Education Zone
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
Read about the INSTAL Model →
← Back to home

Tasawuf sebagai Epistemologi: Nalar ’Irfani, Pengetahuan dengan Kehadiran, dan Batas Pengetahuan Rasional

October 29, 2026
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini melanjutkan “Sunyi di Tengah Keramaian” dengan menggeser pembacaan tasawuf dari wilayah etika dan spiritualitas menuju wilayah epistemologi. Jika esai sebelumnya membaca tasawuf sebagai jalan pulang ke dalam diri di tengah kegelisahan modern, esai ini bertanya: apakah tasawuf juga merupakan cara mengetahui, dengan klaim, metode, dan batas-batasnya sendiri? Kegelisahan yang hendak diurai adalah kecenderungan wacana akademik untuk memperlakukan pengalaman sufistik sebagai urusan perasaan pribadi yang tidak memiliki nilai epistemik, atau sebaliknya, untuk menerima setiap klaim pengalaman batin sebagai kebenaran yang tidak dapat diuji. Dengan menimbang konsep dzawq dan kasyf dalam pemikiran Ibn ’Arabi sebagaimana dibaca William Chittick dan Syamsuddin Arif, teori pengetahuan dengan kehadiran (al-’ilm al-hudhuri) yang dirumuskan Mehdi Ha’iri Yazdi, kritik Muhammad Abed al-Jabiri terhadap nalar ’irfani, kajian William James tentang pengalaman keagamaan, dan gagasan Michael Polanyi tentang pengetahuan yang tak terkatakan, esai ini menempatkan nalar ’irfani sebagai salah satu sumber pengetahuan yang sah sekaligus terbatas. Merujuk Persuit Epistemology of Islamic Studies, buku metodologi penelitian fenomenologis, dan kajian filosofis tentang jiwa dalam pembelajaran yang penulis tulis bersama kolega, serta temuan Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang genealogi tasawuf dalam budaya lokal, esai ini berargumen bahwa nalar ’irfani perlu ditempatkan dalam lingkar yang saling mengoreksi bersama nalar bayani dan burhani: diakui sebagai jalan menuju kedalaman, tetapi dijaga oleh teks dan akal agar tidak jatuh dalam klaim yang sewenang-wenang.

Keywords: Tasawuf; Epistemologi; Nalar ’irfani; Pengalaman keagamaan; Pengetahuan tak terkatakan

KEY POINTS

  • Tasawuf bukan hanya jalan spiritual, tetapi juga mengandung klaim epistemologis tentang cara mengetahui.
  • Ibn ’Arabi membedakan pengetahuan melalui akal dari pengetahuan melalui dzawq dan kasyf, rasa dan penyingkapan.
  • Teori pengetahuan dengan kehadiran menunjukkan bahwa ada pengetahuan yang tidak melalui perantaraan konsep.
  • Kritik Al-Jabiri mengingatkan bahwa nalar ’irfani yang tidak dikontrol dapat melahirkan klaim yang sewenang-wenang.
  • James dan Polanyi menunjukkan bahwa pengalaman dan pengetahuan tak terkatakan juga dibahas serius dalam filsafat modern.
  • Nalar ’irfani perlu ditempatkan dalam lingkar yang saling mengoreksi bersama nalar bayani dan burhani.

— — — ARTICLE — — —

Dari Jalan Pulang ke Cara Mengetahui

Dalam “Sunyi di Tengah Keramaian”, kita telah membaca tasawuf sebagai jawaban atas kegelisahan manusia modern, dari Al-Junaid dan Al-Qusyairi hingga Hamka, lalu menawarkan prinsip khalwat dar anjuman, sunyi di tengah keramaian, sebagai jalan pulang ke dalam diri. Di sana pula, secara sekilas, kita menyebut bahwa tradisi tasawuf menyimpan klaim epistemologis: ada pengetahuan yang tidak diperoleh lewat dalil tekstual atau penalaran semata, tetapi lewat penyucian batin.

Klaim itu kini perlu ditimbang dengan lebih serius. Persoalannya kemudian adalah: apakah tasawuf hanya jalan spiritual yang memberi ketenangan, atau juga sebuah epistemologi, cara mengetahui yang memiliki klaim, metode, dan batas-batasnya sendiri? Bila ia sebuah epistemologi, bagaimana klaim-klaimnya dapat diuji? Dan bagaimana ia berhubungan dengan cara-cara mengetahui yang lain?

Di sinilah letak problem mendasarnya. Wacana akademik modern cenderung bersikap dalam dua ekstrem terhadap pengalaman sufistik. Ekstrem pertama memperlakukannya sebagai urusan perasaan pribadi, menarik sebagai fenomena psikologis, tetapi tidak memiliki nilai epistemik apa pun. Ekstrem kedua, yang sering hidup di kalangan pengikut tarekat, menerima setiap klaim pengalaman batin sebagai kebenaran yang tidak boleh dipertanyakan. Keduanya sama-sama menghindari pekerjaan yang sesungguhnya: menimbang klaim epistemik tasawuf dengan jujur.

Dzawq dan Kasyf dalam Pemikiran Ibn ’Arabi

Ibn ’Arabi, sufi dan pemikir besar dari Andalusia abad ke-12 dan ke-13, adalah salah satu yang paling sistematis dalam merumuskan epistemologi tasawuf. William Chittick, dalam kajiannya yang mendalam tentang jalan pengetahuan sufistik menurut Ibn ’Arabi, memperlihatkan bahwa Ibn ’Arabi membedakan dua jalan utama menuju pengetahuan: jalan akal, yang bekerja melalui penalaran dan pembuktian, dan jalan kasyf, penyingkapan, yang bekerja melalui penyucian hati dan anugerah Ilahi (Chittick, 1989).

Menurut Ibn ’Arabi, akal memiliki kekuatan yang besar, tetapi juga batas yang tegas. Akal bekerja dengan membatasi, mendefinisikan, dan membedakan. Karena itu, ia sangat berguna untuk memahami dunia yang terbatas, tetapi kesulitan menangkap realitas yang tidak terbatas. Di sinilah kasyf dan dzawq, rasa atau cicipan batin, memainkan perannya. Pengetahuan melalui dzawq bukan pengetahuan tentang sesuatu, melainkan pengetahuan melalui keterlibatan langsung dengan sesuatu, sebagaimana orang yang mencicipi madu mengetahui manisnya dengan cara yang tidak dapat digantikan oleh definisi.

Syamsuddin Arif, dalam kajiannya tentang epistemologi sufi Ibn ’Arabi, menegaskan bahwa Ibn ’Arabi tidak menolak akal, melainkan menempatkannya dalam hierarki pengetahuan yang lebih luas (Arif, 2002). Akal tetap diperlukan untuk menjaga agar pengalaman batin tidak tersesat, dan pengalaman batin yang benar tidak akan bertentangan dengan wahyu. Ibn ’Arabi bahkan menegaskan bahwa kasyf harus selalu ditimbang dengan timbangan syariat: penyingkapan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah bukanlah penyingkapan, melainkan tipuan.

Pengetahuan dengan Kehadiran

Tradisi filsafat Islam pasca-Ibn Sina, terutama melalui Suhrawardi dan Mulla Sadra, mengembangkan konsep yang memberi landasan filosofis bagi klaim epistemik tasawuf, yakni pengetahuan dengan kehadiran (al-’ilm al-hudhuri). Mehdi Ha’iri Yazdi, dalam kajiannya yang menghubungkan tradisi ini dengan filsafat analitik modern, menjelaskan bahwa pengetahuan dengan kehadiran adalah pengetahuan yang objeknya hadir langsung dalam diri yang mengetahui, tanpa perantaraan konsep atau representasi (Ha’iri Yazdi, 1992).

Contoh yang paling sederhana adalah pengetahuan seseorang tentang dirinya sendiri. Ketika saya merasakan sakit, saya tidak mengetahui sakit itu melalui konsep tentang sakit; sakit itu hadir langsung dalam kesadaran saya. Pengetahuan semacam ini berbeda dari pengetahuan dengan perolehan (al-’ilm al-hushuli), yang bekerja melalui konsep dan representasi, seperti ketika saya mengetahui bahwa ibu kota Aceh adalah Banda Aceh.

Al-Ghazali sendiri, dalam Al-Munqidz, menceritakan bahwa ia keluar dari krisis keraguannya bukan melalui rangkaian argumen, melainkan melalui cahaya yang dianugerahkan ke dalam dadanya, yang mengembalikan kepercayaannya pada prinsip-prinsip dasar akal (Al-Ghazali, 1980). Kisah itu dapat dibaca sebagai kesaksian tentang pengetahuan dengan kehadiran: ada kepastian yang tidak lahir dari pembuktian, melainkan dari kehadiran langsung kebenaran dalam kesadaran. Ha’iri Yazdi berargumen bahwa pengetahuan dengan kehadiran tidak dapat keliru dalam dirinya sendiri, karena tidak ada jarak antara yang mengetahui dan yang diketahui. Kekeliruan baru mungkin muncul ketika pengetahuan itu diterjemahkan ke dalam konsep dan bahasa. Gagasan ini sangat penting bagi pembacaan tasawuf. Pengalaman sufistik dapat dipahami sebagai bentuk pengetahuan dengan kehadiran yang sangat mendalam. Tetapi ketika pengalaman itu diungkapkan dalam kata-kata, ditafsirkan, dan dijadikan dasar bagi klaim tentang realitas, ia memasuki wilayah pengetahuan dengan perolehan, dan di sana ia perlu diuji.

Kritik Al-Jabiri dan Bahaya Klaim yang Sewenang-wenang

Tidak semua pemikir Muslim menyambut nalar ’irfani dengan hangat. Muhammad Abed al-Jabiri, dalam pemetaannya tentang struktur nalar Arab, bersikap sangat kritis terhadap nalar ’irfani (Al-Jabiri, 1986). Menurutnya, nalar ’irfani cenderung bersandar pada otoritas pengalaman batin yang tidak dapat diperiksa oleh orang lain, sehingga mudah melahirkan klaim-klaim yang sewenang-wenang. Ia juga melihat nalar ini sebagai salah satu faktor yang ikut melemahkan tradisi rasional dalam sejarah pemikiran Islam.

Kritik Al-Jabiri patut didengar dengan serius. Sejarah memang mencatat banyak klaim pengalaman batin yang dipakai untuk membenarkan otoritas pribadi, menolak kritik, atau bahkan melanggar syariat. Seorang guru yang mengklaim telah mendapat ilham dapat menuntut ketaatan mutlak dari murid-muridnya, dan murid yang mempertanyakan dapat dituduh tidak memiliki adab. Di sinilah nalar ’irfani yang tidak dikontrol menjadi berbahaya, bukan hanya secara epistemologis, tetapi juga secara etis dan sosial.

Namun, kritik Al-Jabiri juga memiliki batas. Dengan menempatkan nalar burhani sebagai satu-satunya jalan menuju kebangkitan, ia berisiko mengabaikan dimensi kedalaman yang justru menjadi kekuatan tradisi tasawuf. Amin Abdullah, sebagaimana telah kita bahas dalam esai tentang epistemologi, menawarkan jalan yang lebih seimbang: ketiga corak nalar tidak dipisahkan atau diperingkatkan secara kaku, melainkan dihubungkan dalam lingkar yang saling mengoreksi (Abdullah, 2006).

Pengalaman dan Pengetahuan Tak Terkatakan dalam Filsafat Modern

Menariknya, filsafat modern sendiri tidak sepenuhnya menutup pintu bagi pengalaman sebagai sumber pengetahuan. William James, dalam kuliah-kuliahnya yang terkenal tentang ragam pengalaman keagamaan, menelaah pengalaman mistik dengan serius (James, 1902). Ia mencatat bahwa pengalaman mistik memiliki ciri-ciri seperti tidak dapat diungkapkan sepenuhnya dalam kata-kata, memiliki kualitas noetik, yakni terasa sebagai pengetahuan, bersifat sementara, dan dialami secara pasif. James menyimpulkan bahwa pengalaman semacam itu memiliki otoritas bagi orang yang mengalaminya, tetapi tidak dengan sendirinya memiliki otoritas bagi orang lain.

Michael Polanyi, dari sudut filsafat ilmu, memperkenalkan gagasan pengetahuan yang tak terkatakan (tacit knowledge). Ia merumuskannya dengan ungkapan yang terkenal: kita mengetahui lebih banyak daripada yang dapat kita katakan (Polanyi, 1966). Seorang ahli dapat mengenali wajah seseorang di tengah keramaian tanpa mampu menjelaskan bagaimana ia mengenalinya. Seorang pengendara sepeda dapat menjaga keseimbangannya tanpa mampu merumuskan hukum fisika yang ia jalankan. Bagi Polanyi, pengetahuan tak terkatakan ini bukan pengetahuan kelas dua, melainkan fondasi dari semua pengetahuan, termasuk pengetahuan ilmiah.

Gagasan James dan Polanyi membantu kita melihat bahwa klaim epistemik tasawuf tidak sepenuhnya asing bagi filsafat modern. Dzawq, dalam bahasa Polanyi, dapat dipahami sebagai bentuk pengetahuan tak terkatakan yang tumbuh melalui latihan panjang dan keterlibatan langsung. Bedanya, tradisi tasawuf menempatkan pengetahuan ini dalam kerangka spiritual yang lebih luas, dengan Tuhan sebagai tujuan akhirnya.

Kriteria Pengujian dalam Tradisi Sufi Sendiri

Menariknya, tradisi tasawuf tidak pernah sepenuhnya membiarkan pengalaman batin berjalan tanpa pengujian. Para sufi mengembangkan berbagai mekanisme untuk menimbang pengalaman para murid. Yang pertama adalah bimbingan mursyid, guru yang telah menempuh jalan itu dan mampu membedakan pengalaman yang lahir dari kejernihan hati dari pengalaman yang lahir dari hawa nafsu atau khayalan. Yang kedua adalah sanad tarekat, mata rantai guru yang menghubungkan seorang murid dengan tradisi yang telah teruji. Yang ketiga, dan yang paling ditegaskan, adalah kesesuaian dengan syariat.

Para sufi juga membedakan berbagai jenis bisikan batin: bisikan yang berasal dari Tuhan, dari malaikat, dari nafsu, dan dari setan. Pembedaan ini menunjukkan kesadaran yang tajam bahwa pengalaman batin tidak dengan sendirinya benar, dan bahwa ia memerlukan kecermatan dalam menimbang. Dalam bahasa epistemologi modern, para sufi telah mengembangkan sejenis kriteria validasi internal bagi pengalaman batin.

Persoalannya, mekanisme-mekanisme ini sangat bergantung pada integritas guru dan komunitas. Ketika guru menyalahgunakan otoritasnya, atau ketika komunitas menutup diri dari kritik luar, mekanisme validasi itu runtuh. Karena itu, kriteria internal tradisi sufi perlu dilengkapi dengan keterbukaan terhadap pengujian dari luar: dari ulama fikih, dari para pemikir, dan dari akal sehat masyarakat.

Menempatkan Nalar ’Irfani dalam Lingkar

Dari uraian ini, saya ingin mengajukan tiga prinsip untuk menempatkan nalar ’irfani secara epistemologis.

Prinsip pertama adalah pengakuan. Pengalaman batin yang lahir dari penyucian jiwa dapat menjadi sumber pengetahuan yang sah, terutama tentang dimensi-dimensi kehidupan yang tidak dapat dijangkau oleh penalaran semata: makna, kehadiran, cinta, dan kedalaman hubungan dengan Tuhan. Menolak sepenuhnya pengetahuan semacam ini berarti mempersempit epistemologi Islam yang sejak awal mengakui hati sebagai organ pengetahuan.

Prinsip kedua adalah pembatasan. Pengalaman batin memiliki otoritas bagi yang mengalaminya, tetapi tidak dengan sendirinya bagi orang lain. Ketika pengalaman itu diungkapkan sebagai klaim tentang realitas, tentang hukum, atau tentang orang lain, ia harus tunduk pada pengujian teks dan akal. Inilah yang ditegaskan oleh para sufi besar sendiri: kasyf yang bertentangan dengan syariat bukan kasyf.

Prinsip ketiga adalah lingkar yang saling mengoreksi. Nalar bayani menjaga agar pengalaman batin tetap berpijak pada teks. Nalar burhani menjaga agar pengalaman batin tidak bertentangan dengan penalaran yang sehat dan kenyataan yang dapat diamati. Sebaliknya, nalar ’irfani menjaga agar nalar bayani tidak membeku dalam formalisme dan nalar burhani tidak kering dari makna.

Dalam Persuit Epistemology of Islamic Studies, saya menempatkan ketiga corak nalar ini sejajar, bukan sebagai saingan, melainkan sebagai pelengkap yang saling menjaga (Tabrani ZA, 2015). Esai ini mencoba menjelaskan lebih jauh bagaimana penjagaan itu bekerja khususnya bagi nalar ’irfani, yang paling rentan disalahpahami dan disalahgunakan.

Implikasi bagi Penelitian dan Pendidikan

Pembacaan tasawuf sebagai epistemologi membawa implikasi bagi cara kita meneliti dan mendidik. Dalam penelitian, pengalaman sufistik dapat dikaji dengan pendekatan fenomenologis yang berusaha memahami pengalaman sebagaimana dihayati oleh para pelakunya, tanpa langsung menghakimi atau mereduksinya. Dalam Metodologi Penelitian Fenomenologis, kami menekankan pentingnya kesediaan peneliti untuk menangguhkan prasangka dan mendengar pengalaman hidup dengan setia (Walidin et al., 2023). Pendekatan ini sangat sesuai untuk mengkaji pengalaman batin, asalkan peneliti tetap jujur membedakan antara mendeskripsikan pengalaman dan memvalidasi klaim kebenarannya.

Kajian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang ungkapan-ungkapan Melayu Sambas di madrasah ibtidaiyah menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter tersimpan dalam ungkapan tradisional yang diwariskan secara lisan (Putra et al., 2021). Temuan ini memperlihatkan bahwa pengetahuan tentang kebaikan tidak hanya hidup dalam pengalaman individual para sufi besar, tetapi juga dalam pengetahuan tak terkatakan sebuah komunitas, yang dihayati dalam laku sehari-hari dan diendapkan dalam bahasanya.

Dalam pendidikan, dimensi ’irfani mengingatkan bahwa belajar tidak hanya melibatkan kepala, tetapi juga hati. Dalam kajian filosofis tentang keberadaan jiwa dalam pembelajaran, kami menegaskan bahwa pendidikan yang mengabaikan jiwa akan menghasilkan kecerdasan yang rapuh (Tabrani ZA & Masbur, 2016). Pendidikan Islam yang utuh perlu memberi ruang bagi perenungan, keheningan, dan pengalaman batin, sambil tetap melatih ketelitian berpikir dan kesetiaan pada teks.

Penutup: Mencicipi dan Menimbang

Para sufi sering mengutip ungkapan: siapa yang belum mencicipi, ia tidak akan mengetahui. Ungkapan ini adalah klaim epistemologis yang mendalam: ada pengetahuan yang hanya dapat diperoleh melalui pengalaman langsung. Tetapi para sufi yang paling bijak juga mengajarkan bahwa siapa yang telah mencicipi perlu menimbang apa yang ia cicipi dengan timbangan syariat dan akal.

Barangkali di sanalah tempat tasawuf dalam epistemologi Islam: bukan sebagai jalan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai jalan yang memperdalam jalan-jalan lain. Ia mengingatkan teks bahwa di balik kata-kata ada kehadiran, dan mengingatkan akal bahwa di balik penalaran ada makna. Sebaliknya, ia sendiri perlu diingatkan oleh teks dan akal agar tetap rendah hati: bahwa rasa yang paling dalam pun tetap rasa manusia, yang dapat keliru, dan yang selalu membutuhkan bimbingan.

References

Abdullah, M. A. (2006). Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Al-Ghazali. (1980). Freedom and Fulfillment: An Annotated Translation of al-Ghazali’s al-Munqidh min al-Dalal (R. J. McCarthy, Trans.). Boston: Twayne.

Al-Jabiri, M. A. (1986). Bunyat al-’Aql al-’Arabi. Beirut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-’Arabiyyah.

Arif, S. (2002). Sufi Epistemology: Ibn ’Arabi on Knowledge. Afkar: Journal of Aqidah and Islamic Thought, 3(1), 81–94.

Chittick, W. C. (1989). The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-’Arabi’s Metaphysics of Imagination. Albany: State University of New York Press.

Ha’iri Yazdi, M. (1992). The Principles of Epistemology in Islamic Philosophy: Knowledge by Presence. Albany: State University of New York Press.

James, W. (1902). The Varieties of Religious Experience: A Study in Human Nature. New York: Longmans, Green.

Polanyi, M. (1966). The Tacit Dimension. Garden City, NY: Doubleday.

Putra, P., Kartika MR, G. N., Hafiz, A., Pratama, D., & Samad, A. (2021). The Use Malays-Sambas Expressions in Developing Character Education in Sambas Primary Madrasah in Millennial Era. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 9(2). https://doi.org/10.26811/peuradeun.v9i2.482

Tabrani ZA, & Masbur, M. (2016). Islamic Perspectives on the Existence of Soul and Its Influence in Human Learning (A Philosophical Analysis of the Classical and Modern Learning Theories). Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, 1(2), 99–112. https://doi.org/10.22373/je.v1i2.600

Tabrani ZA. (2015). Persuit Epistemology of Islamic Studies: Buku Dua Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Walidin, W., Idris, S., & Tabrani ZA. (2023). Metodologi Penelitian Fenomenologis. Darussalam Publishing.

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →