EDUCATION ZONE
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
Read about the INSTAL Model →
← Back to home

Adab sebagai Kebajikan Epistemik: Dari Etika Murid Menuju Epistemologi Pendidikan Islam

December 09, 2025
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini melanjutkan “Menanam Adab, Bukan Sekadar Mengisi Kepala” dengan menggeser pembacaan adab dari wilayah etika menuju wilayah epistemologi. Kegelisahan yang hendak diurai adalah kecenderungan pendidikan Islam untuk memahami adab semata-mata sebagai tata krama murid terhadap guru, sehingga adab tampak terpisah dari proses mengetahui itu sendiri. Padahal, dalam khazanah klasik, adab menyangkut cara seseorang memperoleh, menimbang, dan memperlakukan ilmu. Dengan mempertemukan konsep ta’dib Syed Muhammad Naquib al-Attas dan pembacaan Wan Mohd Nor Wan Daud dengan epistemologi kebajikan (virtue epistemology) yang dikembangkan Linda Zagzebski dan Jason Baehr, esai ini memetakan tiga lapis adab: adab terhadap sumber, adab terhadap proses, dan adab terhadap hasil pengetahuan. Kritik Abdullah Sahin tentang dikotomi nilai Islam dan nilai liberal sekuler dalam pendidikan juga ditimbang. Merujuk Persuit Epistemology of Islamic Studies, kajian penulis tentang keberadaan jiwa dalam pembelajaran dan konsep pendidikan humanis dalam Islam, serta temuan Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang penguatan pendidikan karakter, esai ini berargumen bahwa adab adalah kebajikan epistemik: syarat batin agar akal dapat mengetahui dengan benar. Pendidikan adab, karena itu, bukan pelengkap pendidikan intelektual, melainkan jantungnya.

Keywords: Epistemologi pendidikan Islam; Kerendahan hati intelektual; Pendidikan karakter; Virtue epistemology

KEY POINTS

  • Adab dalam pendidikan Islam sering direduksi menjadi tata krama, padahal ia menyangkut cara mengetahui.
  • Al-Attas memahami adab sebagai pengakuan atas tempat yang tepat bagi segala sesuatu, termasuk tempat ilmu dan sumbernya.
  • Epistemologi kebajikan menunjukkan bahwa mengetahui dengan benar membutuhkan watak: ketelitian, kejujuran, keberanian, dan kerendahan hati.
  • Adab dapat dipetakan dalam tiga lapis: terhadap sumber, terhadap proses, dan terhadap hasil pengetahuan.
  • Adab yang direduksi menjadi kepatuhan justru dapat merusak kebajikan epistemik, karena mematikan keberanian bertanya.
  • Pendidikan adab adalah jantung pendidikan intelektual, bukan pelengkapnya.

— — — ARTICLE — — —

Ketika Adab Berhenti di Pintu Kelas

Dalam “Menanam Adab”, kita telah membedakan tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib, lalu menegaskan bahwa adab harus menjadi ekologi seluruh lembaga pendidikan. Namun, pembacaan itu masih menyisakan satu persoalan yang lebih mendasar. Di banyak madrasah, pesantren, dan kampus, adab dipahami terutama sebagai tata krama: cara duduk di hadapan guru, cara berbicara, cara membawa kitab, cara meminta izin. Semua itu penting dan mulia. Tetapi bila adab berhenti di situ, ia berhenti di pintu kelas. Begitu pelajaran dimulai, begitu murid berhadapan dengan teks, data, dan argumen, adab seolah-olah tidak lagi berperan.

Persoalannya kemudian adalah: apakah adab hanya mengatur hubungan murid dengan guru, atau juga mengatur hubungan seseorang dengan ilmu itu sendiri? Bila jawaban kedua yang benar, maka adab bukan hanya kategori etika, melainkan juga kategori epistemologi. Ia menyangkut cara kita mengetahui, bukan hanya cara kita bersikap setelah mengetahui.

Di sinilah letak problem mendasarnya. Pemisahan antara adab dan epistemologi telah melahirkan dua gejala yang tampak bertentangan tetapi sesungguhnya berasal dari akar yang sama. Gejala pertama adalah murid yang sangat santun kepada guru, tetapi ceroboh dalam menimbang dalil dan mudah menyebarkan informasi tanpa memeriksa. Gejala kedua adalah murid yang cerdas dan kritis, tetapi angkuh terhadap tradisi dan meremehkan pendapat yang berbeda. Yang pertama memiliki adab tanpa epistemologi; yang kedua memiliki epistemologi tanpa adab.

Adab dalam Pandangan Al-Attas

Syed Muhammad Naquib al-Attas memberi pijakan yang kuat untuk membaca adab secara epistemologis. Baginya, adab adalah pengenalan dan pengakuan terhadap tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan wujud (Al-Attas, 1980). Definisi ini sering dikutip, tetapi jarang direnungkan konsekuensi epistemologisnya. Jika adab adalah pengakuan atas tempat yang tepat, maka adab juga mencakup pengakuan atas tempat yang tepat bagi berbagai jenis ilmu, berbagai sumber pengetahuan, dan berbagai tingkat kepastian.

Wan Mohd Nor Wan Daud, murid dan penafsir utama pemikiran al-Attas, menegaskan bahwa kekacauan ilmu (confusion of knowledge) adalah akar dari hilangnya adab (Wan Daud, 1998). Kekacauan itu tampak ketika orang tidak mampu membedakan antara ilmu yang pasti dan dugaan, antara pendapat ahli dan pendapat awam, antara yang pokok dan yang cabang. Dalam bahasa epistemologi modern, kekacauan ini adalah kegagalan dalam menimbang bobot bukti dan otoritas sumber. Dengan kata lain, hilangnya adab adalah juga kegagalan epistemik.

Namun, pembacaan al-Attas juga perlu disikapi dengan kritis. Penekanan pada hierarki dan otoritas, bila dibaca secara sempit, dapat melahirkan budaya tunduk yang membungkam pertanyaan. Di sinilah kita memerlukan perspektif lain yang membantu menyeimbangkan.

Epistemologi Kebajikan: Mengetahui sebagai Watak

Sejak akhir abad ke-20, berkembang sebuah arus dalam filsafat yang dikenal sebagai epistemologi kebajikan (virtue epistemology). Arus ini menggeser pertanyaan epistemologi dari “keyakinan mana yang benar?” menuju “watak macam apa yang membuat seseorang mampu mengetahui dengan baik?”. Linda Zagzebski, salah satu tokohnya, berargumen bahwa pengetahuan adalah hasil dari tindakan intelektual yang lahir dari kebajikan-kebajikan intelektual, seperti ketelitian, keterbukaan pikiran, keberanian intelektual, ketekunan, dan kerendahan hati (Zagzebski, 1996). Ia bahkan menunjukkan bahwa kebajikan intelektual memiliki struktur yang serupa dengan kebajikan moral dalam etika keutamaan Aristoteles.

Jason Baehr membawa gagasan ini ke dunia pendidikan. Dalam artikelnya di Journal of Philosophy of Education, ia mengusulkan agar tujuan pendidikan tidak hanya diarahkan pada penguasaan materi, tetapi pada pembentukan watak intelektual: murid yang ingin tahu, teliti, jujur terhadap bukti, berani mempertanyakan, dan rendah hati mengakui kekeliruan (Baehr, 2013). Menurut Baehr, kebajikan-kebajikan ini tidak dapat diajarkan hanya melalui ceramah; ia ditumbuhkan melalui suasana kelas, teladan guru, dan kebiasaan berpikir yang dilatih berulang-ulang.

Yang menarik dari arus ini adalah pengakuan bahwa pengetahuan tidak lahir dari mesin logika yang netral, tetapi dari pribadi yang memiliki watak tertentu. Dua orang dengan kecerdasan yang sama dapat sampai pada kesimpulan yang sangat berbeda mutunya, bukan karena perbedaan kemampuan berpikir, tetapi karena perbedaan kejujuran, ketekunan, dan kesediaan mendengar. Bila dibaca dari khazanah Islam, gagasan ini terasa sangat akrab. Bukankah apa yang disebut Zagzebski dan Baehr sebagai kebajikan intelektual adalah apa yang dalam tradisi kita disebut adab penuntut ilmu? Kitab-kitab adab klasik menekankan niat yang lurus, kesungguhan, kesabaran, kehati-hatian dalam menukil, kejujuran dalam meriwayatkan, dan kerendahan hati di hadapan kebenaran. Semua itu adalah kebajikan epistemik, bukan sekadar sopan santun.

Tiga Lapis Adab Epistemik

Dari perjumpaan antara konsep ta’dib dan epistemologi kebajikan, saya ingin memetakan adab epistemik dalam tiga lapis yang saling berkaitan.

Lapis pertama adalah adab terhadap sumber. Ini mencakup kemampuan menempatkan setiap sumber pada tempatnya: membedakan wahyu dari tafsir manusia, hadis sahih dari riwayat lemah, kajian ilmiah dari opini, data dari klaim. Adab terhadap sumber juga menuntut kejujuran dalam mengutip: menyebut asal-usul gagasan, tidak memelintir maksud penulis, dan tidak mengklaim karya orang lain sebagai milik sendiri. Tradisi sanad dan isnad, yang telah kita bahas dalam esai tentang guru di zaman mesin, adalah wujud paling canggih dari adab terhadap sumber.

Lapis kedua adalah adab terhadap proses. Ini mencakup kesabaran dalam menempuh tahap-tahap memahami, ketelitian dalam menimbang argumen, keterbukaan terhadap pendapat yang berbeda, dan keberanian mempertanyakan pendapat yang dianggap mapan bila ada alasan yang kuat. Para ulama klasik menyebut kesabaran dalam belajar dan mudzakarah, saling mengulang dan mendiskusikan ilmu, sebagai bagian dari adab. Dalam bahasa Baehr, inilah kebajikan ketekunan dan keterbukaan pikiran.

Lapis ketiga adalah adab terhadap hasil. Ini mencakup kerendahan hati dalam menyampaikan temuan, kesediaan untuk dikoreksi, kehati-hatian dalam memberi fatwa atau kesimpulan, dan tanggung jawab atas akibat sosial dari pengetahuan yang disebarkan. Ungkapan wallahu a’lam yang mengakhiri banyak karya ulama adalah wujud adab terhadap hasil: pengakuan bahwa kesimpulan manusia selalu terbatas.

Ketiga lapis ini menjadi semakin mendesak di zaman digital. Sebagaimana telah kita bahas dalam esai tentang epistemologi di zaman pesan berantai, banjir informasi menuntut kebajikan epistemik yang lebih kuat daripada sebelumnya. Seorang santri yang sangat santun kepada teungkunya, tetapi meneruskan kabar bohong di grup percakapan tanpa memeriksa, sedang menunjukkan adab yang terputus: santun dalam sikap, tetapi lalai dalam mengetahui. Adab terhadap sumber di zaman ini berarti berhenti sejenak sebelum menyebarkan, menelusuri asal-usul, dan berani berkata “saya belum tahu kebenarannya”.

Ketiga lapis ini memperlihatkan bahwa adab tidak berada di luar proses mengetahui. Ia hadir di setiap tahapnya, dari memilih sumber, menimbang argumen, hingga menyampaikan kesimpulan.

Ketika Adab Disalahpahami sebagai Kepatuhan

Pembacaan adab sebagai kebajikan epistemik juga membantu kita melihat sebuah kekeliruan yang sering terjadi. Di sebagian lembaga, adab dipahami terutama sebagai kepatuhan: murid yang beradab adalah murid yang tidak membantah, tidak bertanya terlalu banyak, dan menerima apa saja yang disampaikan guru. Pemahaman ini, betapapun lahir dari niat baik, justru dapat merusak kebajikan epistemik.

Keberanian intelektual, yakni kesediaan mempertanyakan pendapat yang mapan bila ada alasan yang kuat, adalah salah satu kebajikan epistemik yang paling penting. Tradisi Islam sendiri penuh dengan contohnya: murid-murid Abu Hanifah yang berbeda pendapat dengan gurunya, Imam Syafi’i yang mengembangkan mazhabnya sendiri setelah berguru kepada Imam Malik, atau Al-Ghazali yang mengkritik para filsuf setelah mempelajari mereka dengan sungguh-sungguh. Mereka semua sangat beradab kepada guru-guru mereka, tetapi adab mereka tidak menghalangi keberanian berpikir. Justru adab itulah yang membuat perbedaan pendapat mereka berlangsung dengan santun dan bermartabat.

Dalam kajian kami tentang realitas konsep pendidikan humanis dalam konteks pendidikan Islam, kami mengingatkan bahwa pendidikan yang hanya menghasilkan manusia yang mudah diatur telah gagal mengembangkan potensi manusia secara utuh (Idris & Tabrani ZA, 2017). Adab yang sejati bukan adab yang mematikan pertanyaan, melainkan adab yang mengarahkan pertanyaan agar diajukan dengan cara yang benar, kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Bukankah itu juga makna menempatkan sesuatu pada tempatnya?

Melampaui Dikotomi Islam dan Liberal

Abdullah Sahin, dalam kajiannya di jurnal Religions, mengkritik kecenderungan untuk mempertentangkan secara kaku antara nilai pendidikan Islam yang dianggap menekankan ketaatan dan nilai pendidikan liberal yang dianggap menekankan otonomi (Sahin, 2018). Menurutnya, dikotomi ini menyesatkan. Tradisi pendidikan Islam klasik sesungguhnya menyimpan ruang yang luas bagi penalaran kritis, perdebatan, dan pembentukan pribadi yang matang, sementara pendidikan liberal pun tidak bebas dari nilai dan otoritas.

Pembacaan adab sebagai kebajikan epistemik dapat menjadi jembatan bagi dikotomi itu. Ia menunjukkan bahwa kerendahan hati dan keberanian berpikir bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua kebajikan yang saling membutuhkan. Kerendahan hati tanpa keberanian melahirkan kepatuhan buta; keberanian tanpa kerendahan hati melahirkan kesombongan intelektual. Adab adalah keseimbangan di antara keduanya.

Jiwa sebagai Tempat Adab Bersemayam

Dalam Persuit Epistemology of Islamic Studies, saya berargumen bahwa epistemologi Islam tidak dapat dilepaskan dari dimensi batin manusia: pengetahuan bukan hanya hasil kerja akal, tetapi juga dipengaruhi oleh kesucian hati dan kelurusan niat (Tabrani ZA, 2015). Gagasan ini menemukan relevansinya di sini. Kebajikan epistemik bukan sekadar keterampilan berpikir yang dapat dilatih secara teknis; ia berakar pada watak, dan watak berakar pada jiwa.

Dalam analisis filosofis tentang keberadaan jiwa dan pengaruhnya dalam pembelajaran, kami menimbang bahwa teori-teori belajar modern cenderung mengabaikan dimensi jiwa, sehingga pendidikan direduksi menjadi pengolahan informasi (Tabrani ZA & Masbur, 2016). Pembacaan adab sebagai kebajikan epistemik mengembalikan jiwa ke pusat pendidikan intelektual. Murid yang jujur kepada dirinya sendiri akan lebih jujur terhadap bukti. Murid yang rendah hati di hadapan Tuhan akan lebih rendah hati di hadapan kebenaran.

Guru sebagai Teladan Kebajikan Epistemik

Kebajikan epistemik, sebagaimana kebajikan moral, lebih banyak ditularkan melalui teladan daripada melalui nasihat. Murid belajar ketelitian dari guru yang teliti, belajar kejujuran terhadap bukti dari guru yang jujur, dan belajar kerendahan hati dari guru yang tidak malu mengakui keterbatasannya. Imam Malik, dalam riwayat yang masyhur, menjawab sebagian besar pertanyaan dalam satu majelis dengan ungkapan “saya tidak tahu”. Bagi murid-muridnya, jawaban itu bukan tanda kelemahan, melainkan pelajaran tentang adab terhadap hasil yang paling berharga. Guru yang selalu merasa harus tahu segalanya justru sedang mengajarkan, tanpa sadar, bahwa mengakui ketidaktahuan adalah aib.

Implikasi bagi Kurikulum dan Pembelajaran

Bagaimana gagasan ini diterjemahkan ke dalam praktik? Kajian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang penguatan pendidikan karakter Islam di sekolah menengah atas menunjukkan bahwa karakter tumbuh melalui manajemen yang terencana dan keterlibatan seluruh warga sekolah (Nuranifah et al., 2022). Temuan ini dapat diperluas: kebajikan epistemik pun perlu direncanakan dan dibiasakan, bukan hanya diharapkan.

Di ruang kelas, guru dapat melatih adab terhadap sumber dengan membiasakan murid menelusuri asal-usul setiap informasi dan membedakan tingkat kekuatannya. Guru dapat melatih adab terhadap proses dengan memberi ruang bagi pertanyaan, perdebatan yang santun, dan kesediaan mengubah pendapat. Guru dapat melatih adab terhadap hasil dengan meminta murid menuliskan batas-batas kesimpulannya sendiri. Penilaian pun perlu bergeser: bukan hanya menilai apakah jawaban murid benar, tetapi juga bagaimana ia sampai pada jawaban itu.

Penutup: Adab sebagai Jantung Ilmu

Para ulama terdahulu sering mengutip ungkapan bahwa adab didahulukan di atas ilmu. Ungkapan itu biasanya dipahami sebagai urutan moral: jadilah sopan terlebih dahulu, baru kemudian belajar. Esai ini mengajak kita membacanya dengan lebih dalam. Adab didahulukan di atas ilmu karena adab adalah syarat agar ilmu dapat diperoleh dengan benar. Tanpa adab terhadap sumber, kita akan tertipu oleh informasi yang keliru. Tanpa adab terhadap proses, kita akan tergesa-gesa menyimpulkan. Tanpa adab terhadap hasil, kita akan sombong dengan pengetahuan yang sedikit.

Dengan demikian, pendidikan adab bukan pelengkap pendidikan intelektual, melainkan jantungnya. Ia tidak berhenti di pintu kelas, tetapi masuk ke setiap halaman kitab yang dibaca, setiap data yang dianalisis, dan setiap kesimpulan yang disampaikan. Di situlah adab menemukan maknanya yang paling utuh: bukan sekadar cara bersikap kepada guru, tetapi cara bersikap kepada kebenaran.

References

Al-Attas, S. M. N. (1980). The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education. Kuala Lumpur: ABIM.

Baehr, J. (2013). Educating for Intellectual Virtues: From Theory to Practice. Journal of Philosophy of Education, 47(2), 248–262. https://doi.org/10.1111/1467-9752.12023

Idris, S., & Tabrani ZA. (2017). Realitas Konsep Pendidikan Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, 3(1), 96–113. https://doi.org/10.22373/je.v3i1.1420

Nuranifah, N., Harun, C. Z., & Usman, N. (2022). Management of Strengthening Islamic Character Education in Senior High School. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 10(3), 629–638. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v10i3.659

Sahin, A. (2018). Critical Issues in Islamic Education Studies: Rethinking Islamic and Western Liberal Secular Values of Education. Religions, 9(11), 335. https://doi.org/10.3390/rel9110335

Tabrani ZA. (2015). Persuit Epistemology of Islamic Studies: Buku Dua Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Tabrani ZA, & Masbur, M. (2016). Islamic Perspectives on the Existence of Soul and Its Influence in Human Learning (A Philosophical Analysis of the Classical and Modern Learning Theories). Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, 1(2), 99–112. https://doi.org/10.22373/je.v1i2.600

Wan Daud, W. M. N. (1998). The Educational Philosophy and Practice of Syed Muhammad Naquib al-Attas: An Exposition of the Original Concept of Islamization. Kuala Lumpur: ISTAC.

Zagzebski, L. T. (1996). Virtues of the Mind: An Inquiry into the Nature of Virtue and the Ethical Foundations of Knowledge. Cambridge: Cambridge University Press.

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →

Archive