan Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang integrasi keilmuan sebagai proses epistemologis yang hidup, esai ini berargumen bahwa epistemologi bukan wacana abstrak di menara gading. Ia adalah bekal paling praktis untuk menghadapi zaman pascakebenaran, dan prinsip tabayyun dalam Al-Qur’an adalah epistemologi yang sangat relevan bagi kita hari ini.

Keywords: Epistemologi; Teori pengetahuan; Pascakebenaran, Bayani-Burhani-Irfani

KEY POINTS

  • Epistemologi bukan wacana abstrak; ia menyangkut pertanyaan sehari-hari tentang bagaimana kita tahu sesuatu itu benar.
  • Rumusan klasik tentang pengetahuan sebagai keyakinan yang benar dan beralasan ternyata menyimpan persoalan yang rumit.
  • Rasionalisme dan empirisme menawarkan jalan berbeda; Kant mencoba menyatukan keduanya.
  • Tradisi Islam memiliki epistemologi yang kaya, dari Al-Nasafi dan Al-Ghazali hingga pemetaan nalar oleh Al-Jabiri.
  • Ilmu hadis adalah sistem yang sangat canggih untuk menguji kebenaran kesaksian, dan relevan di zaman kabar bohong.
  • Prinsip tabayyun adalah epistemologi praktis yang paling dibutuhkan di zaman pascakebenaran.

— — — ARTICLE — — —

Pesan dari Grup Keluarga

Suatu malam, seorang ibu di kampung menerima pesan berantai di grup percakapan keluarga. Isinya mengabarkan bahwa sebuah gempa besar akan terjadi besok pagi, lengkap dengan jam kejadian, dan katanya bersumber dari seorang ahli. Pesan itu diakhiri dengan seruan agar disebarkan kepada sebanyak mungkin orang. Sang ibu cemas. Ia menelepon anaknya yang kuliah di kota: “Nak, ini benar atau tidak?”

Sang anak menjelaskan bahwa gempa tidak dapat diramalkan dengan tepat sampai ke jamnya, dan bahwa lembaga resmi tidak pernah mengeluarkan pengumuman semacam itu. Ibunya lega, tetapi kemudian bertanya lagi, “Lalu bagaimana kita tahu mana yang benar? Semua orang bilang dari ahli.”

Pertanyaan sederhana sang ibu adalah pertanyaan yang telah menyibukkan para filsuf selama lebih dari dua ribu tahun. Cabang filsafat yang membahasnya disebut epistemologi, teori pengetahuan. Ia bertanya: apa itu pengetahuan? Dari mana pengetahuan diperoleh? Bagaimana kita membedakan pengetahuan dari sekadar keyakinan atau dugaan? Dan seberapa jauh kita dapat mengetahui sesuatu dengan pasti?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering dianggap abstrak, jauh dari kehidupan nyata. Padahal, epistemologi adalah salah satu cabang filsafat yang paling praktis, terutama di zaman ketika kebohongan dapat menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Ini bukan kiasan. Vosoughi et al. (2018), dalam penelitian di jurnal Science atas sekitar 126 ribu rangkaian kabar di Twitter, menemukan bahwa kabar palsu menyebar lebih jauh, lebih cepat, dan lebih luas daripada kabar benar, dan pendorong utamanya adalah manusia, bukan mesin.

Keyakinan yang Benar dan Beralasan

Dalam dialog Theaetetus, Plato (1997) membahas sebuah rumusan tentang pengetahuan yang kemudian sangat berpengaruh: pengetahuan adalah keyakinan yang benar dan disertai alasan. Ada tiga unsur di sini. Pertama, kita harus meyakini sesuatu. Kedua, apa yang kita yakini itu harus benar. Ketiga, keyakinan kita harus memiliki alasan atau dasar yang memadai. Orang yang kebetulan menebak dengan benar tidak dapat disebut mengetahui, karena tebakannya tidak memiliki dasar.

Rumusan ini tampak meyakinkan. Tetapi para filsuf kemudian menemukan bahwa ia menyimpan persoalan. Russell (1948), filsuf Inggris, memberi contoh yang terkenal. Bayangkan seseorang melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua, lalu menyimpulkan bahwa sekarang pukul dua. Ternyata memang benar pukul dua. Tetapi yang tidak ia ketahui, jam itu sudah mati sejak kemarin dan kebetulan berhenti pada pukul dua. Keyakinannya benar, dan ia memiliki alasan, yaitu melihat jam. Tetapi apakah kita dapat mengatakan bahwa ia benar-benar mengetahui? Gettier (1963) kemudian menerbitkan artikel pendek di jurnal Analysis yang menyajikan contoh-contoh serupa dan memicu perdebatan panjang dalam epistemologi modern.

Contoh jam mati ini sangat relevan dengan zaman kita. Banyak orang meyakini sesuatu yang kebetulan benar, tetapi dengan alasan yang keliru, misalnya karena membacanya di pesan berantai yang tidak jelas sumbernya. Hari ini mungkin kebetulan benar; besok, dengan cara berpikir yang sama, ia akan meyakini sesuatu yang salah. Epistemologi mengajarkan bahwa yang penting bukan hanya apakah kita benar, tetapi juga apakah cara kita sampai pada keyakinan itu dapat dipertanggungjawabkan.

Akal atau Pengalaman?

Pertanyaan berikutnya adalah dari mana pengetahuan berasal. Dalam filsafat Barat modern, ada dua jawaban besar. Rasionalisme, yang diwakili antara lain oleh Descartes (1996), menekankan akal sebagai sumber utama pengetahuan yang pasti. Descartes memulai dengan meragukan segala sesuatu, termasuk keberadaan dunia luar, sampai ia menemukan satu hal yang tidak dapat diragukan: bahwa ia sedang berpikir, dan karena itu ia ada. Dari titik kepastian itu, ia mencoba membangun kembali seluruh pengetahuan.

Empirisme, yang diwakili antara lain oleh Locke (1975) dan Hume (2007), menekankan pengalaman inderawi sebagai sumber pengetahuan. Locke memandang pikiran manusia pada awalnya seperti kertas kosong yang diisi oleh pengalaman. Hume melangkah lebih jauh dengan mempersoalkan dasar dari penalaran induktif: hanya karena matahari terbit setiap pagi di masa lalu, apa jaminannya bahwa matahari akan terbit besok? Pertanyaan Hume ini mengguncang keyakinan tentang kepastian pengetahuan ilmiah.

Immanuel Kant, filsuf Jerman abad ke-18, mencoba menyatukan kedua arus ini. Dalam Kritik atas Akal Budi Murni (Kant, 1998), ia berargumen bahwa pengetahuan lahir dari perpaduan antara pengalaman inderawi dan struktur akal yang mengolahnya. Ia merumuskannya dengan ungkapan terkenal: konsep tanpa pengalaman adalah kosong, pengalaman tanpa konsep adalah buta. Kant juga menegaskan batas akal teoretis: pertanyaan tentang Tuhan dan jiwa, menurutnya, hanya dapat didekati melalui akal praktis dan iman.

Tiga Sumber Pengetahuan dalam Akidah

Tradisi Islam memiliki epistemologi yang sangat kaya, dan menariknya, sebagian rumusannya bahkan terdapat dalam kitab-kitab akidah yang dipelajari di dayah dan pesantren. Najmuddin Al-Nasafi, ulama Maturidiyah abad ke-12, dalam kitab akidahnya yang terkenal beserta syarah Al-Taftazani (Elder, 1950), merumuskan bahwa sumber-sumber pengetahuan bagi manusia ada tiga: indera yang sehat, berita yang benar, dan akal.

Indera yang sehat memberi kita pengetahuan tentang dunia yang dapat diamati. Berita yang benar terbagi dua: berita yang disampaikan oleh begitu banyak orang sehingga mustahil mereka bersepakat untuk berbohong, yang disebut mutawatir, dan berita yang disampaikan oleh Rasul yang didukung mukjizat. Akal memberi kita pengetahuan melalui penalaran, baik yang bersifat langsung maupun yang memerlukan pembuktian. Al-Nasafi juga menegaskan bahwa ilham, bisikan batin, tidak termasuk sumber pengetahuan yang dapat dijadikan dasar bagi orang lain.

Rumusan ini menarik karena sangat seimbang. Ia tidak menolak indera seperti sebagian rasionalis, tidak menolak akal seperti sebagian empiris, dan memberi tempat khusus bagi kesaksian atau berita yang benar, sesuatu yang dalam epistemologi Barat baru mendapat perhatian serius pada abad ke-20. Ia juga berhati-hati terhadap klaim pengalaman batin yang tidak dapat diuji.

Al-Ghazali dan Cahaya Kepastian

Pada abad ke-11, Al-Ghazali menjalani sebuah perjalanan epistemologis yang sangat dramatis, yang ia ceritakan dalam Al-Munqidz min al-Dhalal (Al-Ghazali, 1980). Ia mendambakan pengetahuan yang pasti, yang tidak dapat diragukan sedikit pun. Ia mulai menguji pengetahuan inderawi dan menemukan bahwa indera dapat menipu. Bayangan tampak diam, padahal sebenarnya bergerak perlahan. Bintang tampak kecil seukuran koin, padahal ia jauh lebih besar dari bumi. Jika indera dapat keliru, bagaimana kita dapat mempercayainya sepenuhnya?

Al-Ghazali kemudian beralih kepada akal. Tetapi ia bertanya: bagaimana jika akal pun dapat keliru, sebagaimana indera dikoreksi oleh akal? Mungkin ada tingkat pengetahuan yang lebih tinggi yang akan mengoreksi akal, sebagaimana orang yang bermimpi baru menyadari kekeliruan mimpinya ketika terbangun. Keraguan ini membawanya pada krisis yang berat, hingga ia jatuh sakit. Menurut pengakuannya, ia terbebas dari krisis itu bukan melalui argumen, melainkan melalui cahaya yang dianugerahkan Allah ke dalam dadanya, yang mengembalikan kepercayaannya pada prinsip-prinsip dasar akal.

Kisah Al-Ghazali menyimpan pelajaran yang sangat dalam. Keraguan metodis, jauh sebelum Descartes, sudah dijalani oleh seorang ulama Muslim. Tetapi Al-Ghazali juga menunjukkan batas keraguan: pada titik tertentu, manusia membutuhkan landasan yang tidak dapat dibuktikan sepenuhnya oleh akal, dan landasan itu, baginya, adalah anugerah Ilahi.

Tiga Corak Nalar

Pada akhir abad ke-20, pemikir Maroko Al-Jabiri (1986) memetakan nalar Arab-Islam ke dalam tiga corak. Pertama, nalar bayani, yang bertumpu pada teks dan bahasa, dan sangat kuat dalam ilmu fikih, ushul fikih, dan tafsir. Kedua, nalar burhani, yang bertumpu pada demonstrasi rasional dan pengamatan, yang berkembang dalam filsafat dan ilmu-ilmu alam. Ketiga, nalar ’irfani, yang bertumpu pada pengalaman batin dan intuisi, yang berkembang dalam tasawuf.

Al-Jabiri sendiri cenderung kritis terhadap nalar ’irfani dan mendorong penguatan nalar burhani. Di Indonesia, Abdullah (2006) mengambil pemetaan ini, tetapi mengusulkan agar ketiganya tidak dipisahkan, melainkan dihubungkan secara melingkar, saling mengoreksi dan saling melengkapi. Nalar bayani yang tidak disapa nalar burhani akan kaku dan tertutup. Nalar burhani yang tidak disapa nalar ’irfani akan kering dan kehilangan makna. Nalar ’irfani yang tidak dikontrol nalar bayani dan burhani dapat terjebak dalam klaim-klaim yang tidak dapat diuji.

Dalam Persuit Epistemology of Islamic Studies, buku kedua dari Arah Baru Metodologi Studi Islam, saya menekankan pentingnya kesadaran epistemologis semacam ini bagi studi Islam (Tabrani ZA, 2015a; Tabrani ZA, 2015b). Seorang pengkaji Islam perlu menyadari corak nalar yang sedang ia pakai, kekuatan dan keterbatasannya, serta kapan ia perlu meminjam corak nalar yang lain. Tanpa kesadaran ini, studi Islam mudah terjebak dalam satu corak saja, dan kehilangan kekayaan tradisinya sendiri.

Ilmu Hadis dan Epistemologi Kesaksian

Salah satu sumbangan terbesar tradisi Islam bagi epistemologi adalah ilmu hadis. Sebagian besar pengetahuan kita sebenarnya tidak berasal dari pengamatan atau penalaran kita sendiri, melainkan dari kesaksian orang lain: guru, buku, berita, dan para ahli. Pertanyaannya, kapan kesaksian dapat dipercaya?

Para ulama hadis mengembangkan sistem yang sangat canggih untuk menjawab pertanyaan ini. Mereka meneliti sanad, mata rantai periwayat, untuk memastikan bahwa setiap periwayat benar-benar bertemu dengan periwayat sebelumnya. Mereka menilai ’adalah, integritas moral periwayat, dan dhabth, kekuatan hafalan dan ketelitiannya. Mereka juga meneliti matan, isi riwayat, untuk memastikan tidak ada kejanggalan atau pertentangan dengan riwayat yang lebih kuat.

Sistem ini adalah salah satu upaya paling teliti dalam sejarah manusia untuk menguji kebenaran kesaksian. Di zaman pesan berantai, prinsip-prinsipnya sangat relevan. Siapa yang pertama kali menyampaikan berita ini? Apakah ia dapat dipercaya? Apakah ia benar-benar menyaksikan sendiri, atau hanya mendengar dari orang lain? Apakah isinya masuk akal dan tidak bertentangan dengan sumber yang lebih kuat? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah ilmu hadis yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Imam Muslim, dalam pengantar kitab Shahih-nya, meriwayatkan peringatan bahwa cukuplah seseorang dianggap berdusta bila ia menyampaikan setiap hal yang ia dengar.

Pascakebenaran dan Tabayyun

Beberapa tahun lalu, sebuah kamus terkemuka berbahasa Inggris memilih istilah post-truth, pascakebenaran, sebagai kata tahun itu. Istilah ini menggambarkan keadaan ketika fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi. Orang tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar, tetapi apakah sesuatu itu sesuai dengan apa yang ingin mereka percayai.

Al-Qur’an, berabad-abad sebelumnya, telah memberi prinsip yang sangat jelas untuk menghadapi keadaan semacam ini. Dalam Surat Al-Hujurat, orang beriman diperintahkan untuk memeriksa dengan teliti setiap berita yang dibawa oleh orang yang tidak dapat dipercaya, agar mereka tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena ketidaktahuan, lalu menyesal atas perbuatan mereka. Prinsip ini dikenal sebagai tabayyun.

Tabayyun adalah epistemologi praktis. Ia menuntut kita menunda penilaian sebelum memeriksa, membedakan antara berita dan opini, mencari sumber asli, dan bersedia mengubah keyakinan bila bukti menunjukkan sebaliknya. Ia juga menuntut kejujuran terhadap diri sendiri. Menariknya, Pennycook dan Rand (2019), dalam jurnal Cognition, menemukan bahwa orang mempercayai kabar palsu bukan terutama karena bias politik, tetapi karena malas berpikir: mereka yang meluangkan waktu sejenak untuk menimbang jauh lebih mampu membedakan kabar benar dan palsu. Tabayyun, dengan kata lain, adalah kebiasaan berhenti sejenak sebelum percaya.

Kajian kami bersama kolega tentang integrasi KKNI, SNPT, dan paradigma integrasi-interkoneksi dalam pengembangan kurikulum di perguruan tinggi keagamaan Islam memperlihatkan bahwa integrasi adalah proses yang terus dirumuskan ulang, bukan rumusan yang selesai sekali jadi (Faisal et al., 2021). Gagasan ini juga berlaku bagi kehidupan sehari-hari: pengetahuan bukan sesuatu yang selesai sekali jadi, tetapi proses yang terus-menerus diperiksa, diuji, dan diperbaiki.

Penutup: Menjawab Sang Ibu

Kembali ke pertanyaan sang ibu di kampung: bagaimana kita tahu mana yang benar? Epistemologi tidak memberi jawaban yang sederhana, tetapi ia memberi beberapa pegangan. Periksa sumbernya. Tanyakan apakah orang yang menyampaikan benar-benar mengetahui. Bandingkan dengan sumber lain yang lebih dapat dipercaya. Waspadai berita yang membangkitkan ketakutan atau kemarahan berlebihan. Dan jangan terburu-buru menyebarkan sesuatu sebelum yakin akan kebenarannya.

Pegangan-pegangan ini sesungguhnya bukan barang baru. Ia telah lama diajarkan oleh para ulama hadis, oleh Al-Nasafi dalam kitab akidahnya, dan oleh Al-Qur’an dalam perintah tabayyun. Yang kita perlukan adalah menghidupkannya kembali dalam kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa manusia tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit. Kesadaran ini adalah epistemologi yang paling dalam: kerendahan hati di hadapan luasnya kebenaran. Orang yang menyadari keterbatasan pengetahuannya akan lebih berhati-hati dalam meyakini, lebih teliti dalam memeriksa, dan lebih santun dalam berbeda pendapat. Di zaman ketika semua orang merasa paling tahu, kerendahan hati semacam itu adalah awal dari pengetahuan yang sejati.

References

Abdullah, M. A. (2006). Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Al-Ghazali. (1980). Freedom and Fulfillment: An Annotated Translation of al-Ghazali’s al-Munqidh min al-Dalal (R. J. McCarthy, Trans.). Boston: Twayne.

Al-Jabiri, M. A. (1986). Bunyat al-’Aql al-’Arabi. Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-’Arabiyyah.

Descartes, R. (1996). Meditations on First Philosophy (J. Cottingham, Trans.). Cambridge: Cambridge University Press.

Elder, E. E. (Trans.). (1950). A Commentary on the Creed of Islam: Sa’d al-Din al-Taftazani on the Creed of Najm al-Din al-Nasafi. New York: Columbia University Press.

Faisal, M., Tabrani ZA, Siswanto, R., Hayati, H., & Darojat, J. (2021). The Integration of KKNI, SNPT, and the Integration-Interconnection Paradigm in Curriculum Development at PTKI. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 9(2). https://doi.org/10.26811/peuradeun.v9i2.528

Gettier, E. L. (1963). Is Justified True Belief Knowledge? Analysis, 23(6), 121–123. https://doi.org/10.1093/analys/23.6.121

Hume, D. (2007). An Enquiry Concerning Human Understanding (P. Millican, Ed.). Oxford: Oxford University Press.

Kant, I. (1998). Critique of Pure Reason (P. Guyer & A. W. Wood, Trans.). Cambridge: Cambridge University Press.

Locke, J. (1975). An Essay Concerning Human Understanding (P. H. Nidditch, Ed.). Oxford: Clarendon Press.

Pennycook, G., & Rand, D. G. (2019). Lazy, Not Biased: Susceptibility to Partisan Fake News Is Better Explained by Lack of Reasoning than by Motivated Reasoning. Cognition, 188, 39–50. https://doi.org/10.1016/j.cognition.2018.06.011

Plato. (1997). Complete Works (J. M. Cooper, Ed.). Indianapolis: Hackett.

Russell, B. (1948). Human Knowledge: Its Scope and Limits. London: George Allen & Unwin.

Tabrani ZA. (2015a). Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Tabrani ZA. (2015b). Persuit Epistemology of Islamic Studies: Buku Dua Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The Spread of True and False News Online. Science, 359(6380), 1146–1151. https://doi.org/10.1126/science.aap9559

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →

Archive