EDUCATION ZONE
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
Read about the INSTAL Model →
← Back to home

Guru di Zaman Mesin yang Pandai Menjawab: Pendidikan Islam, Kecerdasan Buatan, dan Sanad Ilmu

August 23, 2025
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini merenungkan posisi guru dan tradisi keilmuan Islam di tengah kehadiran kecerdasan buatan generatif yang mampu menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik. Penulis berangkat dari kegelisahan sehari-hari di ruang kelas dan meja redaksi jurnal: mahasiswa yang lebih dahulu bertanya kepada mesin daripada kepada guru, tugas-tugas yang ditulis tanpa pergulatan, hingga rujukan fiktif yang muncul dalam naskah ilmiah. Untuk membaca fenomena ini, esai menimbang tradisi sanad, talaqqi, dan ijazah dalam keilmuan Islam, pandangan Ibn Khaldun tentang belajar sebagai pembentukan malakah atau kecakapan yang mengakar, serta kritik Neil Postman dan Nicholas Carr tentang budaya teknologi. Sejarah lambatnya dunia Islam menerima mesin cetak juga dibaca sebagai pelajaran tentang bahaya menolak maupun bahaya menyerah kepada teknologi. Merujuk kajian penulis tentang paradigma pendidikan kritis dan konsep pendidikan kritis dalam era pendidikan 4.0, serta temuan Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang peningkatan kompetensi dosen, esai ini berargumen bahwa peran guru tidak hilang, tetapi bergeser: dari sumber informasi menjadi murabbi, pembimbing yang menumbuhkan kebijaksanaan, kejujuran, dan adab. Mesin dapat menjawab, tetapi tidak dapat meneladani.

Keywords: Pendidikan Islam; Kecerdasan buatan; Sanad; Talaqqi; Adab digital

KEY POINTS

  • Kecerdasan buatan generatif mengubah cara murid mencari jawaban; tantangannya bukan teknis semata, melainkan epistemologis dan etis.
  • Tradisi sanad dan talaqqi mengajarkan bahwa ilmu bukan hanya informasi, tetapi amanah yang diterima melalui perjumpaan dengan guru.
  • Ibn Khaldun memandang belajar sebagai pembentukan kecakapan yang mengakar, yang tidak bisa diperoleh dengan jalan pintas.
  • Sejarah mesin cetak di dunia Islam mengajarkan bahwa menolak teknologi dan menyerah kepadanya sama-sama berbahaya.
  • Peran guru bergeser dari pemberi jawaban menjadi pembimbing yang menumbuhkan pertanyaan, kejujuran, dan kebijaksanaan.
  • Adab digital perlu dirumuskan: kejujuran dalam memakai mesin, verifikasi atas jawabannya, dan kesadaran bahwa pergulatan adalah bagian dari ilmu.

— — — ARTICLE — — —

Pertanyaan Tengah Malam

Bayangkan seorang mahasiswa di tengah malam. Besok pagi ia harus mengumpulkan makalah tentang hukum zakat profesi. Dulu, mahasiswa seperti dia akan berangkat ke perpustakaan, membuka kitab-kitab fikih, menelusuri catatan kaki, atau mengetuk pintu rumah dosennya dengan malu-malu. Kini, ia cukup mengetik sebuah pertanyaan di layar ponselnya. Dalam hitungan detik, sebuah mesin menjawab dengan rapi: lengkap dengan pendapat ulama, dalil, dan kesimpulan. Bahkan mesin itu bersedia menuliskan makalahnya sekalian.

Di tempat lain, di sebuah dayah di pedalaman Aceh, seorang santri sedang duduk bersila di hadapan teungkunya. Ia membaca sebaris demi sebaris kitab fikih, tersendat di beberapa kata, dikoreksi, mengulang, lalu bertanya tentang hal yang belum dipahaminya. Prosesnya lambat. Satu bab bisa memakan waktu berminggu-minggu.

Dua pemandangan ini menggambarkan perubahan besar yang sedang kita alami. Pertanyaannya bukan mana yang lebih cepat, karena jawabannya sudah jelas. Pertanyaannya adalah: apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri seseorang ketika ia belajar? Dan apakah kecepatan memperoleh jawaban sama dengan memperoleh ilmu?

Mesin yang Pandai Menjawab

Kecerdasan buatan generatif adalah teknologi yang mampu menghasilkan teks, gambar, dan berbagai keluaran lain berdasarkan pola dari data dalam jumlah raksasa. Ia dapat merangkum buku, menerjemahkan teks, menjelaskan konsep, bahkan menulis esai seperti ini. Bagi dunia pendidikan, kemampuannya menakjubkan sekaligus menggelisahkan. Kasneci et al. (2023), dalam ulasan yang banyak dikutip di jurnal Learning and Individual Differences, memetakan dua sisi itu: model bahasa besar dapat menjadi tutor yang sabar dan personal, tetapi juga membawa risiko ketergantungan, bias, dan melemahnya kemampuan berpikir mandiri bila dipakai tanpa kecakapan kritis.

Menakjubkan, karena ia membuka akses pengetahuan yang belum pernah terbayangkan. Mahasiswa di kampung terpencil kini dapat bertanya tentang teori pendidikan atau tafsir ayat dengan mudah, tanpa harus menunggu dosen atau perpustakaan yang lengkap. Menggelisahkan, karena kemudahan itu membawa godaan untuk melompati proses belajar itu sendiri.

Sebagai pengelola jurnal ilmiah, saya menyaksikan sisi gelapnya secara langsung. Semakin sering naskah masuk dengan bahasa yang licin tetapi argumen yang kosong. Yang lebih mengkhawatirkan, tidak jarang ditemukan rujukan yang tampak meyakinkan, lengkap dengan nama penulis, judul, dan nama jurnal, tetapi ternyata tidak pernah ada. Mesin itu tidak sedang berbohong dengan sengaja; ia hanya menyusun pola yang terdengar masuk akal. Tetapi akibatnya bagi kejujuran ilmiah sangat serius. Seorang penulis yang tidak memeriksa ulang jawabannya telah menyerahkan otoritas keilmuannya kepada sesuatu yang tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.

Sanad: Ilmu sebagai Amanah

Tradisi keilmuan Islam memiliki konsep yang sangat relevan untuk membaca persoalan ini: sanad. Dalam ilmu hadis, sanad adalah mata rantai periwayat yang menghubungkan sebuah riwayat hingga kepada Rasulullah. Para ulama hadis menghabiskan hidup mereka untuk menelusuri siapa meriwayatkan dari siapa, apakah ia jujur, apakah hafalannya kuat, apakah mereka benar-benar pernah bertemu. Abdullah ibn al-Mubarak, ulama abad ke-8 yang ucapannya dicatat Imam Muslim dalam pengantar Shahih-nya, mengungkapkan bahwa sanad adalah bagian dari agama; tanpa sanad, siapa saja bisa mengatakan apa saja yang ia mau.

Prinsip sanad kemudian meluas ke seluruh tradisi keilmuan. Di pesantren dan dayah, santri tidak hanya membaca kitab, tetapi menerima kitab itu melalui talaqqi, belajar langsung di hadapan guru. Setelah menyelesaikan sebuah kitab, ia mungkin menerima ijazah, izin untuk mengajarkannya kembali, yang menyambungkan dirinya dengan mata rantai guru hingga pengarangnya. Ilmu, dalam tradisi ini, bukan barang yang dapat diambil begitu saja dari rak, melainkan amanah yang diterima dari tangan ke tangan, dari hati ke hati.

Mengapa tradisi kita begitu menekankan perjumpaan langsung? Karena ilmu dalam Islam tidak pernah dipahami sebagai informasi semata. Ilmu menyangkut cara memahami, cara menimbang, dan cara bersikap. Seorang murid tidak hanya belajar apa yang dikatakan guru, tetapi juga bagaimana guru itu berpikir, ragu, berhati-hati, dan mengakui keterbatasannya. Ia belajar kapan harus berkata “saya tidak tahu”, sebuah ungkapan yang konon diucapkan Imam Malik untuk sebagian besar pertanyaan yang diajukan kepadanya dalam satu majelis. Hal-hal semacam ini tidak dapat diunduh. Dalam Persuit Epistemology of Islamic Studies, saya menyebut persoalan ini sebagai persoalan sumber dan otoritas pengetahuan: epistemologi Islam tidak hanya bertanya apa yang benar, tetapi juga dari mana dan melalui siapa kebenaran itu sampai kepada kita (Tabrani ZA, 2015b).

Tentu saja, sanad juga bisa kehilangan ruhnya. Ada kalanya ijazah diperlakukan sekadar sebagai silsilah kebanggaan, deretan nama yang dipamerkan tanpa diiringi kedalaman ilmu dan keluhuran akhlak. Para ulama sendiri mengingatkan bahwa sanad bukan jimat. Ia adalah tanggung jawab moral: orang yang menerima ijazah memikul amanah untuk menjaga kemurnian ilmu yang diterimanya dan menyampaikannya dengan jujur. Justru di sinilah letak relevansinya bagi zaman kita. Yang dibutuhkan bukan sekadar mengetahui dari mana sebuah informasi berasal, melainkan menghidupkan kembali etos tanggung jawab atas setiap pengetahuan yang kita sebarkan.

Mesin yang pandai menjawab tidak memiliki sanad. Ia tidak bisa ditanya dari siapa ia belajar, dan ia hampir tidak pernah berkata “saya tidak tahu” dengan kerendahan hati seorang alim. Inilah perbedaan mendasar yang perlu disadari oleh setiap pendidik dan pelajar Muslim.

Ibn Khaldun dan Kecakapan yang Mengakar

Ibn Khaldun (1958), dalam Muqaddimah, memberi perhatian khusus pada pendidikan. Ia memandang pengajaran ilmu sebagai sebuah keterampilan, dan tujuan belajar sebagai terbentuknya malakah: kecakapan yang mengakar dalam diri, sehingga seseorang mampu memahami pokok-pokok sebuah ilmu dan menurunkan cabang-cabangnya sendiri. Malakah tidak lahir dari menghafal ringkasan. Ia lahir dari latihan yang panjang, dari bergulat dengan persoalan, dan dari perjumpaan dengan para guru. Ibn Khaldun bahkan menganjurkan perjalanan mencari ilmu dan berguru kepada banyak ulama, karena perjumpaan langsung memperkuat dan memperhalus kecakapan itu.

Pandangan ini memberi kita kacamata yang tajam. Ketika seorang mahasiswa meminta mesin menuliskan makalahnya, ia mungkin memperoleh makalah yang baik. Tetapi ia tidak memperoleh malakah. Ia melewatkan tepat pada bagian yang paling penting dari belajar: kebingungan yang memaksa berpikir, kegagalan yang memaksa mengulang, dan kepuasan ketika akhirnya memahami. Pergulatan itu bukan hambatan bagi ilmu; pergulatan itu sendiri adalah ilmu.

Carr (2010), dalam The Shallows, mengajukan kegelisahan serupa dari sudut pandang zaman digital. Ia berargumen bahwa kebiasaan berselancar dari satu informasi ke informasi lain mengubah cara otak kita bekerja: kita menjadi terbiasa membaca dangkal dan sulit berkonsentrasi pada teks panjang yang menuntut perenungan. Jika itu terjadi karena internet, bayangkan apa yang terjadi bila mesin bahkan mengambil alih kerja berpikir itu sendiri.

Pelajaran dari Mesin Cetak

Namun, kita juga perlu berhati-hati agar tidak jatuh pada sikap menolak teknologi secara membabi buta. Sejarah memberi pelajaran yang berharga. Ketika mesin cetak berkembang pesat di Eropa sejak abad ke-15, dunia Islam relatif lambat menerimanya untuk mencetak teks berbahasa Arab. Di wilayah Usmani, percetakan berhuruf Arab yang dikelola Muslim baru mendapat izin resmi pada awal abad ke-18 melalui usaha Ibrahim Müteferrika, dan itu pun dengan pembatasan, terutama untuk teks-teks keagamaan. Para sejarawan mengajukan berbagai penjelasan: penghormatan terhadap tradisi kaligrafi dan manuskrip, kekhawatiran akan kesalahan dalam menyalin teks suci, kepentingan para penyalin naskah, hingga faktor ekonomi. Apa pun sebabnya, keterlambatan itu ikut memengaruhi peredaran ilmu di dunia Muslim (Robinson, 1993).

Ironisnya, ketika akhirnya mesin cetak diterima, ia justru menjadi sarana luar biasa bagi penyebaran ilmu keislaman. Robinson mencatat sisi lain yang jarang disadari: cetak membuat kitab dapat dibaca tanpa guru, sehingga perlahan menggeser otoritas ulama dan membuka jalan bagi tafsir-tafsir pribadi. Mesin hari ini hanya mempercepat pergeseran yang sama. Kitab-kitab kuning yang kini dipelajari di pesantren dan dayah sebagian besar adalah hasil cetakan. Teknologi yang semula dicurigai akhirnya melayani tradisi.

Pelajarannya ada dua. Pertama, menolak teknologi secara total bukan jawaban; ia hanya akan membuat kita tertinggal dan kehilangan kesempatan memanfaatkan kebaikannya. Kedua, menyerah sepenuhnya kepada teknologi juga bukan jawaban. Postman (1992), dalam Technopoly, mengingatkan bahaya budaya yang menyerahkan seluruh otoritasnya kepada teknologi, sehingga pertanyaan tentang makna dan nilai digantikan oleh pertanyaan tentang efisiensi. Sikap yang dewasa adalah sikap yang menimbang: kapan teknologi melayani tujuan pendidikan, dan kapan ia justru menggerogotinya.

Guru: Dari Sumber Jawaban Menjadi Murabbi

Lalu, di mana posisi guru? Jika mesin dapat menjawab hampir semua pertanyaan faktual, apakah guru masih diperlukan? Jawabannya: guru tetap diperlukan, bahkan lebih dari sebelumnya, tetapi dengan peran yang bergeser.

Selama ini, banyak guru dan dosen berperan terutama sebagai sumber informasi. Peran ini memang akan tergeser. Menariknya, tinjauan sistematis Zawacki-Richter et al. (2019) atas ratusan penelitian kecerdasan buatan di pendidikan tinggi menemukan bahwa sebagian besar kajian ditulis dari sudut teknologi dan nyaris tidak menimbang peran pendidik serta dimensi etis-pedagogisnya. Pertanyaan “di mana para pendidik?” yang mereka ajukan adalah pertanyaan kita juga. Tetapi tradisi pendidikan Islam sejak awal tidak memandang guru hanya sebagai penyampai informasi. Guru adalah mu’allim yang mengajarkan ilmu, murabbi yang menumbuhkan, mu’addib yang membentuk adab, dan mursyid yang membimbing jalan. Peran-peran inilah yang tidak dapat digantikan mesin.

Dalam artikel yang saya tulis bersama Saifullah Idris dan Fikri Sulaiman tentang paradigma pendidikan kritis dalam perspektif pendidikan Islam, serta dalam kajian kami tentang konsep pendidikan kritis yang dimuat dalam kumpulan tulisan tentang teknologi inovatif bagi pendidikan 4.0, kami menekankan bahwa pendidikan harus menumbuhkan kesadaran kritis (Idris et al., 2018; Idris et al., 2020). Di zaman mesin yang pandai menjawab, kesadaran kritis menjadi kebutuhan yang mendesak. Murid perlu dilatih untuk bertanya: dari mana jawaban ini berasal? Apakah ia dapat diverifikasi? Apa yang tidak dikatakan oleh jawaban ini? Siapa yang diuntungkan oleh cara berpikir tertentu?

Pergeseran peran ini menuntut peningkatan kompetensi para pendidik. Kajian Riza et al. (2024) di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang peningkatan kompetensi dosen untuk mendorong inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran menunjukkan pentingnya pengembangan profesional yang berkelanjutan. Dosen tidak cukup hanya menguasai materi; ia perlu mampu merancang pembelajaran yang menantang, kreatif, dan relevan dengan perubahan zaman.

Sebagai contoh sederhana, alih-alih memberi tugas “jelaskan konsep zakat profesi”, yang dapat dijawab mesin dalam sekejap, seorang dosen dapat meminta mahasiswa meminta jawaban dari mesin, lalu membandingkannya dengan kitab-kitab fikih dan fatwa yang otoritatif. Mahasiswa diminta menemukan bagian mana yang tepat, mana yang keliru, mana yang menyederhanakan perbedaan pendapat, dan mana yang sama sekali tidak bersumber. Tugas semacam ini tidak mengharamkan teknologi, tetapi menjadikannya bahan latihan berpikir kritis. Inilah semangat yang saya rumuskan dalam Arah Baru Metodologi Studi Islam: metode bukan sekadar teknik, tetapi sikap menguji setiap klaim pengetahuan (Tabrani ZA, 2015a).

Merumuskan Adab Digital

Dalam praktik, apa yang dapat dilakukan lembaga pendidikan Islam? Saya ingin mengusulkan beberapa langkah yang berangkat dari tradisi kita sendiri.

Pertama, kejujuran dalam memakai mesin. Sebagaimana tradisi sanad menuntut kejelasan dari mana sebuah riwayat berasal, murid dan peneliti perlu jujur menyatakan kapan dan bagaimana mereka memakai kecerdasan buatan. Menyembunyikannya adalah bentuk ketidakjujuran ilmiah.

Kedua, verifikasi sebagai kewajiban. Al-Qur’an memerintahkan untuk memeriksa kebenaran berita yang dibawa oleh orang yang tidak dapat dipercaya. Jawaban mesin harus diperlakukan dengan sikap yang sama: diperiksa, dibandingkan dengan sumber asli, dan tidak diterima begitu saja.

Ketiga, menilai proses, bukan hanya hasil. Tradisi munaqasyah, ujian lisan di mana murid mempertahankan pemahamannya di hadapan guru, layak dihidupkan kembali. Dalam percakapan langsung, akan segera tampak apakah seseorang benar-benar memahami atau hanya menyalin.

Keempat, memanfaatkan mesin sebagai teman berlatih, bukan pengganti berpikir. Mesin dapat dipakai untuk menguji argumen, mencari sudut pandang yang berlawanan, atau menjelaskan konsep yang sulit, selama murid tetap menjadi subjek yang berpikir.

Kelima, pedoman kelembagaan yang jelas. Madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi keagamaan Islam perlu merumuskan pedoman penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran, penulisan tugas akhir, dan publikasi ilmiah. Pedoman itu sebaiknya tidak hanya berisi larangan, tetapi juga panduan pemanfaatan yang bertanggung jawab, agar murid tidak bingung tentang apa yang dianggap jujur dan apa yang dianggap curang.

Penutup: Mesin Menjawab, Guru Meneladani

Kembali ke dua pemandangan di awal esai ini. Mahasiswa di tengah malam dan santri di hadapan teungkunya tidak harus dipertentangkan. Mahasiswa itu boleh memakai mesin untuk membantunya memahami persoalan zakat profesi. Tetapi ia tetap membutuhkan sesuatu yang dimiliki santri di dayah: perjumpaan dengan guru yang dapat mengoreksinya, menantangnya, dan meneladankan bagaimana ilmu dijalani dengan rendah hati.

Mesin dapat menjawab pertanyaan, tetapi tidak dapat menumbuhkan rasa ingin tahu. Ia dapat menyusun kalimat, tetapi tidak dapat menanamkan kejujuran. Ia dapat menampilkan dalil, tetapi tidak dapat meneladankan bagaimana dalil itu diamalkan dalam hidup yang nyata.

Barangkali inilah zaman ketika kita justru semakin memahami mengapa para ulama dahulu begitu menjunjung sanad. Di tengah banjir jawaban yang tak bertuan, kita merindukan ilmu yang punya asal-usul, guru yang punya wajah, dan kebijaksanaan yang punya jejak. Sebab yang membuat ilmu menjadi cahaya bukan hanya isinya, melainkan juga jalan yang ditempuh untuk sampai kepadanya.

References

Carr, N. (2010). The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. New York: W. W. Norton.

Ibn Khaldun. (1958). The Muqaddimah: An Introduction to History (F. Rosenthal, Trans.). New York: Pantheon Books.

Idris, S., Tabrani ZA, & Sulaiman, F. (2018). Critical Education Paradigm in the Perspective of Islamic Education. Advanced Science Letters, 24(11), 8226–8230.

Idris, S., Tabrani ZA, Sulaiman, F., & Amsori. (2020). Assessment of Critical Education Concepts in the Perspective of Islamic Education. Dalam A. Kusmawan et al. (Eds.), Emerging Perspectives and Trends in Innovative Technology for Quality Education 4.0 (pp. 66–70). London: Routledge.

Kasneci, E., Sessler, K., Küchemann, S., Bannert, M., Dementieva, D., Fischer, F., et al. (2023). ChatGPT for Good? On Opportunities and Challenges of Large Language Models for Education. Learning and Individual Differences, 103, 102274. https://doi.org/10.1016/j.lindif.2023.102274

Postman, N. (1992). Technopoly: The Surrender of Culture to Technology. New York: Alfred A. Knopf.

Riza, S., Syarif, M., Mardatillah, F., Salam, A. J., Khafidah, W., & Yusuf, M. (2024). Improving Lecturer Competence to Encourage Innovation and Creativity in Learning. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 12(1), 249–272. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v12i1.1078

Robinson, F. (1993). Technology and Religious Change: Islam and the Impact of Print. Modern Asian Studies, 27(1), 229–251.

Tabrani ZA. (2015a). Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Tabrani ZA. (2015b). Persuit Epistemology of Islamic Studies: Buku Dua Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Zawacki-Richter, O., Marín, V. I., Bond, M., & Gouverneur, F. (2019). Systematic Review of Research on Artificial Intelligence Applications in Higher Education: Where Are the Educators? International Journal of Educational Technology in Higher Education, 16, 39. https://doi.org/10.1186/s41239-019-0171-0

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →

Archive