EDUCATION ZONE
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
Read about the INSTAL Model →
← Back to home

Filsafat sebagai Cara Hidup: Dari Wacana tentang Kebijaksanaan ke Latihan Menjadi Bijaksana

June 06, 2026
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini melanjutkan “Mengapa Berfilsafat?” dengan menggeser pertanyaan dari mengapa kita perlu berfilsafat menuju filsafat macam apa yang sungguh mengubah orang yang mempelajarinya. Kegelisahan yang hendak diurai adalah paradoks yang sering dijumpai di ruang kuliah: mahasiswa dapat lulus mata kuliah filsafat dengan nilai baik, hafal nama-nama aliran dan tokoh, tetapi cara berpikir dan cara hidupnya tidak berubah sedikit pun. Dengan menimbang tesis Pierre Hadot bahwa filsafat kuno pada dasarnya adalah latihan spiritual dan cara hidup, uraian Martha Nussbaum tentang filsafat Helenistik sebagai terapi hasrat, kisah filosofis Ibn Tufayl tentang Hayy ibn Yaqzan, serta gerakan Philosophy for Children yang dirintis Matthew Lipman, esai ini membedakan dua wajah filsafat: filsafat sebagai wacana dan filsafat sebagai cara hidup. Merujuk kajian penulis tentang paradigma pendidikan kritis dalam perspektif pendidikan Islam dan tentang studi Islam dalam pendekatan multidisipliner, serta penelitian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan berpikir kritis, esai ini berargumen bahwa pendidikan filsafat di perguruan tinggi Islam perlu memulihkan wajah keduanya, sebagaimana tradisi Islam sendiri tidak pernah memisahkan hikmah dari riyadhah, kebijaksanaan dari latihan diri.

Keywords: Cara hidup; Latihan spiritual; Hikmah; Riyadhah; Berpikir kritis

KEY POINTS

  • Pendidikan filsafat sering berhenti pada wacana tentang filsafat, bukan latihan berfilsafat.
  • Hadot menunjukkan bahwa filsafat kuno pada dasarnya adalah cara hidup dan latihan spiritual.
  • Nussbaum membaca filsafat Helenistik sebagai terapi yang menyembuhkan hasrat dan keyakinan yang keliru.
  • Ibn Tufayl memperlihatkan pencarian filosofis sebagai perjalanan utuh dari pengamatan hingga penyaksian.
  • Lipman membuktikan bahwa berfilsafat dapat dilatih sejak dini melalui komunitas penyelidikan.
  • Tradisi Islam memadukan hikmah dan riyadhah, kebijaksanaan dan latihan diri.

— — — ARTICLE — — —

Paradoks di Ruang Kuliah

Dalam “Mengapa Berfilsafat?”, kita telah membela filsafat dari kecurigaan yang sering menyertainya. Kita menelusuri rasa takjub sebagai awal filsafat, sambutan Al-Kindi dan Ibn Rushd terhadap filsafat, jejak filsafat yang telah lama hidup di dayah melalui ilmu kalam dan mantiq, serta keterampilan berpikir yang dilatih oleh filsafat. Kita menyimpulkan bahwa filsafat adalah cara merawat pertanyaan di negeri yang gemar jawaban.

Tetapi ada sebuah paradoks yang perlu diakui dengan jujur. Banyak mahasiswa telah mengikuti mata kuliah filsafat. Mereka dapat menyebutkan perbedaan rasionalisme dan empirisme, menjelaskan imperatif kategoris Kant, dan menyusun makalah tentang eksistensialisme. Namun setelah ujian berakhir, cara mereka berpikir, berbicara, dan menjalani hidup sering tidak berubah. Mereka tetap mudah percaya kabar burung, tetap enggan mendengar pendapat yang berbeda, dan tetap gelisah oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting.

Persoalannya kemudian bukan kurangnya materi filsafat, tetapi cara filsafat dipelajari. Filsafat diajarkan sebagai kumpulan informasi tentang apa yang pernah dipikirkan para filsuf, bukan sebagai latihan untuk berpikir dan hidup secara filosofis. Di sinilah letak problem mendasarnya: kita mengajarkan sejarah filsafat, tetapi jarang mengajarkan berfilsafat; kita mengajarkan wacana tentang kebijaksanaan, tetapi jarang melatih menjadi bijaksana.

Filsafat sebagai Latihan Spiritual

Pierre Hadot, sejarawan filsafat kuno dari Prancis, mengajukan tesis yang mengubah cara banyak orang memahami filsafat Yunani dan Romawi. Dalam Philosophy as a Way of Life, ia berargumen bahwa bagi para filsuf kuno, filsafat bukan terutama sistem teori, melainkan cara hidup yang dijalani dan dilatih (Hadot, 1995). Menjadi seorang Stoa, Epikurean, atau Platonis bukan sekadar menganut sejumlah doktrin, tetapi memilih sebuah cara hidup dengan latihan-latihan yang menyertainya.

Hadot menyebut latihan-latihan ini sebagai latihan spiritual. Di antaranya adalah perhatian terhadap diri (prosoche), yaitu kewaspadaan terus-menerus terhadap pikiran dan tindakan sendiri; meditasi tentang kematian, untuk menyadari kefanaan dan memusatkan diri pada yang penting; pemeriksaan batin di akhir hari; dan latihan memandang dari atas, yaitu melihat persoalan pribadi dalam perspektif semesta yang luas sehingga kecemasan kecil kehilangan cengkeramannya.

Menurut Hadot, teks-teks filsafat kuno pun harus dibaca dalam kerangka ini. Dialog-dialog Plato bukan sekadar uraian doktrin, tetapi latihan berpikir bersama yang dimaksudkan untuk mengubah pembacanya. Meditations karya Marcus Aurelius bukan risalah teoretis, tetapi catatan latihan pribadi seorang kaisar yang berusaha hidup sesuai dengan prinsip Stoa. Filsafat, dalam pengertian ini, adalah transformasi diri. Seorang murid yang datang kepada Epiktetos, misalnya, tidak datang untuk mengumpulkan informasi, melainkan untuk belajar bagaimana menghadapi kehilangan, penghinaan, dan ketakutan dengan jiwa yang tenang. Ukuran keberhasilannya bukan kefasihan berbicara, tetapi keteguhan bersikap ketika ujian hidup benar-benar datang.

Hadot juga mencatat bagaimana pemahaman ini perlahan hilang. Ketika filsafat masuk ke dalam universitas abad pertengahan dan kemudian modern, ia semakin menjadi disiplin teoretis yang diajarkan oleh profesor kepada mahasiswa, terpisah dari latihan hidup. Yang tersisa adalah wacana tentang filsafat, sementara filsafat sebagai cara hidup bergeser ke wilayah lain, terutama ke kehidupan spiritual dan keagamaan.

Filsafat sebagai Terapi

Martha Nussbaum, filsuf Amerika, mengembangkan pembacaan serupa dengan penekanan yang berbeda. Dalam The Therapy of Desire, ia membaca aliran-aliran filsafat Helenistik, yaitu Epikureanisme, Stoisisme, dan Skeptisisme, sebagai bentuk terapi (Nussbaum, 1994). Para filsuf ini memandang dirinya seperti dokter bagi jiwa. Sebagaimana dokter menyembuhkan penyakit tubuh, filsuf menyembuhkan penyakit jiwa, terutama hasrat yang berlebihan, ketakutan yang tidak berdasar, dan keyakinan keliru yang menimbulkan penderitaan.

Yang menarik dari pembacaan Nussbaum adalah bahwa terapi filosofis ini bekerja melalui argumen. Para filsuf Helenistik tidak menenangkan jiwa dengan sugesti atau kepasrahan buta, tetapi dengan membantu orang memeriksa keyakinan-keyakinannya secara rasional. Bila seseorang cemas karena takut miskin, filsuf membantunya memeriksa apakah kekayaan sungguh syarat kebahagiaan. Bila seseorang marah karena dihina, filsuf membantunya memeriksa apakah penilaian orang lain sungguh dapat melukai dirinya yang terdalam.

Nussbaum juga kritis terhadap aliran-aliran ini. Ia mempertanyakan apakah cita-cita Stoa untuk bebas dari segala emosi tidak justru menghilangkan sesuatu yang berharga dari kehidupan manusia, seperti cinta dan duka. Tetapi gagasan pokoknya tetap bertahan: filsafat dapat menjadi jalan penyembuhan, bukan hanya jalan pengetahuan.

Gagasan ini terasa sangat relevan bagi mahasiswa hari ini. Banyak di antara mereka hidup dalam kecemasan yang terus-menerus: cemas tentang nilai, tentang masa depan, tentang penilaian orang lain di media sosial. Kecemasan semacam ini sering bersumber dari keyakinan-keyakinan yang tidak pernah diperiksa, misalnya bahwa harga diri ditentukan oleh jumlah pengikut, atau bahwa kegagalan dalam satu ujian berarti kegagalan hidup. Filsafat sebagai terapi tidak menggantikan bantuan profesional bila memang dibutuhkan, tetapi ia dapat membekali mahasiswa dengan kebiasaan memeriksa keyakinan-keyakinan semacam itu dengan jernih, sebelum keyakinan itu menguasai dirinya.

Hayy ibn Yaqzan: Perjalanan Utuh

Tradisi Islam memiliki karya yang sangat indah untuk memahami filsafat sebagai perjalanan hidup. Ibn Tufayl, filsuf dan dokter Andalusia abad kedua belas, menulis kisah Hayy ibn Yaqzan, tentang seorang anak yang tumbuh sendirian di sebuah pulau tanpa manusia lain (Ibn Tufayl, 2009). Dengan mengamati alam, merenungkan kematian rusa yang mengasuhnya, dan menyelidiki tubuh serta jiwa, Hayy perlahan menemukan pengetahuan tentang alam, tentang jiwa, dan akhirnya tentang Sang Pencipta.

Yang penting dari kisah ini bukan hanya kesimpulannya, bahwa akal dapat mencapai kebenaran yang sejalan dengan wahyu, tetapi juga jalannya. Perjalanan Hayy bukan perjalanan teoretis semata. Pada tahap-tahap terakhir, ia menyadari bahwa pengetahuan tentang Tuhan menuntut perubahan cara hidup: ia mulai menyederhanakan makan dan minumnya, menjaga alam di sekitarnya, dan melatih diri dalam perenungan hingga mencapai penyaksian. Bagi Ibn Tufayl, filsafat yang sejati berujung pada transformasi diri yang utuh, memadukan pengamatan, penalaran, latihan moral, dan pengalaman spiritual.

Kisah ini juga memuat pelajaran yang tajam. Ketika Hayy akhirnya bertemu masyarakat manusia dan mencoba mengajarkan kebenaran yang ia temukan, ia mendapati bahwa kebanyakan orang tidak siap menerimanya. Mereka lebih nyaman dengan kebiasaan dan bentuk luar agama. Ibn Tufayl tampaknya hendak mengatakan bahwa kebijaksanaan tidak dapat dipindahkan begitu saja melalui wacana; ia harus dicapai melalui latihan dan perjalanan masing-masing.

Hikmah dan Riyadhah

Gagasan Hadot dan Nussbaum sesungguhnya tidak asing bagi tradisi Islam. Kata hikmah dalam Al-Qur’an tidak menunjuk pada pengetahuan teoretis semata, tetapi pada kebijaksanaan yang menuntun tindakan. Para filsuf Muslim seperti Ibn Miskawaih menulis tentang penyempurnaan akhlak sebagai bagian inti filsafat. Dan para sufi mengembangkan tradisi riyadhah, latihan diri, yang sangat dekat dengan apa yang disebut Hadot sebagai latihan spiritual: muhasabah sebagai pemeriksaan batin, muraqabah sebagai kewaspadaan akan kehadiran Tuhan, dan dzikr al-maut sebagai perenungan tentang kematian.

Dalam tradisi Islam, ilmu dan amal tidak dipisahkan. Ilmu yang tidak diamalkan dipandang sebagai beban, bukan keutamaan. Prinsip ini, bila diterapkan pada filsafat, berarti bahwa mempelajari filsafat tanpa membiarkan diri diubah olehnya adalah bentuk kegagalan. Persoalannya kemudian adalah bahwa pendidikan filsafat di perguruan tinggi Islam sering mengadopsi model universitas modern yang memisahkan wacana dari latihan, sehingga kehilangan kekayaan tradisinya sendiri.

Berfilsafat Sejak Dini

Matthew Lipman, filsuf Amerika, menunjukkan bahwa berfilsafat sebagai praktik dapat dilatih sejak usia dini. Dalam Thinking in Education, ia menguraikan gagasan komunitas penyelidikan (community of inquiry), di mana anak-anak bersama-sama membaca cerita, merumuskan pertanyaan yang mereka anggap menarik, lalu menyelidikinya bersama melalui diskusi yang dipandu (Lipman, 2003). Dalam komunitas semacam ini, anak-anak belajar memberi alasan, mendengar alasan orang lain, mengenali asumsi, dan mengubah pendapat ketika menemukan argumen yang lebih baik.

Bagi Lipman, tujuan pendidikan filsafat bukan menghasilkan anak yang hafal teori, melainkan anak yang mampu berpikir dengan baik dalam tiga dimensi sekaligus: berpikir kritis, berpikir kreatif, dan berpikir peduli (caring thinking). Dimensi ketiga ini penting: berpikir yang baik tidak hanya logis dan inovatif, tetapi juga peka terhadap nilai dan terhadap orang lain.

Gagasan Lipman ini sangat dekat dengan tradisi halaqah dalam pendidikan Islam. Di dayah, santri duduk melingkar bersama teungku, membaca kitab, mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi tentang makna teks. Tradisi mudzakarah dan bahtsul masa’il adalah bentuk komunitas penyelidikan yang telah hidup berabad-abad. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk menghidupkan dimensi penyelidikannya, bukan hanya dimensi pewarisannya.

Perbedaan antara keduanya dapat dilihat dari jenis pertanyaan yang diajukan. Dalam halaqah yang hanya mewariskan, pertanyaan santri berkisar pada makna kata dan maksud pengarang. Dalam halaqah yang juga menyelidiki, santri diajak bertanya lebih jauh: mengapa pengarang berpendapat demikian, apakah alasannya kuat, bagaimana bila keadaannya berbeda, dan apa artinya bagi kehidupan kita hari ini. Pertanyaan-pertanyaan kedua ini tidak mengurangi penghormatan terhadap kitab dan gurunya; justru ia memperlihatkan keseriusan untuk memahami dan mengamalkannya secara cerdas.

Wacana dan Cara Hidup

Dari uraian ini, kita dapat membedakan dua wajah filsafat. Wajah pertama adalah filsafat sebagai wacana: kumpulan teori, argumen, dan sistem pemikiran yang dapat dipelajari, diuraikan, dan diujikan. Wajah ini penting, karena tanpa wacana, filsafat kehilangan ketajaman dan kedalamannya. Wajah kedua adalah filsafat sebagai cara hidup: latihan untuk memeriksa diri, mengendalikan hasrat, menimbang dengan adil, dan memandang persoalan dari perspektif yang lebih luas.

Kedua wajah ini tidak boleh dipisahkan. Filsafat sebagai wacana tanpa cara hidup menjadi permainan intelektual yang mandul. Filsafat sebagai cara hidup tanpa wacana menjadi kebiasaan yang tidak teruji, mudah jatuh ke dalam dogmatisme atau sentimentalitas. Hadot sendiri tidak menolak wacana; ia hanya mengingatkan bahwa wacana dalam filsafat kuno selalu melayani transformasi hidup.

Pendidikan Filsafat yang Mengubah

Dalam kajian kami tentang paradigma pendidikan kritis dalam perspektif pendidikan Islam, kami berargumen bahwa pendidikan harus membangkitkan kesadaran kritis yang berujung pada tindakan, bukan hanya pemahaman (Idris et al., 2018). Pendidikan filsafat adalah wilayah yang paling tepat untuk mewujudkan cita-cita ini, asalkan ia tidak berhenti pada wacana.

Sebuah penelitian di Jurnal Ilmiah Peuradeun memperlihatkan bahwa pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa (Vegas & Djukri, 2021). Temuan ini sejalan dengan gagasan bahwa kemampuan berpikir tidak tumbuh dari mendengar ceramah tentang berpikir, tetapi dari latihan menghadapi persoalan nyata. Pendidikan filsafat dapat belajar dari temuan ini: alih-alih memulai dari sejarah aliran, ia dapat memulai dari persoalan yang dihadapi mahasiswa, lalu menghadirkan para filsuf sebagai mitra dialog dalam menyelidiki persoalan itu.

Dalam kajian kami tentang studi Islam dalam pendekatan multidisipliner, kami menekankan bahwa pemahaman yang utuh membutuhkan perjumpaan berbagai sudut pandang (Tabrani ZA, 2014). Pendidikan filsafat yang mengubah juga membutuhkan perjumpaan: antara tradisi Yunani dan tradisi Islam, antara teori dan pengalaman, antara akal dan hati.

Beberapa langkah konkret dapat diusulkan. Pertama, setiap topik filsafat dapat disertai latihan reflektif, misalnya jurnal harian di mana mahasiswa memeriksa satu keyakinannya sendiri dengan alat yang baru dipelajari. Kedua, kelas filsafat dapat diselenggarakan sebagai komunitas penyelidikan, bukan sebagai ceramah. Ketiga, tradisi latihan diri dalam Islam, seperti muhasabah, dapat dihadirkan sebagai bagian dari pembelajaran filsafat, dengan tetap menjaga sikap kritis. Keempat, penilaian dapat memberi tempat bagi perubahan cara berpikir, bukan hanya penguasaan materi. Langkah-langkah ini tentu menuntut dosen yang juga menjalani filsafat sebagai cara hidup, sebab latihan semacam itu sulit diajarkan oleh orang yang tidak pernah menjalaninya.

Penutup: Menjadi Bijaksana

Filsafat, menurut asal katanya, adalah cinta kebijaksanaan. Cinta tidak cukup diwujudkan dengan mengetahui segala hal tentang yang dicintai; ia diwujudkan dengan mendekat, berubah, dan hidup bersamanya. Demikian pula filsafat: ia tidak cukup diwujudkan dengan menguasai wacana tentang kebijaksanaan, tetapi dengan latihan sabar untuk menjadi bijaksana.

Bagi perguruan tinggi Islam, ini bukan gagasan asing yang perlu diimpor, melainkan warisan yang perlu dipulihkan. Tradisi kita mengenal hikmah yang menuntun tindakan dan riyadhah yang melatih jiwa. Bila keduanya dipertemukan kembali dalam pendidikan filsafat, maka mahasiswa tidak hanya akan lulus dengan pengetahuan tentang para filsuf, tetapi juga dengan sedikit lebih banyak kebijaksanaan dalam menjalani hidupnya sendiri.

References

Hadot, P. (1995). Philosophy as a Way of Life: Spiritual Exercises from Socrates to Foucault (A. I. Davidson, Ed.; M. Chase, Trans.). Oxford: Blackwell.

Ibn Tufayl. (2009). Ibn Tufayl’s Hayy ibn Yaqzan: A Philosophical Tale (L. E. Goodman, Trans.). Chicago: University of Chicago Press.

Idris, S., Tabrani ZA, & Sulaiman, F. (2018). Critical Education Paradigm in the Perspective of Islamic Education. Advanced Science Letters, 24(11), 8226–8230.

Lipman, M. (2003). Thinking in Education (2nd ed.). Cambridge: Cambridge University Press.

Nussbaum, M. C. (1994). The Therapy of Desire: Theory and Practice in Hellenistic Ethics. Princeton: Princeton University Press.

Tabrani ZA. (2014). Islamic Studies dalam Pendekatan Multidisipliner (Suatu Kajian Gradual Menuju Paradigma Global). Jurnal Ilmiah Peuradeun, 2(2), 211–234. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v2i2.32

Vegas, S. O., & Djukri, D. (2021). The Effect of Problem-Based Learning on the Critical Thinking Skill of the Students. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 9(1), 221–240. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v9i1.411

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →

Archive