Education Zone
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
Read about the INSTAL Model →
← Back to home

Otoritas Epistemik di Zaman Algoritma: Guru, Mesin, dan Rekonstruksi Sanad Keilmuan

October 22, 2026
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini melanjutkan “Guru di Zaman Mesin yang Pandai Menjawab” dengan menggeser pertanyaan dari peran guru menuju persoalan yang lebih mendasar, yakni otoritas epistemik: atas dasar apa seseorang, sebuah lembaga, atau sebuah mesin layak dipercaya sebagai sumber pengetahuan? Kehadiran kecerdasan buatan generatif tidak hanya mengubah cara murid mencari jawaban, tetapi juga mengguncang struktur otoritas keilmuan yang selama berabad-abad bertumpu pada guru, kitab, dan sanad. Dengan menimbang teori otoritas epistemik Linda Zagzebski, persoalan awam dan ahli yang dirumuskan Alvin Goldman, kritik terhadap model bahasa besar sebagai “beo stokastik”, serta kajian Jonathan Brown tentang sistem isnad dalam tradisi hadis, esai ini memetakan tiga bentuk otoritas: otoritas personal, otoritas tekstual, dan otoritas algoritmik. Kritik Neil Selwyn tentang mitos mesin yang menggantikan guru dan gagasan Gert Biesta tentang pendidikan sebagai risiko yang indah juga dibaca dalam terang tradisi Islam. Merujuk dwilogi penulis tentang metodologi dan epistemologi studi Islam, kajian tentang konsep pendidikan kritis di era pendidikan 4.0, serta temuan Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang peningkatan kompetensi dosen, esai ini berargumen bahwa jawaban atas krisis otoritas bukanlah menolak mesin atau menyerah kepadanya, melainkan merekonstruksi sanad keilmuan: menumbuhkan kemampuan murid untuk menelusuri, menimbang, dan mempertanggungjawabkan sumber pengetahuan, termasuk sumber yang tidak berwajah.

Keywords: Otoritas epistemik; Kecerdasan buatan; Epistemologi kesaksian; Pendidikan Islam; Literasi algoritmik

KEY POINTS

  • Kecerdasan buatan generatif mengguncang struktur otoritas keilmuan, bukan hanya cara murid mencari jawaban.
  • Otoritas epistemik yang sah bukan otoritas yang menuntut kepatuhan, melainkan otoritas yang memberi alasan untuk dipercaya.
  • Persoalan awam dan ahli kini bertambah rumit: murid harus menimbang bukan hanya manusia, tetapi juga mesin.
  • Sistem isnad dalam tradisi hadis adalah salah satu teknologi epistemik paling canggih untuk menimbang kesaksian.
  • Model bahasa besar tidak memiliki sanad dan tidak memikul tanggung jawab; karena itu ia tidak dapat menjadi otoritas, hanya alat.
  • Tugas pendidikan Islam adalah merekonstruksi sanad keilmuan sebagai kecakapan menelusuri dan mempertanggungjawabkan sumber.

— — — ARTICLE — — —

Dari Peran Guru ke Struktur Otoritas

Dalam “Guru di Zaman Mesin yang Pandai Menjawab”, kita telah menimbang bagaimana kecerdasan buatan menggeser peran guru dari sumber informasi menjadi murabbi, pembimbing yang menumbuhkan kebijaksanaan. Kesimpulan itu, bila direnungkan ulang, menyisakan pertanyaan yang lebih dalam. Pergeseran peran guru hanyalah gejala di permukaan. Di bawahnya, ada guncangan yang lebih mendasar: guncangan terhadap struktur otoritas keilmuan itu sendiri.

Selama berabad-abad, otoritas keilmuan dalam tradisi Islam bertumpu pada tiga pilar: guru yang dikenal integritas dan kedalamannya, kitab yang diakui dan disyarah dari generasi ke generasi, serta sanad yang menghubungkan keduanya dalam mata rantai yang dapat ditelusuri. Seorang murid tahu kepada siapa ia harus bertanya, kitab mana yang dapat dipercaya, dan bagaimana menimbang pendapat yang berbeda. Kini, sebuah mesin dapat menjawab hampir semua pertanyaan dengan bahasa yang fasih dan percaya diri, tanpa wajah, tanpa sanad, dan tanpa pertanggungjawaban.

Persoalannya kemudian adalah: atas dasar apa sesuatu layak dipercaya sebagai sumber pengetahuan? Inilah pertanyaan tentang otoritas epistemik, salah satu pertanyaan tertua dalam epistemologi yang kini kembali menjadi sangat mendesak.

Otoritas yang Memberi Alasan

Linda Zagzebski, dalam bukunya tentang otoritas epistemik, memberi kerangka yang berguna untuk menjawab pertanyaan ini. Ia membedakan otoritas yang sah dari sekadar kekuasaan. Otoritas epistemik yang sah, menurutnya, adalah otoritas yang, bila kita mempercayainya, membuat kita lebih mungkin sampai pada kebenaran daripada bila kita mengandalkan penalaran sendiri. Dengan kata lain, kita mempercayai seorang ahli bukan karena ia memaksa, melainkan karena kita memiliki alasan untuk meyakini bahwa ia lebih dapat diandalkan (Zagzebski, 2012).

Kepercayaan semacam ini bersifat rasional: ia dapat dijelaskan, diperiksa, dan dicabut bila alasan-alasannya tidak lagi berlaku. Pembedaan ini sangat penting bagi pendidikan Islam. Otoritas guru dalam tradisi kita, bila dipahami dengan benar, bukan otoritas yang menuntut kepatuhan buta, melainkan otoritas yang lahir dari ilmu, integritas, dan sanad yang dapat ditelusuri. Murid mempercayai guru karena guru telah membuktikan dirinya layak dipercaya. Bila otoritas itu berubah menjadi tuntutan kepatuhan tanpa alasan, ia kehilangan legitimasi epistemiknya, sebagaimana telah kita bahas dalam esai tentang adab sebagai kebajikan epistemik.

Zagzebski juga menegaskan bahwa mempercayai otoritas tidak sama dengan menyerahkan otonomi intelektual. Orang yang otonom secara intelektual justru tahu kapan ia perlu bergantung pada orang lain dan kapan ia perlu menimbang sendiri. Kebergantungan yang bijak adalah bagian dari kecerdasan, bukan lawannya.

Persoalan Awam di Hadapan Ahli

Alvin Goldman, dalam artikelnya yang banyak dikutip di Philosophy and Phenomenological Research, merumuskan sebuah persoalan yang sangat relevan: bagaimana seorang awam dapat menilai siapa yang lebih layak dipercaya di antara dua ahli yang berbeda pendapat, padahal ia sendiri tidak memiliki keahlian untuk menimbang argumen mereka (Goldman, 2001)? Goldman menawarkan beberapa petunjuk: memeriksa argumen yang dapat dipahami, melihat kesepakatan di antara para ahli lain, menimbang rekam jejak, dan mencurigai kepentingan atau bias.

Di zaman algoritma, persoalan Goldman menjadi semakin rumit. Murid kini tidak hanya berhadapan dengan para ahli manusia yang berbeda pendapat, tetapi juga dengan mesin yang dapat meniru bahasa para ahli dengan sangat meyakinkan. Mesin tidak memiliki rekam jejak dalam arti manusiawi, tidak memiliki kepentingan yang mudah dikenali, dan sering kali tidak dapat menjelaskan dari mana jawabannya berasal. Petunjuk-petunjuk Goldman perlu dibaca ulang dan dikembangkan untuk menghadapi sumber yang tidak berwajah ini.

Beo Stokastik dan Kefasihan yang Menipu

Emily Bender dan para koleganya mengajukan kritik yang tajam terhadap model bahasa besar. Mereka menyebutnya sebagai “beo stokastik”: sistem yang mampu menyusun kalimat yang fasih berdasarkan pola statistik dari data dalam jumlah raksasa, tetapi tidak memiliki pemahaman tentang makna dan tidak terhubung dengan kenyataan yang dibicarakannya (Bender et al., 2021). Kefasihan itu, menurut mereka, dapat menipu: manusia cenderung menganggap bahasa yang lancar sebagai tanda pemahaman, padahal keduanya tidak selalu sejalan.

Kritik ini menyingkap persoalan epistemologis yang mendasar. Dalam tradisi kita, kefasihan tidak pernah menjadi ukuran kebenaran. Seorang periwayat hadis yang fasih tetapi diketahui tidak jujur atau lemah hafalannya tidak diterima riwayatnya. Yang menentukan bukan keindahan bahasa, melainkan integritas dan ketelitian sumber. Mesin yang fasih tetapi tidak dapat dimintai pertanggungjawaban, dalam ukuran ini, tidak dapat menjadi otoritas. Ia dapat menjadi alat yang berguna, tetapi alat tidak sama dengan otoritas.

Isnad sebagai Teknologi Epistemik

Di sinilah tradisi isnad menemukan relevansinya yang paling segar. Jonathan Brown, dalam kajiannya tentang warisan hadis, memperlihatkan bahwa sistem isnad bukan sekadar daftar nama, melainkan sebuah teknologi epistemik yang sangat canggih untuk menimbang kesaksian (Brown, 2009). Para ahli hadis mengembangkan kriteria untuk menilai integritas moral periwayat, kekuatan hafalan dan ketelitiannya, kesinambungan mata rantai, serta kesesuaian isi riwayat dengan riwayat lain yang lebih kuat. Mereka juga menyusun ensiklopedia biografi para periwayat, sehingga setiap mata rantai dapat diperiksa oleh generasi berikutnya.

Sistem ini memperlihatkan prinsip yang sangat relevan bagi zaman kita: otoritas sebuah pengetahuan tidak terletak pada isinya semata, tetapi pada jalan yang membawanya sampai kepada kita, dan jalan itu harus dapat ditelusuri serta dipertanggungjawabkan. Ketika sebuah mesin memberikan jawaban tanpa dapat menunjukkan jalannya, ia gagal memenuhi prinsip dasar ini.

Tentu, kita tidak dapat menerapkan kriteria isnad secara mentah-mentah kepada mesin. Tetapi semangatnya dapat dihidupkan kembali dalam bentuk yang baru: setiap informasi yang diperoleh dari mesin harus ditelusuri ke sumber aslinya, diperiksa kebenarannya, dan dipertanggungjawabkan oleh manusia yang memakainya.

Tiga Bentuk Otoritas

Dari uraian di atas, saya ingin memetakan tiga bentuk otoritas epistemik yang kini hidup berdampingan dalam pendidikan kita.

Pertama, otoritas personal: otoritas guru, ulama, dan ahli yang dikenal secara langsung. Kekuatannya terletak pada perjumpaan, keteladanan, dan kemungkinan untuk bertanya dan dikoreksi. Kelemahannya, ia dapat berubah menjadi kultus individu bila tidak diimbangi oleh pengujian.

Kedua, otoritas tekstual: otoritas kitab, buku, jurnal, dan dokumen yang diakui. Kekuatannya terletak pada kestabilan dan kemungkinan untuk diperiksa ulang. Kelemahannya, teks dapat dibaca secara keliru bila dilepaskan dari tradisi penafsirannya.

Ketiga, otoritas algoritmik: otoritas yang secara diam-diam diberikan kepada mesin pencari, sistem rekomendasi, dan model bahasa. Kekuatannya terletak pada kecepatan dan keluasan akses. Kelemahannya, ia tidak berwajah, tidak bersanad, dan sering tidak dapat dijelaskan. Bahayanya, otoritas ini tumbuh tanpa disadari: murid mempercayai mesin bukan karena telah menimbangnya, melainkan karena mesin selalu tersedia dan selalu menjawab.

Ketiga bentuk otoritas ini tidak harus dipertentangkan. Dalam keadaan yang sehat, ketiganya saling mengoreksi: guru membantu murid membaca teks dengan benar, teks menjadi ukuran untuk menguji pendapat guru, dan mesin dapat membantu menemukan teks dan pendapat dengan lebih cepat. Masalah muncul ketika salah satunya menelan yang lain. Pendidikan Islam perlu membantu murid menyadari ketiga bentuk otoritas ini, menimbang kekuatan dan kelemahannya, dan menempatkan masing-masing pada tempatnya, sebuah kerja yang, sekali lagi, adalah kerja adab.

Fragmentasi Otoritas Keagamaan

Guncangan otoritas ini sesungguhnya telah dimulai sebelum kecerdasan buatan hadir. Sejak media sosial menjadi ruang utama percakapan keagamaan, otoritas keagamaan mengalami fragmentasi. Seorang penceramah dengan jutaan pengikut dapat lebih didengar daripada ulama yang menghabiskan puluhan tahun mendalami kitab. Popularitas, kefasihan berbicara di depan kamera, dan kemampuan menyederhanakan persoalan menjadi ukuran baru otoritas, menggeser ukuran lama berupa kedalaman ilmu dan kesinambungan sanad.

Kecerdasan buatan memperdalam fragmentasi itu dengan cara yang lebih halus. Kini, seseorang tidak perlu lagi mencari penceramah; ia cukup bertanya kepada mesin, yang akan menjawab dengan nada netral dan meyakinkan, seolah-olah tanpa kepentingan dan tanpa mazhab. Padahal, jawaban mesin dibentuk oleh data yang dipelajarinya, dengan segala ketimpangan, bias, dan kekosongannya. Khazanah keilmuan yang jarang didigitalkan, termasuk banyak karya ulama Nusantara, mungkin hampir tidak terwakili. Otoritas algoritmik, dengan demikian, bukan otoritas yang netral; ia mewarisi ketimpangan dari dunia yang membentuknya.

Bayangkan seorang mahasiswa yang bertanya kepada mesin tentang hukum zakat penghasilan. Mesin memberikan jawaban yang rapi, lengkap dengan pendapat ulama dan dalil. Tetapi ketika dosennya bertanya, “Ulama yang mana? Dari kitab apa? Bagaimana konteks fatwanya?”, mahasiswa itu terdiam. Ia memiliki jawaban, tetapi tidak memiliki jalan menuju jawaban itu. Di sinilah tampak perbedaan antara memiliki informasi dan memiliki ilmu: ilmu selalu menyertakan kesadaran tentang dari mana ia datang dan bagaimana ia dapat diuji.

Mitos Mesin yang Menggantikan Guru

Neil Selwyn, dalam bukunya tentang pertanyaan apakah robot akan menggantikan guru, mengingatkan bahwa wacana tentang kecerdasan buatan dalam pendidikan sering dibangun di atas mitos (Selwyn, 2019). Mitos itu menyatakan bahwa mengajar pada dasarnya adalah menyampaikan informasi dan menilai jawaban, sehingga mesin yang lebih cepat dan lebih murah akan menggantikan guru. Selwyn menunjukkan bahwa mengajar jauh lebih dari itu: ia melibatkan hubungan, pertimbangan moral, kepekaan terhadap konteks, dan tanggung jawab atas pertumbuhan manusia.

Gert Biesta, dari sudut filsafat pendidikan, menyebut pendidikan sebagai “risiko yang indah” (Biesta, 2013). Pendidikan yang sejati tidak dapat dijamin hasilnya, karena ia melibatkan perjumpaan antara manusia yang bebas. Upaya untuk menghapus risiko itu, misalnya dengan mengubah pendidikan menjadi proses yang sepenuhnya terukur dan terotomatisasi, justru menghapus apa yang membuat pendidikan bermakna. Mesin dapat mengurangi ketidakpastian dalam menyampaikan informasi, tetapi ia tidak dapat memikul risiko dan tanggung jawab dalam membentuk manusia.

Merekonstruksi Sanad Keilmuan

Lalu, apa yang perlu dilakukan pendidikan Islam? Saya ingin mengajukan gagasan tentang rekonstruksi sanad keilmuan, yakni menghidupkan kembali semangat sanad dalam bentuk kecakapan yang relevan bagi zaman algoritma.

Rekonstruksi itu mencakup tiga kecakapan. Pertama, kecakapan menelusuri: kemampuan melacak setiap informasi ke sumber aslinya, membedakan sumber primer dari sumber turunan, dan tidak berhenti pada jawaban yang tampak meyakinkan. Kedua, kecakapan menimbang: kemampuan menilai kekuatan bukti, kredibilitas sumber, dan kemungkinan bias, termasuk bias yang tertanam dalam data dan algoritma. Ketiga, kecakapan mempertanggungjawabkan: kesediaan untuk menyatakan dengan jujur dari mana pengetahuan diperoleh, termasuk bila ia diperoleh dengan bantuan mesin, dan menanggung akibat dari penggunaannya.

Gagasan ini sejalan dengan apa yang saya kembangkan dalam Arah Baru Metodologi Studi Islam, bahwa metode adalah sikap menguji setiap klaim pengetahuan, bukan sekadar teknik (Tabrani ZA, 2015a), dan dalam Persuit Epistemology of Islamic Studies, bahwa epistemologi Islam selalu bertanya tentang sumber dan jalan pengetahuan, bukan hanya isinya (Tabrani ZA, 2015b). Ia juga sejalan dengan kajian kami tentang konsep pendidikan kritis dalam perspektif pendidikan Islam di era pendidikan 4.0, yang menekankan bahwa kemajuan teknologi menuntut penguatan kesadaran kritis, bukan pelemahannya (Idris et al., 2020).

Dalam praktik pembelajaran, ketiga kecakapan itu dapat dilatih dengan cara yang sederhana. Murid dapat diminta untuk tidak hanya menyerahkan jawaban, tetapi juga “sanad” jawabannya: dari mana ia memperolehnya, sumber asli mana yang telah ia periksa, dan bagian mana yang ia peroleh dengan bantuan mesin. Tugas semacam ini mengubah mesin dari jalan pintas menjadi bahan latihan, dan mengubah kebiasaan menyalin menjadi kebiasaan menelusuri. Penilaian pun bergeser dari hasil akhir menuju jejak penalaran.

Rekonstruksi sanad keilmuan juga menuntut kesiapan para pendidik. Kajian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang peningkatan kompetensi dosen untuk mendorong inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran menegaskan pentingnya pengembangan profesional yang berkelanjutan (Riza et al., 2024). Di zaman algoritma, pengembangan itu perlu mencakup literasi algoritmik: pemahaman tentang cara kerja mesin, batas-batasnya, dan dampaknya terhadap cara murid belajar.

Penutup: Sanad di Zaman Tanpa Wajah

Para ulama terdahulu menjaga sanad karena mereka menyadari bahwa ilmu adalah amanah yang harus diterima dari tangan yang dapat dipercaya dan diteruskan kepada tangan yang dapat dipercaya. Di zaman ketika jawaban datang dari mesin yang tidak berwajah, amanah itu tidak hilang; ia justru semakin berat.

Tugas pendidikan Islam hari ini bukan menolak mesin, dan bukan pula menyerahkan otoritas kepadanya. Tugasnya adalah mendidik manusia yang mampu menempatkan setiap sumber pada tempatnya: menghormati guru tanpa mengkultuskannya, membaca kitab tanpa membekukannya, dan memakai mesin tanpa diperbudaknya. Manusia semacam itu adalah pewaris sejati tradisi sanad, meskipun ia hidup di zaman yang tidak lagi mengenal wajah sumbernya.

References

Bender, E. M., Gebru, T., McMillan-Major, A., & Shmitchell, S. (2021). On the Dangers of Stochastic Parrots: Can Language Models Be Too Big? Dalam Proceedings of the 2021 ACM Conference on Fairness, Accountability, and Transparency (pp. 610–623). https://doi.org/10.1145/3442188.3445922

Biesta, G. J. J. (2013). The Beautiful Risk of Education. Boulder: Paradigm Publishers.

Brown, J. A. C. (2009). Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World. Oxford: Oneworld.

Goldman, A. I. (2001). Experts: Which Ones Should You Trust? Philosophy and Phenomenological Research, 63(1), 85–110. https://doi.org/10.1111/j.1933-1592.2001.tb00093.x

Idris, S., Tabrani ZA, Sulaiman, F., & Amsori. (2020). Assessment of Critical Education Concepts in the Perspective of Islamic Education. Dalam A. Kusmawan et al. (Eds.), Emerging Perspectives and Trends in Innovative Technology for Quality Education 4.0 (pp. 66–70). London: Routledge.

Riza, S., Syarif, M., Mardatillah, F., Salam, A. J., Khafidah, W., & Yusuf, M. (2024). Improving Lecturer Competence to Encourage Innovation and Creativity in Learning. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 12(1), 249–272. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v12i1.1078

Selwyn, N. (2019). Should Robots Replace Teachers? AI and the Future of Education. Cambridge: Polity Press.

Tabrani ZA. (2015a). Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Tabrani ZA. (2015b). Persuit Epistemology of Islamic Studies: Buku Dua Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Zagzebski, L. T. (2012). Epistemic Authority: A Theory of Trust, Authority, and Autonomy in Belief. New York: Oxford University Press.

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →