ABSTRACT
Esai ini melanjutkan “Angka dan Makna” dengan menggeser pertanyaan dari paradigma mana yang dipilih menuju bagaimana angka semestinya dibaca agar sungguh menghasilkan pengetahuan. Bila esai sebelumnya menimbang perang paradigma, metode campuran, dan dua penyakit dalam penelitian kita, kegelisahan esai ini lebih teknis sekaligus lebih filosofis: mengapa begitu banyak skripsi, tesis, dan artikel kuantitatif berakhir dengan kalimat “terdapat pengaruh yang signifikan”, tetapi hampir tidak pernah menjawab seberapa besar pengaruh itu, apakah temuan itu dapat diulang, dan apakah hubungan yang ditemukan sungguh hubungan sebab-akibat. Dengan menimbang kritik Jacob Cohen terhadap ritual uji signifikansi, proyek replikasi besar dari Open Science Collaboration, kerangka validitas dari William Shadish, Thomas Cook, dan Donald Campbell, sintesis ukuran efek dari John Hattie, serta revolusi nalar kausal yang dipopulerkan Judea Pearl, esai ini membedakan tiga pertanyaan yang sering dicampuradukkan: apakah ada hubungan, seberapa besar hubungan itu, dan mengapa hubungan itu terjadi. Merujuk Persuit Epistemology of Islamic Studies, kajian penulis tentang integrasi KKNI, SNPT, dan paradigma integrasi-interkoneksi, serta penelitian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang peningkatan kompetensi dosen, esai ini berargumen bahwa penelitian kuantitatif di perguruan tinggi Islam perlu bergerak dari mengejar signifikansi menuju membangun pemahaman yang bermakna, jujur, dan dapat diuji ulang.
Keywords: Uji signifikansi; Ukuran efek; Replikasi; Validitas; Kausalitas; Penelitian pendidikan
KEY POINTS
- “Signifikan” secara statistik tidak sama dengan penting, besar, atau bermakna.
- Cohen mengkritik uji signifikansi yang dijalankan sebagai ritual tanpa pemahaman.
- Proyek replikasi besar memperlihatkan bahwa banyak temuan yang diterbitkan tidak dapat diulang.
- Shadish, Cook, dan Campbell menawarkan kerangka validitas untuk menimbang kekuatan klaim kausal.
- Hattie memperlihatkan pentingnya ukuran efek untuk membandingkan besarnya pengaruh dalam pendidikan.
- Pearl mengingatkan bahwa sebab-akibat tidak dapat disimpulkan dari data saja tanpa model kausal yang jelas.
— — — ARTICLE — — —
Kalimat
yang Selalu Sama
Dalam “Angka dan Makna”, kita telah
menimbang perang paradigma antara kuantitatif dan kualitatif, lahirnya metode
campuran sebagai jalan ketiga, serta dua penyakit dalam penelitian kita:
memilih metode sebelum merumuskan pertanyaan, dan memakai angka tanpa memahami
makna di baliknya. Kita menyimpulkan bahwa pertanyaanlah yang menentukan jalan.
Esai ini hendak masuk lebih dalam ke wilayah angka itu sendiri. Siapa
pun yang pernah membimbing atau menguji skripsi kuantitatif di fakultas
pendidikan mengenal kalimat yang hampir selalu muncul di bagian kesimpulan:
“Terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel X terhadap variabel Y.”
Kalimat ini diucapkan dengan bangga dalam sidang, seolah-olah ia adalah puncak
penemuan.
Persoalannya kemudian adalah bahwa kalimat itu, sendirian, hampir tidak
mengatakan apa-apa yang berguna. Ia tidak mengatakan seberapa besar
pengaruhnya. Ia tidak mengatakan apakah pengaruh itu cukup penting untuk
mengubah praktik. Ia tidak mengatakan apakah temuan itu akan muncul lagi bila
penelitian diulang. Dan sering kali, ia bahkan tidak dapat mengatakan apakah X
sungguh menyebabkan Y, atau keduanya hanya bergerak bersama karena faktor lain.
Di sinilah letak problem mendasarnya: kita telah menjadikan “signifikan”
sebagai tujuan, padahal ia hanyalah salah satu alat yang sangat terbatas.
Ritual
Signifikansi
Jacob Cohen, statistikawan dan psikolog yang
sangat berpengaruh, menulis sebuah artikel dengan judul yang jenaka sekaligus
tajam: bumi itu bulat (p < 0,05) (Cohen, 1994). Dalam artikel ini, ia
mengkritik cara uji signifikansi hipotesis nol dijalankan dalam ilmu-ilmu
sosial. Menurutnya, uji ini sering disalahpahami. Banyak peneliti mengira bahwa
nilai p yang kecil menunjukkan bahwa hipotesisnya benar, atau bahwa pengaruh
yang ditemukan besar. Padahal nilai p hanya mengatakan seberapa mungkin data
seperti itu muncul bila hipotesis nol benar.
Cohen juga menunjukkan bahwa hipotesis nol, yaitu bahwa pengaruhnya
tepat nol, hampir selalu keliru dalam dunia nyata. Hampir semua variabel dalam
ilmu sosial saling berhubungan sedikit banyak. Akibatnya, dengan sampel yang
cukup besar, hampir setiap hubungan akan tampak “signifikan”, betapapun kecil
dan tidak pentingnya. Sebaliknya, dengan sampel kecil, pengaruh yang sungguh
penting dapat tampak “tidak signifikan”.
Kritik Cohen mengarah pada satu anjuran yang sederhana tetapi mendasar:
laporkan ukuran efek dan interval kepercayaan, bukan hanya nilai p. Ukuran
efek mengatakan seberapa besar pengaruhnya. Interval kepercayaan mengatakan
seberapa yakin kita akan besarnya pengaruh itu. Keduanya jauh lebih berguna
bagi pengambil keputusan daripada sekadar pernyataan “signifikan” atau “tidak
signifikan”.
Bayangkan dua penelitian tentang metode pembelajaran tahfiz. Penelitian
pertama, dengan seribu santri, menemukan bahwa metode baru meningkatkan hafalan
secara signifikan, tetapi rata-rata hanya bertambah setengah ayat per pekan.
Penelitian kedua, dengan dua puluh santri, menemukan bahwa metode lain
meningkatkan hafalan rata-rata lima ayat per pekan, tetapi hasilnya “tidak
signifikan” karena sampelnya kecil dan variasinya besar. Bila kita hanya
membaca nilai p, kita akan memilih metode pertama. Bila kita membaca ukuran
efek dan interval kepercayaan, kita akan menyadari bahwa metode kedua mungkin
jauh lebih menjanjikan dan layak diteliti lebih lanjut dengan sampel yang lebih
besar.
Krisis
Replikasi
Pada tahun 2015, sekelompok besar peneliti yang
tergabung dalam Open Science Collaboration menerbitkan hasil proyek yang
mengguncang dunia psikologi (Open Science Collaboration, 2015). Mereka mencoba
mengulang seratus penelitian yang telah diterbitkan di jurnal-jurnal psikologi
terkemuka. Hasilnya mengejutkan: hanya sekitar sepertiga hingga separuh dari
temuan itu yang berhasil direplikasi, tergantung pada kriteria yang dipakai.
Ukuran efek dalam penelitian ulangan rata-rata hanya sekitar setengah dari ukuran
efek dalam penelitian aslinya.
Temuan ini tidak berarti bahwa semua penelitian yang gagal direplikasi
adalah penipuan. Ada banyak alasan sebuah temuan tidak muncul lagi: perbedaan
konteks, perbedaan sampel, atau memang temuan aslinya hanya kebetulan. Tetapi
proyek ini memperlihatkan bahwa ilmu yang sehat membutuhkan replikasi, dan
bahwa satu penelitian, betapapun signifikan hasilnya, belum cukup untuk
dijadikan dasar kebijakan.
Bagi penelitian pendidikan di Indonesia, pelajaran ini sangat penting.
Kita jarang melakukan penelitian replikasi, karena ia dianggap kurang orisinal.
Akibatnya, banyak temuan yang hanya didukung oleh satu penelitian kecil di satu
sekolah dikutip berulang kali seolah-olah telah terbukti. Padahal, dalam
tradisi ilmu hadis, sebuah riwayat yang hanya didukung oleh satu jalur
periwayatan diperlakukan dengan lebih hati-hati daripada riwayat yang didukung
oleh banyak jalur yang independen. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada
temuan penelitian: temuan yang telah direplikasi oleh banyak peneliti di banyak
konteks lebih layak dipercaya daripada temuan tunggal.
Empat
Jenis Validitas
William Shadish, Thomas Cook, dan Donald
Campbell, dalam karya klasik tentang rancangan eksperimen dan kuasi-eksperimen,
menawarkan kerangka untuk menimbang kekuatan sebuah klaim kausal (Shadish et
al., 2002). Mereka membedakan empat jenis validitas.
Validitas kesimpulan statistik bertanya apakah hubungan antara variabel
sungguh ada dan seberapa kuat. Validitas internal bertanya apakah hubungan itu
sungguh hubungan sebab-akibat, atau dapat dijelaskan oleh faktor lain.
Validitas konstruk bertanya apakah variabel yang diukur sungguh mewakili konsep
yang dimaksud. Dan validitas eksternal bertanya apakah temuan itu dapat
digeneralisasi ke orang, tempat, dan waktu yang lain.
Kerangka ini sangat berguna untuk memeriksa penelitian kita. Sebuah
skripsi yang menemukan bahwa “motivasi belajar berpengaruh signifikan terhadap
prestasi” mungkin memiliki validitas kesimpulan statistik yang baik. Tetapi
bagaimana dengan validitas internalnya? Apakah motivasi sungguh menyebabkan
prestasi, ataukah prestasi yang baik justru meningkatkan motivasi, ataukah
keduanya dipengaruhi oleh dukungan keluarga? Bagaimana dengan validitas
konstruknya? Apakah angket dengan dua puluh butir sungguh mengukur motivasi,
atau hanya mengukur kecenderungan menjawab secara sosial diinginkan? Dan
bagaimana dengan validitas eksternalnya? Apakah temuan di satu sekolah di Banda
Aceh berlaku juga di dayah di pedalaman?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk melumpuhkan
penelitian, tetapi untuk membuatnya lebih jujur. Penelitian yang baik tidak
harus sempurna dalam keempat validitas, tetapi ia harus menyadari kekuatan dan
kelemahannya, lalu menyatakannya dengan terbuka.
Bagian “keterbatasan penelitian” dalam skripsi dan artikel kita sering
ditulis secara formalitas, misalnya dengan kalimat bahwa “penelitian ini hanya
dilakukan di satu sekolah”. Kerangka Shadish, Cook, dan Campbell mengajak kita
menulis bagian itu dengan lebih serius: menyebut ancaman validitas yang paling
mungkin, menjelaskan bagaimana ancaman itu dapat memengaruhi kesimpulan, dan
menyarankan rancangan yang lebih kuat bagi penelitian berikutnya. Dengan cara
itu, keterbatasan tidak lagi menjadi pengakuan yang memalukan, melainkan
sumbangan bagi kemajuan penelitian.
Ukuran Efek dan Perbandingan
John Hattie, peneliti pendidikan
dari Selandia Baru, melakukan salah satu upaya sintesis terbesar dalam
penelitian pendidikan. Dalam Visible Learning, ia mengumpulkan lebih
dari delapan ratus meta-analisis tentang faktor-faktor yang memengaruhi
prestasi belajar, lalu membandingkan ukuran efek masing-masing (Hattie, 2009).
Ia menunjukkan bahwa hampir semua intervensi pendidikan memiliki pengaruh positif.
Karena itu, pertanyaan yang penting bukan apakah sebuah intervensi berpengaruh,
tetapi apakah pengaruhnya cukup besar dibandingkan dengan intervensi lain.
Karya Hattie tentu tidak lepas dari kritik. Para ahli statistik
mempersoalkan cara ia menggabungkan meta-analisis yang sangat beragam, dan
sebagian pendidik khawatir bahwa peringkat ukuran efek dapat disederhanakan
menjadi resep yang mekanis. Kritik-kritik ini sah dan perlu diperhatikan.
Tetapi gagasan pokok Hattie tetap berharga: dalam pendidikan, kita perlu
bertanya bukan hanya “apakah berpengaruh?” tetapi “seberapa besar, dibandingkan
dengan apa?”
Nalar Kausal
Judea Pearl, ilmuwan komputer peraih Turing Award,
bersama Dana Mackenzie menulis The Book of Why, yang memperkenalkan
revolusi dalam cara berpikir tentang sebab-akibat (Pearl & Mackenzie,
2018). Pearl berargumen bahwa statistik tradisional terlalu lama menghindari
bahasa sebab-akibat, dengan berlindung di balik semboyan bahwa korelasi bukan
kausalitas. Semboyan itu benar, tetapi tidak cukup. Kita memang membutuhkan
cara untuk menimbang klaim kausal, dan cara itu tidak dapat diperoleh dari data
saja.
Pearl memperkenalkan apa yang ia sebut tangga kausalitas. Anak tangga
pertama adalah asosiasi: melihat bahwa dua hal bergerak bersama. Anak tangga
kedua adalah intervensi: bertanya apa yang terjadi bila kita mengubah sesuatu.
Anak tangga ketiga adalah kontrafaktual: bertanya apa yang akan terjadi
seandainya keadaan berbeda. Sebagian besar penelitian korelasional di bidang
pendidikan berhenti di anak tangga pertama, tetapi kesimpulannya sering
diucapkan dalam bahasa anak tangga kedua: “X berpengaruh terhadap Y”,
seolah-olah mengubah X akan mengubah Y.
Untuk naik ke anak tangga yang lebih tinggi, menurut Pearl, peneliti
harus berani merumuskan model kausal secara eksplisit, misalnya melalui diagram
yang menunjukkan bagaimana variabel-variabel saling memengaruhi. Model ini
berasal dari pengetahuan, teori, dan nalar peneliti, bukan dari data. Data
kemudian dipakai untuk menguji dan memperkirakan model itu. Dengan kata lain,
penelitian kuantitatif yang baik tidak dapat menghindari pemikiran teoretis dan
filosofis. Di sinilah metodologi kuantitatif bertemu kembali dengan filsafat
ilmu yang kita bahas dalam esai-esai sebelumnya. Angka tidak pernah berbicara
sendiri; ia selalu dibaca melalui kerangka yang dibangun oleh peneliti. Yang
membedakan peneliti yang jujur dari yang tidak bukan ada atau tidaknya kerangka
itu, melainkan kesediaannya untuk menyatakan kerangka itu secara terbuka
sehingga dapat diperiksa dan dikritik oleh orang lain.
Tiga Pertanyaan yang Berbeda
Dari uraian ini, kita dapat
membedakan tiga pertanyaan yang sering dicampuradukkan dalam penelitian
kuantitatif. Pertanyaan pertama: apakah ada hubungan? Uji signifikansi dapat
membantu menjawabnya, dengan segala keterbatasannya. Pertanyaan kedua: seberapa
besar hubungan itu? Ukuran efek dan interval kepercayaan diperlukan untuk
menjawabnya. Pertanyaan ketiga: mengapa hubungan itu terjadi, dan apakah ia
hubungan sebab-akibat? Ini membutuhkan rancangan penelitian yang tepat, model
kausal yang eksplisit, dan sering kali juga data kualitatif yang menjelaskan
mekanismenya.
Penelitian yang matang menyadari pertanyaan mana yang sedang ia jawab,
dan tidak mengklaim lebih dari yang dapat didukung oleh rancangan dan datanya.
Kejujuran semacam ini sejalan dengan adab ilmiah yang telah lama kita kenal:
tidak berkata melampaui apa yang diketahui.
Implikasi
bagi Kita
Dalam Persuit Epistemology of Islamic
Studies, saya berargumen bahwa setiap metode membawa asumsi epistemologis
yang perlu disadari (Tabrani ZA, 2015). Statistik inferensial bukan alat netral
yang dapat dipakai tanpa berpikir; ia membawa asumsi tentang peluang, tentang
populasi, dan tentang hubungan antara sampel dan kenyataan. Peneliti yang
memakai statistik tanpa memahami asumsinya sedang membangun rumah di atas
fondasi yang tidak ia kenal.
Kajian kami tentang integrasi KKNI, SNPT, dan paradigma
integrasi-interkoneksi dalam pengembangan kurikulum di perguruan tinggi
keagamaan Islam menekankan pentingnya capaian pembelajaran yang jelas dan
terukur (Faisal et al., 2021). Bila capaian pembelajaran program studi mencakup
kemampuan meneliti, maka kemampuan membaca angka secara kritis harus menjadi
bagian dari capaian itu, bukan sekadar kemampuan menjalankan perangkat lunak
statistik.
Sebuah penelitian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang peningkatan
kompetensi dosen untuk mendorong inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran
memperlihatkan pentingnya pengembangan kapasitas dosen secara berkelanjutan
(Riza et al., 2024). Literasi statistik yang kritis adalah salah satu
kompetensi yang perlu dikembangkan, karena dosenlah yang membimbing mahasiswa
dalam merancang dan menafsirkan penelitian.
Beberapa langkah praktis dapat diusulkan. Pertama, setiap penelitian
kuantitatif diwajibkan melaporkan ukuran efek dan interval kepercayaan, bukan
hanya nilai p. Kedua, pembimbing dan penguji membiasakan diri bertanya
tentang keempat jenis validitas. Ketiga, penelitian replikasi dihargai sebagai
sumbangan yang sah bagi ilmu. Keempat, mahasiswa dilatih menggambar model
kausal sebelum mengumpulkan data, agar mereka menyadari asumsi-asumsi yang
mereka bawa.
Penutup: Angka yang Jujur
Angka memiliki daya pikat yang besar. Ia tampak objektif, pasti, dan ilmiah. Tetapi angka yang dibaca tanpa pemahaman dapat menyesatkan sama seperti kata-kata yang diucapkan tanpa pemahaman. “Signifikan” bukan sinonim dari “benar”, “penting”, atau “menyebabkan”.
Penelitian kuantitatif yang bermakna adalah penelitian yang jujur tentang apa yang dapat dan tidak dapat dikatakan oleh angkanya: seberapa besar pengaruh yang ditemukan, seberapa yakin kita akan temuan itu, apakah ia dapat diulang, dan sejauh mana ia mendukung klaim sebab-akibat. Kejujuran semacam ini bukan hanya tuntutan metodologis, tetapi juga tuntutan moral, karena dari angka-angka itulah guru, sekolah, dan pemerintah mengambil keputusan yang memengaruhi kehidupan banyak orang.
References
Cohen, J. (1994). The Earth Is Round (p < .05). American
Psychologist, 49(12), 997–1003. https://doi.org/10.1037/0003-066X.49.12.997
Faisal, M., Tabrani ZA, Siswanto, R., Hayati, H., & Darojat, J.
(2021). The Integration of KKNI, SNPT, and the Integration-Interconnection
Paradigm in Curriculum Development at PTKI. Jurnal Ilmiah Peuradeun,
9(2). https://doi.org/10.26811/peuradeun.v9i2.528
Hattie, J. (2009). Visible Learning: A Synthesis of Over 800
Meta-Analyses Relating to Achievement. London: Routledge.
Open Science Collaboration. (2015). Estimating the Reproducibility of
Psychological Science. Science, 349(6251), aac4716.
https://doi.org/10.1126/science.aac4716
Pearl, J., & Mackenzie, D. (2018). The Book of Why: The New
Science of Cause and Effect. New York: Basic Books.
Riza, S., Syarif, M., Mardatillah, F., Salam, A. J., Khafidah, W.,
& Yusuf, M. (2024). Improving Lecturer Competence to Encourage Innovation
and Creativity in Learning. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 12(1), 249–272.
https://doi.org/10.26811/peuradeun.v12i1.1078
Shadish, W. R., Cook, T. D., & Campbell, D. T. (2002). Experimental and Quasi-Experimental Designs for Generalized Causal Inference. Boston: Houghton Mifflin.
Tabrani ZA. (2015). Persuit Epistemology of Islamic Studies: Buku Dua Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.