EDUCATION ZONE
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
Read about the INSTAL Model →
← Back to home

Fitrah, Kebebasan, dan Determinisme: Antropologi Filosofis Pendidikan Islam di Zaman yang Ingin Memprediksi Manusia

January 12, 2026
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini melanjutkan “Manusia Macam Apa yang Hendak Kita Didik?” dengan bergerak dari pertanyaan tentang kodrat bawaan menuju pertanyaan tentang kebebasan. Jika esai sebelumnya membandingkan tabula rasa, anak yang lahir baik, dan fitrah, esai ini bertanya: sejauh mana manusia yang dididik adalah subjek yang bebas, dan sejauh mana ia ditentukan oleh bawaan, lingkungan, atau sistem? Kegelisahan ini menjadi mendesak di zaman ketika pendidikan semakin dikelola melalui data, prediksi, dan algoritma yang berasumsi bahwa perilaku manusia dapat diukur dan diramalkan. Dengan menimbang perdebatan klasik teologi Islam tentang takdir dan ikhtiar, konsep khudi dalam pemikiran Muhammad Iqbal, gagasan Charles Taylor tentang sumber-sumber diri, teori determinasi diri Edward Deci dan Richard Ryan, serta visi Islam tentang manusia sebagai hamba dan khalifah, esai ini menawarkan antropologi filosofis pendidikan Islam yang menempatkan manusia sebagai subjek yang bebas-bertanggung jawab. Merujuk kajian penulis tentang jiwa dalam pembelajaran, konsep pendidikan humanis dan paradigma pendidikan kritis dalam perspektif Islam, serta penelitian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang pembangunan karakter di perguruan tinggi keagamaan Islam, esai ini berargumen bahwa pendidikan Islam harus menolak dua reduksi sekaligus: reduksi manusia menjadi objek yang dapat diprogram, dan reduksi kebebasan menjadi kehendak tanpa arah.

Keywords: Antropologi filosofis; Fitrah; Kebebasan; Determinisme; Determinasi diri

KEY POINTS

  • Pertanyaan tentang manusia dalam pendidikan tidak berhenti pada kodrat bawaan, tetapi juga menyangkut kebebasan.
  • Zaman data dan algoritma membawa godaan baru: memperlakukan murid sebagai objek yang dapat diprediksi dan diprogram.
  • Perdebatan takdir dan ikhtiar dalam teologi Islam menyimpan kearifan tentang kebebasan yang bertanggung jawab.
  • Iqbal menempatkan khudi, diri yang kreatif, sebagai tujuan pendidikan dan perjalanan spiritual.
  • Teori determinasi diri menunjukkan bahwa otonomi, kompetensi, dan keterhubungan adalah kebutuhan dasar manusia.
  • Pendidikan Islam harus menolak reduksi manusia menjadi objek, sekaligus menolak kebebasan tanpa arah.

— — — ARTICLE — — —

Dari Kodrat ke Kebebasan

Dalam “Manusia Macam Apa yang Hendak Kita Didik?”, kita telah membandingkan tiga jawaban besar tentang hakikat anak: kertas kosong dalam pandangan Locke, anak yang lahir baik dalam pandangan Rousseau, dan fitrah dalam pandangan Islam. Kita menyimpulkan bahwa pendidikan Islam lebih tepat dipahami sebagai upaya merawat dan membangunkan fitrah. Kesimpulan itu tetap kita pegang. Tetapi ada satu pertanyaan yang belum disentuh secara langsung: bila manusia lahir dengan fitrah dan dibentuk oleh lingkungan, di mana letak kebebasannya?

Pertanyaan ini bukan sekadar teka-teki filsafat. Ia menentukan cara kita mendidik. Bila manusia sepenuhnya ditentukan oleh bawaan, pendidikan menjadi upaya memilah anak menurut bakatnya. Bila manusia sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan, pendidikan menjadi rekayasa lingkungan. Tetapi bila manusia adalah subjek yang bebas, pendidikan menjadi upaya menumbuhkan kemampuan untuk memilih dengan benar.

Persoalannya kemudian semakin mendesak di zaman kita. Pendidikan semakin dikelola melalui data: nilai, absensi, rekam jejak digital, hasil asesmen yang diolah mesin. Berbagai sistem dirancang untuk memprediksi siapa yang akan berhasil, siapa yang berisiko gagal, dan materi apa yang paling cocok bagi setiap murid. Sistem-sistem ini membawa banyak manfaat. Tetapi ia juga membawa asumsi diam-diam bahwa manusia adalah sesuatu yang dapat diukur, diprediksi, dan diarahkan, seperti mesin yang dapat diatur.

Godaan Determinisme Baru

Determinisme bukan gagasan baru. Dalam esai sebelumnya, kita telah menyinggung keyakinan John B. Watson bahwa ia dapat membentuk selusin bayi menjadi apa saja yang ia kehendaki. Behaviorisme radikal memandang manusia sebagai hasil dari rangsangan dan penguatan, tanpa ruang bagi kehendak bebas. Di sisi lain, determinisme biologis memandang manusia sebagai hasil dari gen dan susunan otak.

Zaman kita melahirkan bentuk determinisme yang lebih halus, yang dapat kita sebut determinisme data. Ia tidak menyatakan secara terang-terangan bahwa manusia tidak bebas. Tetapi dengan memperlakukan setiap murid sebagai kumpulan data yang dapat diolah untuk meramalkan perilakunya, ia secara diam-diam menggeser cara kita memandang manusia. Murid tidak lagi dipandang sebagai pribadi yang dapat berubah secara tak terduga, bertobat, menemukan panggilan hidupnya, atau melampaui perkiraan siapa pun. Ia dipandang sebagai profil risiko, kurva pertumbuhan, atau kategori pembelajar.

Di sinilah letak problem mendasarnya. Pendidikan yang terlalu yakin dapat memprediksi manusia akan cenderung memperlakukan prediksinya sebagai takdir. Murid yang diprediksi gagal diberi harapan yang lebih rendah, dan harapan yang rendah sering menjadi ramalan yang memenuhi dirinya sendiri. Antropologi filosofis yang mendasari sebuah sistem pendidikan, dengan demikian, bukan wacana abstrak; ia menentukan nasib nyata anak-anak.

Takdir dan Ikhtiar: Kearifan dari Teologi

Tradisi Islam telah lama bergulat dengan pertanyaan tentang kebebasan manusia, terutama dalam perdebatan tentang takdir dan ikhtiar. Sebagaimana kita bahas dalam esai tentang akal dan wahyu, kaum Jabariyah memandang manusia tidak memiliki pilihan sama sekali, seperti bulu yang diterbangkan angin. Kaum Qadariyah dan Mu’tazilah menegaskan bahwa manusia sepenuhnya bebas menciptakan perbuatannya. Al-Asy’ari menawarkan jalan tengah melalui konsep kasb: Tuhan menciptakan perbuatan, tetapi manusia memperolehnya dan bertanggung jawab atasnya.

Perdebatan ini sering dianggap usang dan rumit. Tetapi ia menyimpan kearifan yang sangat relevan bagi pendidikan. Pertama, ia menolak determinisme total, karena determinisme total meniadakan tanggung jawab moral, dan tanpa tanggung jawab moral pendidikan kehilangan maknanya. Kedua, ia juga menolak kebebasan mutlak yang tidak mengakui batas, karena manusia hidup dalam kondisi yang tidak sepenuhnya ia pilih: keluarga, tubuh, zaman, dan takdir. Ketiga, ia menempatkan kebebasan manusia dalam hubungan dengan Tuhan: manusia bebas, tetapi kebebasannya bukan milik mutlak, melainkan amanah.

Dalam visi Islam tentang manusia, kebebasan dan ketundukan tidak dipertentangkan. Sachiko Murata dan William Chittick, dalam kajian mereka tentang visi Islam, menunjukkan bahwa manusia dipahami memiliki dua kedudukan sekaligus: sebagai hamba yang tunduk kepada Tuhan dan sebagai khalifah yang diberi amanah untuk bertindak di bumi (Murata & Chittick, 1994). Kedudukan sebagai khalifah mengandaikan kebebasan, karena amanah hanya dapat diberikan kepada yang mampu memilih. Kedudukan sebagai hamba memberi arah bagi kebebasan itu.

Iqbal dan Diri yang Kreatif

Muhammad Iqbal, penyair dan pemikir dari anak benua India, memberi tafsir yang sangat kuat tentang kebebasan manusia dalam Islam. Dalam The Reconstruction of Religious Thought in Islam, ia mengembangkan konsep khudi, diri atau ego, sebagai pusat dari pandangan Islam tentang manusia (Iqbal, 2013). Bagi Iqbal, manusia bukan makhluk pasif yang hanya menerima takdir, melainkan ego yang kreatif, yang dipanggil untuk terus tumbuh, berjuang, dan ikut serta dalam penciptaan yang terus berlangsung.

Iqbal mengkritik keras sikap fatalis yang menurutnya telah melemahkan umat Islam selama berabad-abad. Takdir, baginya, bukan nasib yang telah dituliskan secara kaku, melainkan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi ego untuk diwujudkan. Semakin kuat dan matang ego seseorang, semakin dekat ia kepada Tuhan, bukan semakin jauh. Inilah paradoks yang indah dalam pemikiran Iqbal: kebebasan sejati justru tumbuh dalam hubungan yang paling dalam dengan Tuhan.

Bagi pendidikan, gagasan Iqbal membawa pesan yang tegas. Tujuan pendidikan bukan menghasilkan manusia yang patuh dan mudah diatur, melainkan menumbuhkan diri yang kuat, kreatif, dan bertanggung jawab. Pendidikan yang mematikan inisiatif, keberanian, dan kreativitas murid, betapapun saleh tampilannya, sesungguhnya melemahkan khudi.

Sumber-Sumber Diri

Charles Taylor, dalam kajian monumentalnya tentang sumber-sumber diri, menelusuri bagaimana pemahaman Barat modern tentang diri terbentuk melalui sejarah panjang (Taylor, 1989). Ia menunjukkan bahwa identitas manusia selalu terbentuk dalam kerangka nilai yang lebih besar, yang ia sebut horizon makna. Manusia tidak dapat memahami dirinya tanpa merujuk pada apa yang ia anggap baik, berharga, dan bermakna.

Gagasan Taylor membantu kita melihat kelemahan pandangan modern yang memahami kebebasan semata-mata sebagai ketiadaan hambatan. Kebebasan tanpa horizon makna bukan kebebasan yang matang, melainkan kekosongan. Seorang murid yang bebas memilih apa saja tetapi tidak memiliki kerangka untuk menimbang mana yang baik akan mudah terombang-ambing oleh tren, iklan, dan tekanan kelompok. Di sinilah pendidikan Islam menawarkan sesuatu yang berharga: horizon makna yang bersumber dari tauhid, yang memberi arah bagi kebebasan tanpa mematikannya.

Merdeka Lahir dan Batin

Dari tanah air sendiri, Ki Hajar Dewantara telah lama merumuskan cita-cita pendidikan yang sejalan dengan antropologi ini. Baginya, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang merdeka lahir dan batin: tidak hidup terperintah, berdiri tegak karena kekuatan sendiri, dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib (Dewantara, 2011). Tetapi kemerdekaan dalam pengertian Ki Hajar bukan kebebasan tanpa batas. Ia selalu dikaitkan dengan tertib damai, dengan kodrat alam, dan dengan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Gagasan Ki Hajar memperlihatkan bahwa cita-cita kebebasan yang bertanggung jawab bukan barang impor. Ia telah dirumuskan oleh para pendiri pendidikan bangsa ini, dan dapat dipertemukan dengan antropologi Islam tentang manusia sebagai khalifah dan hamba. Sayangnya, istilah merdeka belajar yang belakangan populer sering dipahami secara administratif, sebagai keleluasaan kurikulum, dan kurang dipahami secara antropologis, sebagai pandangan tentang manusia yang hendak dididik.

Otonomi sebagai Kebutuhan Dasar

Dari sudut psikologi, Edward Deci dan Richard Ryan, melalui teori determinasi diri, memberi bukti empiris yang kuat tentang pentingnya kebebasan dalam pertumbuhan manusia. Dalam kajian mereka di jurnal Psychological Inquiry, mereka merumuskan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, yakni merasa bahwa tindakannya berasal dari dirinya sendiri; kompetensi, yakni merasa mampu; dan keterhubungan, yakni merasa terhubung dengan orang lain (Deci & Ryan, 2000). Ketika ketiga kebutuhan ini terpenuhi, motivasi tumbuh dari dalam, dan belajar menjadi lebih mendalam dan bertahan lama. Ketika ia dihambat, misalnya melalui kontrol yang berlebihan, motivasi menjadi rapuh dan bergantung pada imbalan atau ancaman dari luar.

Temuan ini sangat penting bagi pendidikan Islam. Ia menunjukkan bahwa otonomi bukan nilai Barat yang asing, melainkan kebutuhan manusiawi yang universal. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa otonomi dalam pengertian Deci dan Ryan bukan berarti kemandirian total dari orang lain, melainkan rasa bahwa tindakan berasal dari kesadaran dan penerimaan diri sendiri. Seorang santri yang menjalankan ibadah karena memahami dan menghayati maknanya memiliki otonomi; seorang santri yang menjalankannya hanya karena takut dihukum tidak. Dalam bahasa tradisi, inilah perbedaan antara ibadah yang lahir dari keikhlasan dan ibadah yang lahir dari keterpaksaan.

Jiwa, Kemanusiaan, dan Kesadaran Kritis

Dalam analisis filosofis tentang keberadaan jiwa dalam teori-teori belajar, kami menimbang bahwa behaviorisme dan kognitivisme, betapapun bermanfaat, cenderung melupakan jiwa sebagai pusat kehidupan manusia (Tabrani ZA & Masbur, 2016). Antropologi yang melupakan jiwa akan mudah tergelincir pada determinisme, karena ia hanya melihat perilaku yang dapat diamati dan proses yang dapat diukur.

Dalam kajian tentang konsep pendidikan humanis dalam konteks pendidikan Islam, kami menegaskan bahwa pendidikan Islam berpusat pada manusia sebagai makhluk yang dimuliakan, yang harus dikembangkan menjadi pribadi yang utuh dan merdeka, bukan sekadar mudah diatur (Idris & Tabrani ZA, 2017). Dalam kajian tentang paradigma pendidikan kritis, kami juga menekankan bahwa pendidikan harus menumbuhkan kemampuan murid untuk membaca dan mengubah realitasnya (Idris et al., 2018). Ketiga kajian ini, bila dibaca bersama, mengarah pada satu antropologi: manusia sebagai subjek yang berjiwa, merdeka, dan bertanggung jawab.

Kebebasan yang Bertanggung Jawab dalam Lembaga

Bagaimana antropologi ini diterjemahkan ke dalam kehidupan lembaga pendidikan? Penelitian kami tentang internalisasi nilai-nilai Pancasila di UIN Ar-Raniry menemukan bahwa kemandirian dan integritas termasuk dalam lima nilai karakter dasar yang dibangun, bersama religiusitas, nasionalisme, dan gotong royong (Tabrani ZA et al., 2024). Kemandirian dan integritas adalah dua wajah dari kebebasan yang bertanggung jawab: kemampuan bertindak atas dasar kesadaran sendiri, dan kesetiaan pada nilai bahkan ketika tidak diawasi.

Untuk menumbuhkan keduanya, lembaga pendidikan perlu memberi ruang bagi pilihan yang bermakna. Murid perlu dilatih memilih, bukan hanya mematuhi; menimbang, bukan hanya menghafal; dan menanggung akibat dari pilihannya dalam suasana yang aman untuk belajar dari kesalahan. Lembaga yang mengatur setiap detail kehidupan murid, tanpa ruang untuk memilih, mungkin menghasilkan ketertiban, tetapi tidak menghasilkan kedewasaan.

Menolak Dua Reduksi

Dari seluruh uraian ini, saya ingin merumuskan sebuah tesis: antropologi filosofis pendidikan Islam harus menolak dua reduksi sekaligus.

Reduksi pertama adalah reduksi manusia menjadi objek: makhluk yang sepenuhnya ditentukan oleh bawaan, lingkungan, atau data, sehingga pendidikan berubah menjadi rekayasa. Reduksi ini bertentangan dengan martabat manusia sebagai khalifah yang diberi amanah dan tanggung jawab.

Reduksi kedua adalah reduksi kebebasan menjadi kehendak tanpa arah: anggapan bahwa manusia paling bebas ketika tidak terikat pada nilai apa pun, sehingga pendidikan berubah menjadi sekadar penyediaan pilihan. Reduksi ini bertentangan dengan kedudukan manusia sebagai hamba yang menemukan kebebasannya justru dalam hubungan dengan Tuhan.

Kedua reduksi ini, menariknya, sering hadir bersamaan dalam satu lembaga. Di ruang kelas, murid diperlakukan sebagai objek yang harus diatur dan diukur; di luar kelas, terutama di dunia digital, ia dibiarkan bebas tanpa bimbingan menghadapi arus pilihan yang tak terbatas. Akibatnya, murid mengalami dua dunia yang sama-sama tidak mendewasakan: dunia yang terlalu mengekang dan dunia yang terlalu membiarkan.

Di antara keduanya, pendidikan Islam menawarkan antropologi manusia sebagai subjek yang bebas-bertanggung jawab: bebas karena dimuliakan, bertanggung jawab karena diberi amanah.

Penutup: Mendidik yang Tak Dapat Diramalkan

Kembali ke zaman data dan prediksi. Alat-alat itu dapat sangat membantu, asalkan kita tidak lupa bahwa manusia selalu lebih besar dari prediksi tentangnya. Sejarah Islam penuh dengan kisah orang-orang yang melampaui perkiraan: budak yang menjadi ulama, pemuda yang bertobat dan menjadi teladan, anak dari keluarga sederhana yang menjadi pemimpin umat. Kisah-kisah itu mengingatkan bahwa fitrah dan kebebasan manusia selalu menyimpan kemungkinan yang tidak dapat dihitung sepenuhnya.

Barangkali tugas terdalam seorang pendidik adalah menjaga ruang bagi kemungkinan itu: tidak menutup pintu bagi murid yang diprediksi gagal, tidak membatasi murid yang tampak biasa, dan selalu percaya bahwa setiap jiwa yang dididik dapat tumbuh melampaui apa yang kita bayangkan. Sebab manusia, dalam pandangan Islam, bukan sekadar hasil dari sebab-sebab yang mendahuluinya, melainkan juga makhluk yang dipanggil untuk menjawab panggilan Tuhannya dengan pilihan yang bebas.

References

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1104_01

Dewantara, K. H. (2011). Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan (Cet. ke-4). Yogyakarta: Yayasan Persatuan Taman Siswa.

Idris, S., & Tabrani ZA. (2017). Realitas Konsep Pendidikan Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, 3(1), 96–113. https://doi.org/10.22373/je.v3i1.1420

Idris, S., Tabrani ZA, & Sulaiman, F. (2018). Critical Education Paradigm in the Perspective of Islamic Education. Advanced Science Letters, 24(11), 8226–8230.

Iqbal, M. (2013). The Reconstruction of Religious Thought in Islam (M. S. Sheikh, Ed.). Stanford: Stanford University Press. (Karya asli terbit 1930)

Murata, S., & Chittick, W. C. (1994). The Vision of Islam. New York: Paragon House.

Tabrani ZA, & Masbur, M. (2016). Islamic Perspectives on the Existence of Soul and Its Influence in Human Learning (A Philosophical Analysis of the Classical and Modern Learning Theories). Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, 1(2), 99–112. https://doi.org/10.22373/je.v1i2.600

Tabrani ZA, Walidin, W., Idris, S., & Huda, M. (2024). Pancasila as the Core Value for Character Building in Islamic Higher Education Institutions. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 12(2), 565–592. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v12i2.1212

Taylor, C. (1989). Sources of the Self: The Making of the Modern Identity. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →

Popular Posts

Archive