EDUCATION ZONE
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
Read about the INSTAL Model →
← Back to home

Menenun Wahyu dan Sains: Dari Tempelan Ayat Menuju Kurikulum yang Sungguh Terintegrasi

September 26, 2025
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini mempersoalkan bagaimana gagasan integrasi ilmu dan agama, yang menjadi visi hampir semua universitas Islam negeri di Indonesia, diterjemahkan ke dalam kurikulum dan ruang kuliah. Penulis berangkat dari pengalaman mengampu mata kuliah wajib universitas yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai program studi, lalu mengkritik kecenderungan integrasi yang berhenti pada tempelan ayat atau pencocokan dangkal antara temuan sains dan teks suci. Esai ini menelusuri berbagai model integrasi, dari Islamisasi ilmu pengetahuan Isma’il Raji al-Faruqi dan Syed Muhammad Naquib al-Attas, paradigma integratif-interkonektif M. Amin Abdullah, pengilmuan Islam Kuntowijoyo, hingga tipologi hubungan sains dan agama Ian Barbour. Pada tataran kurikulum, esai ini memanfaatkan gagasan Robin Fogarty dan James Beane tentang berbagai bentuk integrasi kurikulum, lalu menawarkan empat tingkat integrasi dalam praktik: tempelan, paralel, dialog, dan integrasi berbasis masalah. Contoh smong, kearifan lokal Simeulue yang menyelamatkan banyak nyawa saat tsunami 2004, dipakai untuk memperlihatkan bagaimana ilmu kebumian, kearifan lokal, dan teologi bencana dapat dirajut dalam satu pembelajaran. Merujuk kajian penulis tentang pendekatan multidisipliner dan integrasi KKNI dengan paradigma integrasi-interkoneksi, serta kajian Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang pandangan dunia teosentris dalam pendidikan keberlanjutan, esai ini berargumen bahwa integrasi sejati menuntut kerja epistemologis yang serius dan kolaborasi lintas disiplin, bukan sekadar label kelembagaan.

Keywords: Integrasi ilmu; Kurikulum integratif; Sains dan Islam; Islamisasi ilmu

KEY POINTS

  • Integrasi ilmu dan agama menjadi visi hampir semua UIN, tetapi sering berhenti pada tataran slogan dan dokumen.
  • Menempelkan ayat pada materi sains, atau mencocokkan temuan ilmiah dengan teks suci secara dangkal, bukanlah integrasi.
  • Berbagai model integrasi, dari Islamisasi ilmu hingga integratif-interkonektif, menawarkan kerangka yang berbeda dan perlu dipahami dosen.
  • Integrasi kurikulum dapat dibedakan dalam empat tingkat: tempelan, paralel, dialog, dan integrasi berbasis masalah.
  • Persoalan nyata, seperti mitigasi bencana di Aceh, adalah titik temu terbaik bagi sains, kearifan lokal, dan agama.

— — — ARTICLE — — —

Pertanyaan dari Bangku Belakang

Di UIN Ar-Raniry, mata kuliah Kajian Sains Islam diwajibkan bagi mahasiswa seluruh program studi. Ketika mengampu mata kuliah ini, saya berhadapan dengan ruang kuliah yang beragam: ada mahasiswa pendidikan agama, syariah, dan dakwah, tetapi juga mahasiswa teknik, sains, psikologi, dan ekonomi. Pada salah satu pertemuan awal, seorang mahasiswa dari program studi teknik yang duduk di bangku belakang mengangkat tangan dan bertanya dengan jujur, “Pak, apa sebenarnya hubungan antara rumus-rumus yang kami pelajari dengan Islam? Apakah cukup dengan membaca basmalah sebelum menghitung?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi menohok. Ia menyingkap sebuah persoalan yang telah lama mengganggu kampus-kampus Islam di Indonesia. Sejak IAIN berubah menjadi UIN dan membuka program studi umum, hampir setiap kampus merumuskan visi integrasi ilmu dan agama. Visi itu tertulis indah dalam dokumen, terpampang di gerbang kampus, dan diucapkan dalam setiap pidato wisuda. Tetapi bagi mahasiswa di bangku kuliah, integrasi itu sering tidak terasa. Mereka belajar sains seperti di universitas umum, lalu belajar agama di mata kuliah terpisah, tanpa pernah diajak menemukan hubungan keduanya.

Esai ini hendak menimbang mengapa integrasi sering berhenti di tataran slogan, dan bagaimana ia dapat sungguh-sungguh diwujudkan dalam kurikulum.

Godaan Tempelan dan Pencocokan

Ada dua godaan yang sering menghinggapi upaya integrasi. Yang pertama adalah tempelan ayat. Dosen biologi membuka kuliah tentang embriologi dengan menampilkan ayat tentang penciptaan manusia dari setetes air, lalu melanjutkan kuliah seperti biasa tanpa pernah kembali ke ayat itu. Ayat menjadi hiasan pembuka, bukan bagian dari cara berpikir. Mahasiswa mungkin merasa kuliahnya lebih islami, tetapi tidak ada yang berubah dalam pemahaman mereka tentang hubungan wahyu dan ilmu.

Godaan kedua adalah pencocokan dangkal, yang kini populer disebut “cocoklogi”. Setiap kali ada temuan sains baru, segera dicarikan ayat yang dianggap telah menyebutkannya sejak empat belas abad lalu. Kecenderungan ini sempat populer setelah terbitnya buku Bucaille (1976) yang membandingkan kitab-kitab suci dengan sains modern. Niatnya baik: menunjukkan bahwa Al-Qur’an selaras dengan ilmu pengetahuan. Tetapi pendekatan ini menyimpan bahaya. Sains selalu berkembang dan dapat dikoreksi. Jika sebuah tafsir ayat dikaitkan dengan teori ilmiah tertentu, lalu teori itu ternyata keliru, apa yang terjadi dengan tafsir itu? Lebih jauh, pendekatan ini memposisikan Al-Qur’an sebagai buku sains, padahal ia adalah kitab petunjuk yang menyeru manusia untuk merenungkan alam, bukan ensiklopedia temuan ilmiah. Guessoum (2011), astrofisikawan Muslim dari Aljazair, menyebut pendekatan ini sebagai “i’jaz ilmiah” yang justru merugikan kedua belah pihak: ia merendahkan sains menjadi alat pembenaran, dan merendahkan Al-Qur’an menjadi buku teks yang harus terus diperbarui tafsirnya mengikuti jurnal ilmiah.

Ada pula godaan ketiga yang lebih halus: pelabelan. Sebuah mata kuliah diberi nama baru dengan tambahan kata “Islam” atau “Islami”, tetapi isi, metode, dan cara menilainya tidak berubah sama sekali. Label menjadi pengganti kerja intelektual. Di atas kertas, kurikulum tampak terintegrasi; di ruang kuliah, tidak ada yang berbeda.

Ketiga godaan ini memiliki kesamaan: semuanya tidak menyentuh tataran epistemologis. Ketiganya tidak bertanya bagaimana pengetahuan diperoleh, apa batas-batasnya, dan bagaimana nilai-nilai wahyu dapat membimbing arah dan penggunaan ilmu. Integrasi yang sejati menuntut kerja yang lebih dalam.

Peta Model-Model Integrasi

Para pemikir Muslim telah menawarkan berbagai model integrasi. Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, muncul gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan. Al-Attas (1978) berargumen bahwa ilmu pengetahuan modern tidak netral; ia membawa pandangan dunia Barat yang sekuler. Karena itu, ilmu perlu dibersihkan dari unsur-unsur yang bertentangan dengan Islam dan dimasuki kembali dengan konsep-konsep kunci Islam. Al-Faruqi (1982), melalui International Institute of Islamic Thought, merumuskan rencana kerja Islamisasi ilmu yang sistematis, dengan langkah-langkah menguasai disiplin modern, menguasai warisan Islam, lalu mempertemukan keduanya.

Gagasan Islamisasi mendapat kritik, antara lain dari Rahman (1988), dalam tanggapannya di American Journal of Islamic Social Sciences, yang berpendapat bahwa ilmu itu sendiri tidak dapat diislamkan; yang perlu dibentuk adalah ilmuwan yang berwawasan Islam. Di Indonesia, Abdullah (2006) menawarkan paradigma integratif-interkonektif dengan metafora jaring laba-laba keilmuan, di mana berbagai disiplin saling terhubung tanpa harus dilebur. Kuntowijoyo (2004) mengusulkan pengilmuan Islam: menjadikan Islam sebagai sumber paradigma bagi teori-teori ilmiah yang dapat diuji secara objektif.

Dari luar dunia Islam, Barbour (2000), fisikawan dan teolog, menawarkan tipologi yang berguna tentang hubungan sains dan agama. Ia membedakan empat pola: konflik, ketika keduanya dianggap saling bertentangan; independensi, ketika keduanya dianggap mengurus wilayah yang berbeda dan tidak perlu bersinggungan; dialog, ketika keduanya saling bertukar pertanyaan dan wawasan; dan integrasi, ketika keduanya dipadukan dalam satu kerangka pemahaman.

Tipologi Barbour membantu kita menilai praktik di kampus. Banyak program studi di UIN sesungguhnya masih berada pada pola independensi: sains dan agama berjalan di jalurnya masing-masing. Sebagian mencoba melompat langsung ke integrasi, tetapi karena tidak melewati dialog yang sungguh-sungguh, yang terjadi hanyalah tempelan.

Kajian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang pendidikan keberlanjutan di perguruan tinggi mengusulkan pandangan dunia teosentris, dengan konsep-konsep religius-spiritual Islam sebagai contohnya (Muhamad et al., 2021). Gagasan ini memperlihatkan bahwa integrasi dapat dimulai dari cara pandang yang mendasari sebuah bidang ilmu, bukan sekadar dari penambahan ayat pada materi kuliah.

Bentuk-Bentuk Integrasi Kurikulum

Bagaimana gagasan-gagasan itu diterjemahkan ke dalam kurikulum? Para ahli kurikulum telah lama membahas berbagai bentuk integrasi. Fogarty (1991), misalnya, dalam artikelnya di Educational Leadership, merumuskan sepuluh cara mengintegrasikan kurikulum, mulai dari bentuk yang terpisah-pisah, terhubung, berurutan, berbagi tema, berjejaring, hingga bentuk yang sepenuhnya terpadu. Beane (1997) mengusulkan integrasi kurikulum yang berpusat pada persoalan-persoalan bermakna dalam kehidupan murid dan masyarakat, bukan pada batas-batas mata pelajaran.

Dengan meminjam gagasan-gagasan itu, saya ingin menawarkan empat tingkat integrasi yang dapat dipakai untuk menilai dan mengembangkan kurikulum di perguruan tinggi keagamaan Islam.

Tingkat pertama adalah tempelan. Ayat atau hadis disisipkan dalam materi sains sebagai pembuka atau penutup, tanpa mengubah cara berpikir. Ini adalah tingkat yang paling umum dan paling dangkal.

Tingkat kedua adalah paralel. Mata kuliah agama dan mata kuliah sains berjalan berdampingan, dan mahasiswa diharapkan menemukan sendiri hubungan keduanya. Ini lebih baik daripada tempelan, tetapi sering meninggalkan mahasiswa dengan dua kepala yang tidak bercakap.

Tingkat ketiga adalah dialog. Dosen sains dan dosen agama bekerja sama, misalnya melalui pengajaran tim, untuk membahas satu topik dari berbagai sudut pandang. Mahasiswa melihat langsung bagaimana dua tradisi keilmuan saling bertanya dan saling memperkaya. Di sini, pertanyaan-pertanyaan epistemologis mulai dibicarakan: bagaimana sains mengetahui, bagaimana wahyu memberi petunjuk, dan di mana batas masing-masing.

Tingkat keempat adalah integrasi berbasis masalah. Pembelajaran berangkat dari persoalan nyata yang membutuhkan berbagai disiplin untuk menjawabnya. Mahasiswa dari berbagai program studi bekerja bersama, memakai ilmu masing-masing, dan bersama-sama menimbang dimensi etis dan spiritual dari persoalan itu. Di tingkat inilah integrasi menjadi pengalaman yang hidup, bukan sekadar konsep.

Smong: Pelajaran dari Simeulue

Aceh menyimpan sebuah contoh yang sangat kuat untuk integrasi berbasis masalah. Ketika gempa dan tsunami melanda Aceh pada akhir Desember 2004, korban jiwa di banyak wilayah sangat besar. Tetapi di Pulau Simeulue, yang letaknya sangat dekat dengan pusat gempa, jumlah korban jiwa jauh lebih sedikit. Salah satu penjelasannya adalah smong, tradisi lisan masyarakat Simeulue tentang gelombang besar yang datang setelah gempa. Kisah tentang smong, yang diwariskan melalui cerita dan syair sejak peristiwa tsunami pada awal abad ke-20, mengajarkan bahwa jika air laut surut setelah gempa, orang harus segera lari ke tempat tinggi. Ketika gempa 2004 terjadi, banyak warga Simeulue segera menyelamatkan diri ke perbukitan. Penelitian lapangan McAdoo et al. (2006) yang terbit di jurnal Earthquake Spectra mencatat bahwa dari lebih dari tujuh puluh ribu penduduk pulau itu, korban jiwa hanya hitungan jari, dan para peneliti menyimpulkan bahwa sejarah lisan smong adalah faktor penentunya.

Kisah smong dapat menjadi titik temu yang luar biasa dalam kurikulum integratif. Mahasiswa geologi dan fisika dapat mempelajari mekanisme gempa dan tsunami. Mahasiswa antropologi dan sastra dapat mengkaji bagaimana pengetahuan diwariskan melalui tradisi lisan. Mahasiswa kesehatan dan teknik dapat membahas mitigasi dan tata ruang. Mahasiswa studi Islam dapat menimbang teologi bencana: bagaimana memahami musibah dalam kerangka iman, bagaimana konsep takdir tidak bertentangan dengan ikhtiar menyelamatkan diri, dan bagaimana kewajiban menjaga jiwa menuntut kesiapsiagaan. Semua sudut pandang itu bertemu dalam satu persoalan yang nyata dan menyentuh kehidupan masyarakat Aceh. Kampus-kampus Islam di Aceh berpeluang besar mengisi ruang ini dengan dimensi etika, spiritualitas, dan kearifan lokal yang sering luput dari kajian teknis semata.

Integrasi semacam ini tidak memaksa sains untuk membuktikan kebenaran agama, dan tidak memaksa agama untuk tunduk pada sains. Keduanya, bersama kearifan lokal, bekerja sama untuk menjawab pertanyaan yang sama: bagaimana manusia dapat hidup dengan selamat dan bermartabat di tengah alam yang dahsyat?

Dosen sebagai Penenun

Semua tingkat integrasi itu pada akhirnya bergantung pada dosen. Dalam tulisan saya di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang pendekatan multidisipliner dalam studi Islam (Tabrani ZA, 2014), saya menegaskan bahwa kajian Islam membutuhkan keterbukaan terhadap berbagai disiplin. Hal yang sama berlaku sebaliknya: kajian sains di kampus Islam membutuhkan keterbukaan terhadap dimensi nilai dan makna.

Persoalannya, sebagian besar dosen dididik dalam satu disiplin yang sempit. Dosen sains jarang mendapat pendidikan tentang epistemologi Islam, dan dosen agama jarang mendapat pendidikan tentang cara kerja sains. Tanpa kesadaran epistemologis, integrasi hanya akan menjadi tempelan. Karena itu, pengembangan dosen menjadi kunci: lokakarya lintas disiplin, pengajaran tim, riset bersama, dan forum diskusi yang mempertemukan dosen dari berbagai fakultas.

Dalam kajian kami tentang integrasi KKNI, SNPT, dan paradigma integrasi-interkoneksi di PTKI (Faisal et al., 2021), kami melihat bahwa tantangan terbesar bukan pada perumusan dokumen, melainkan pada penerjemahannya ke dalam praktik pembelajaran. Dokumen kurikulum dapat menyebut integrasi di setiap capaian pembelajaran, tetapi jika dosen di kelas tidak memahami dan menghayatinya, integrasi itu tidak akan pernah sampai kepada mahasiswa.

Dalam Persuit Epistemology of Islamic Studies, saya menekankan pentingnya kesadaran epistemologis dalam studi Islam (Tabrani ZA, 2015). Kesadaran semacam itu juga dibutuhkan oleh setiap dosen di kampus Islam, apa pun disiplinnya. Dosen perlu memahami bukan hanya isi ilmunya, tetapi juga asumsi-asumsi dasarnya, batas-batasnya, dan hubungannya dengan nilai-nilai yang lebih luas.

Integrasi juga harus tampak dalam cara menilai. Selama ujian hanya meminta mahasiswa menghafal ayat yang berkaitan dengan topik tertentu, integrasi akan tetap dangkal. Penilaian yang lebih bermakna dapat berupa analisis kasus, proyek lintas disiplin, atau esai reflektif yang menuntut mahasiswa menimbang sebuah persoalan dari sudut pandang ilmiah sekaligus etis dan spiritual. Apa yang dinilai, itulah yang akan dianggap penting oleh mahasiswa.

Penutup: Lungsin dan Pakan

Di Aceh, ada tradisi menenun kain songket yang indah. Dalam menenun, ada dua jenis benang yang dipadukan. Benang lungsin dipasang memanjang dan tegang di alat tenun; ia menjadi kerangka yang tetap. Benang pakan dimasukkan melintang, bergerak bolak-balik di antara benang lungsin, membentuk motif dan warna. Tanpa lungsin, pakan tidak memiliki pegangan. Tanpa pakan, lungsin hanyalah deretan benang tanpa kain.

Barangkali begitulah semestinya hubungan wahyu dan sains dalam kurikulum kampus Islam. Nilai-nilai wahyu adalah lungsin: kerangka yang tetap, yang memberi arah dan makna. Ilmu pengetahuan adalah pakan: terus bergerak, berkembang, dan memperkaya motif. Integrasi bukan berarti meleburkan keduanya menjadi satu benang, melainkan menenunnya dengan sabar sehingga menjadi kain yang utuh dan indah. Dan seperti menenun songket, pekerjaan ini membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan tangan-tangan terampil yang bekerja bersama.

Kembali ke mahasiswa teknik di bangku belakang itu. Jawaban atas pertanyaannya tidak cukup dengan membaca basmalah sebelum menghitung. Jawabannya adalah ketika ia belajar merancang jembatan yang kokoh sebagai bentuk amanah menjaga nyawa orang yang melintas, ketika ia memahami bahwa kejujuran dalam perhitungan adalah bagian dari akhlak, dan ketika ia menyadari bahwa keteraturan hukum-hukum alam yang ia pelajari adalah tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta. Di saat itulah wahyu dan sains tidak lagi menjadi dua mata kuliah yang terpisah, tetapi satu kain kehidupan yang ditenun dengan sadar.

References

Abdullah, M. A. (2006). Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Al-Attas, S. M. N. (1978). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ABIM.

Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan. Washington, DC: International Institute of Islamic Thought.

Barbour, I. G. (2000). When Science Meets Religion: Enemies, Strangers, or Partners? San Francisco: HarperSanFrancisco.

Beane, J. A. (1997). Curriculum Integration: Designing the Core of Democratic Education. New York: Teachers College Press.

Bucaille, M. (1976). La Bible, le Coran et la Science. Paris: Seghers.

Faisal, M., Tabrani ZA, Siswanto, R., Hayati, H., & Darojat, J. (2021). The Integration of KKNI, SNPT, and the Integration-Interconnection Paradigm in Curriculum Development at PTKI. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 9(2). https://doi.org/10.26811/peuradeun.v9i2.528

Fogarty, R. (1991). Ten Ways to Integrate Curriculum. Educational Leadership, 49(2), 61–65.

Guessoum, N. (2011). Islam’s Quantum Question: Reconciling Muslim Tradition and Modern Science. London: I.B. Tauris.

Kuntowijoyo. (2004). Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika. Jakarta: Teraju.

McAdoo, B. G., Dengler, L., Prasetya, G., & Titov, V. (2006). Smong: How an Oral History Saved Thousands on Indonesia’s Simeulue Island during the December 2004 and March 2005 Tsunamis. Earthquake Spectra, 22(S3), S661–S669. https://doi.org/10.1193/1.2204966

Muhamad, M. M., Syed Abdullah, S. I. S., & Mohamad Arsad, N. (2021). The Theocentric Worldview: Sustainability Education for Religion and Spiritual. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 9(2). https://doi.org/10.26811/peuradeun.v9i2.587

Rahman, F. (1988). Islamization of Knowledge: A Response. American Journal of Islamic Social Sciences, 5(1), 3–11.

Tabrani ZA. (2014). Islamic Studies dalam Pendekatan Multidisipliner (Suatu Kajian Gradual Menuju Paradigma Global). Jurnal Ilmiah Peuradeun, 2(2), 211–234. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v2i2.32

Tabrani ZA. (2015). Persuit Epistemology of Islamic Studies: Buku Dua Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →

Archive