ABSTRACT
Esai ini melanjutkan “Mengapa Berfilsafat?” dengan menggeser pertanyaan dari mengapa kita perlu berfilsafat menuju filsafat macam apa yang sungguh mengubah orang yang mempelajarinya. Kegelisahan yang hendak diurai adalah paradoks yang sering dijumpai di ruang kuliah: mahasiswa dapat lulus mata kuliah filsafat dengan nilai baik, hafal nama-nama aliran dan tokoh, tetapi cara berpikir dan cara hidupnya tidak berubah sedikit pun. Dengan menimbang tesis Pierre Hadot bahwa filsafat kuno pada dasarnya adalah latihan spiritual dan cara hidup, uraian Martha Nussbaum tentang filsafat Helenistik sebagai terapi hasrat, kisah filosofis Ibn Tufayl tentang Hayy ibn Yaqzan, serta gerakan Philosophy for Children yang dirintis Matthew Lipman, esai ini membedakan dua wajah filsafat: filsafat sebagai wacana dan filsafat sebagai cara hidup. Merujuk kajian penulis tentang paradigma pendidikan kritis dalam perspektif pendidikan Islam dan tentang studi Islam dalam pendekatan multidisipliner, serta penelitian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang pengaruh pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan berpikir kritis, esai ini berargumen bahwa pendidikan filsafat di perguruan tinggi Islam perlu memulihkan wajah keduanya, sebagaimana tradisi Islam sendiri tidak pernah memisahkan hikmah dari riyadhah, kebijaksanaan dari latihan diri.
Keywords: Cara hidup; Latihan spiritual; Hikmah; Riyadhah; Berpikir kritis
KEY POINTS
- Pendidikan filsafat sering berhenti pada wacana tentang filsafat, bukan latihan berfilsafat.
- Hadot menunjukkan bahwa filsafat kuno pada dasarnya adalah cara hidup dan latihan spiritual.
- Nussbaum membaca filsafat Helenistik sebagai terapi yang menyembuhkan hasrat dan keyakinan yang keliru.
- Ibn Tufayl memperlihatkan pencarian filosofis sebagai perjalanan utuh dari pengamatan hingga penyaksian.
- Lipman membuktikan bahwa berfilsafat dapat dilatih sejak dini melalui komunitas penyelidikan.
- Tradisi Islam memadukan hikmah dan riyadhah, kebijaksanaan dan latihan diri.
— — — ARTICLE — — —
Paradoks
di Ruang Kuliah
Dalam “Mengapa Berfilsafat?”, kita
telah membela filsafat dari kecurigaan yang sering menyertainya. Kita
menelusuri rasa takjub sebagai awal filsafat, sambutan Al-Kindi dan Ibn Rushd
terhadap filsafat, jejak filsafat yang telah lama hidup di dayah melalui ilmu
kalam dan mantiq, serta keterampilan berpikir yang dilatih oleh filsafat. Kita
menyimpulkan bahwa filsafat adalah cara merawat pertanyaan di negeri yang gemar
jawaban.
Tetapi ada sebuah paradoks yang perlu diakui dengan jujur. Banyak
mahasiswa telah mengikuti mata kuliah filsafat. Mereka dapat menyebutkan
perbedaan rasionalisme dan empirisme, menjelaskan imperatif kategoris Kant, dan
menyusun makalah tentang eksistensialisme. Namun setelah ujian berakhir, cara
mereka berpikir, berbicara, dan menjalani hidup sering tidak berubah. Mereka
tetap mudah percaya kabar burung, tetap enggan mendengar pendapat yang berbeda,
dan tetap gelisah oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting.
Persoalannya kemudian bukan kurangnya materi filsafat, tetapi cara
filsafat dipelajari. Filsafat diajarkan sebagai kumpulan informasi tentang apa
yang pernah dipikirkan para filsuf, bukan sebagai latihan untuk berpikir dan
hidup secara filosofis. Di sinilah letak problem mendasarnya: kita mengajarkan
sejarah filsafat, tetapi jarang mengajarkan berfilsafat; kita mengajarkan
wacana tentang kebijaksanaan, tetapi jarang melatih menjadi bijaksana.
Filsafat sebagai Latihan Spiritual
Pierre Hadot, sejarawan
filsafat kuno dari Prancis, mengajukan tesis yang mengubah cara banyak orang
memahami filsafat Yunani dan Romawi. Dalam Philosophy as a Way of Life,
ia berargumen bahwa bagi para filsuf kuno, filsafat bukan terutama sistem
teori, melainkan cara hidup yang dijalani dan dilatih (Hadot, 1995). Menjadi
seorang Stoa, Epikurean, atau Platonis bukan sekadar menganut sejumlah doktrin,
tetapi memilih sebuah cara hidup dengan latihan-latihan yang menyertainya.
Hadot menyebut latihan-latihan ini sebagai latihan spiritual. Di
antaranya adalah perhatian terhadap diri (prosoche), yaitu kewaspadaan
terus-menerus terhadap pikiran dan tindakan sendiri; meditasi tentang kematian,
untuk menyadari kefanaan dan memusatkan diri pada yang penting; pemeriksaan
batin di akhir hari; dan latihan memandang dari atas, yaitu melihat persoalan
pribadi dalam perspektif semesta yang luas sehingga kecemasan kecil kehilangan
cengkeramannya.
Menurut Hadot, teks-teks filsafat kuno pun harus dibaca dalam kerangka
ini. Dialog-dialog Plato bukan sekadar uraian doktrin, tetapi latihan berpikir
bersama yang dimaksudkan untuk mengubah pembacanya. Meditations karya
Marcus Aurelius bukan risalah teoretis, tetapi catatan latihan pribadi seorang
kaisar yang berusaha hidup sesuai dengan prinsip Stoa. Filsafat, dalam
pengertian ini, adalah transformasi diri. Seorang murid yang datang kepada
Epiktetos, misalnya, tidak datang untuk mengumpulkan informasi, melainkan untuk
belajar bagaimana menghadapi kehilangan, penghinaan, dan ketakutan dengan jiwa
yang tenang. Ukuran keberhasilannya bukan kefasihan berbicara, tetapi keteguhan
bersikap ketika ujian hidup benar-benar datang.
Hadot juga mencatat bagaimana pemahaman ini perlahan hilang. Ketika
filsafat masuk ke dalam universitas abad pertengahan dan kemudian modern, ia
semakin menjadi disiplin teoretis yang diajarkan oleh profesor kepada
mahasiswa, terpisah dari latihan hidup. Yang tersisa adalah wacana tentang
filsafat, sementara filsafat sebagai cara hidup bergeser ke wilayah lain,
terutama ke kehidupan spiritual dan keagamaan.
Filsafat
sebagai Terapi
Martha Nussbaum, filsuf Amerika,
mengembangkan pembacaan serupa dengan penekanan yang berbeda. Dalam The
Therapy of Desire, ia membaca aliran-aliran filsafat Helenistik, yaitu
Epikureanisme, Stoisisme, dan Skeptisisme, sebagai bentuk terapi (Nussbaum,
1994). Para filsuf ini memandang dirinya seperti dokter bagi jiwa. Sebagaimana
dokter menyembuhkan penyakit tubuh, filsuf menyembuhkan penyakit jiwa, terutama
hasrat yang berlebihan, ketakutan yang tidak berdasar, dan keyakinan keliru
yang menimbulkan penderitaan.
Yang menarik dari pembacaan Nussbaum adalah bahwa terapi filosofis ini
bekerja melalui argumen. Para filsuf Helenistik tidak menenangkan jiwa dengan
sugesti atau kepasrahan buta, tetapi dengan membantu orang memeriksa
keyakinan-keyakinannya secara rasional. Bila seseorang cemas karena takut
miskin, filsuf membantunya memeriksa apakah kekayaan sungguh syarat
kebahagiaan. Bila seseorang marah karena dihina, filsuf membantunya memeriksa
apakah penilaian orang lain sungguh dapat melukai dirinya yang terdalam.
Nussbaum juga kritis terhadap aliran-aliran ini. Ia mempertanyakan
apakah cita-cita Stoa untuk bebas dari segala emosi tidak justru menghilangkan
sesuatu yang berharga dari kehidupan manusia, seperti cinta dan duka. Tetapi
gagasan pokoknya tetap bertahan: filsafat dapat menjadi jalan penyembuhan,
bukan hanya jalan pengetahuan.
Gagasan ini terasa sangat relevan bagi mahasiswa hari ini. Banyak di
antara mereka hidup dalam kecemasan yang terus-menerus: cemas tentang nilai,
tentang masa depan, tentang penilaian orang lain di media sosial. Kecemasan
semacam ini sering bersumber dari keyakinan-keyakinan yang tidak pernah
diperiksa, misalnya bahwa harga diri ditentukan oleh jumlah pengikut, atau
bahwa kegagalan dalam satu ujian berarti kegagalan hidup. Filsafat sebagai
terapi tidak menggantikan bantuan profesional bila memang dibutuhkan, tetapi ia
dapat membekali mahasiswa dengan kebiasaan memeriksa keyakinan-keyakinan
semacam itu dengan jernih, sebelum keyakinan itu menguasai dirinya.
Hayy ibn Yaqzan: Perjalanan Utuh
Tradisi Islam memiliki karya
yang sangat indah untuk memahami filsafat sebagai perjalanan hidup. Ibn Tufayl,
filsuf dan dokter Andalusia abad kedua belas, menulis kisah Hayy ibn Yaqzan,
tentang seorang anak yang tumbuh sendirian di sebuah pulau tanpa manusia lain
(Ibn Tufayl, 2009). Dengan mengamati alam, merenungkan kematian rusa yang
mengasuhnya, dan menyelidiki tubuh serta jiwa, Hayy perlahan menemukan
pengetahuan tentang alam, tentang jiwa, dan akhirnya tentang Sang Pencipta.
Yang penting dari kisah ini bukan hanya kesimpulannya, bahwa akal dapat
mencapai kebenaran yang sejalan dengan wahyu, tetapi juga jalannya. Perjalanan
Hayy bukan perjalanan teoretis semata. Pada tahap-tahap terakhir, ia menyadari
bahwa pengetahuan tentang Tuhan menuntut perubahan cara hidup: ia mulai
menyederhanakan makan dan minumnya, menjaga alam di sekitarnya, dan melatih
diri dalam perenungan hingga mencapai penyaksian. Bagi Ibn Tufayl, filsafat
yang sejati berujung pada transformasi diri yang utuh, memadukan pengamatan,
penalaran, latihan moral, dan pengalaman spiritual.
Kisah ini juga memuat pelajaran yang tajam. Ketika Hayy akhirnya
bertemu masyarakat manusia dan mencoba mengajarkan kebenaran yang ia temukan,
ia mendapati bahwa kebanyakan orang tidak siap menerimanya. Mereka lebih nyaman
dengan kebiasaan dan bentuk luar agama. Ibn Tufayl tampaknya hendak mengatakan
bahwa kebijaksanaan tidak dapat dipindahkan begitu saja melalui wacana; ia
harus dicapai melalui latihan dan perjalanan masing-masing.
Hikmah
dan Riyadhah
Gagasan Hadot dan Nussbaum sesungguhnya
tidak asing bagi tradisi Islam. Kata hikmah dalam Al-Qur’an tidak
menunjuk pada pengetahuan teoretis semata, tetapi pada kebijaksanaan yang
menuntun tindakan. Para filsuf Muslim seperti Ibn Miskawaih menulis tentang
penyempurnaan akhlak sebagai bagian inti filsafat. Dan para sufi mengembangkan
tradisi riyadhah, latihan diri, yang sangat dekat dengan apa yang
disebut Hadot sebagai latihan spiritual: muhasabah sebagai pemeriksaan
batin, muraqabah sebagai kewaspadaan akan kehadiran Tuhan, dan dzikr
al-maut sebagai perenungan tentang kematian.
Dalam tradisi Islam, ilmu dan amal tidak dipisahkan. Ilmu yang tidak
diamalkan dipandang sebagai beban, bukan keutamaan. Prinsip ini, bila
diterapkan pada filsafat, berarti bahwa mempelajari filsafat tanpa membiarkan
diri diubah olehnya adalah bentuk kegagalan. Persoalannya kemudian adalah bahwa
pendidikan filsafat di perguruan tinggi Islam sering mengadopsi model
universitas modern yang memisahkan wacana dari latihan, sehingga kehilangan
kekayaan tradisinya sendiri.
Berfilsafat
Sejak Dini
Matthew Lipman, filsuf Amerika,
menunjukkan bahwa berfilsafat sebagai praktik dapat dilatih sejak usia dini.
Dalam Thinking in Education, ia menguraikan gagasan komunitas
penyelidikan (community of inquiry), di mana anak-anak bersama-sama
membaca cerita, merumuskan pertanyaan yang mereka anggap menarik, lalu
menyelidikinya bersama melalui diskusi yang dipandu (Lipman, 2003). Dalam
komunitas semacam ini, anak-anak belajar memberi alasan, mendengar alasan orang
lain, mengenali asumsi, dan mengubah pendapat ketika menemukan argumen yang
lebih baik.
Bagi Lipman, tujuan pendidikan filsafat bukan menghasilkan anak yang
hafal teori, melainkan anak yang mampu berpikir dengan baik dalam tiga dimensi
sekaligus: berpikir kritis, berpikir kreatif, dan berpikir peduli (caring
thinking). Dimensi ketiga ini penting: berpikir yang baik tidak hanya logis
dan inovatif, tetapi juga peka terhadap nilai dan terhadap orang lain.
Gagasan Lipman ini sangat dekat dengan tradisi halaqah dalam pendidikan
Islam. Di dayah, santri duduk melingkar bersama teungku, membaca kitab,
mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi tentang makna teks. Tradisi mudzakarah
dan bahtsul masa’il adalah bentuk komunitas penyelidikan yang telah
hidup berabad-abad. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk menghidupkan dimensi
penyelidikannya, bukan hanya dimensi pewarisannya.
Perbedaan antara keduanya dapat dilihat dari jenis pertanyaan yang
diajukan. Dalam halaqah yang hanya mewariskan, pertanyaan santri berkisar pada
makna kata dan maksud pengarang. Dalam halaqah yang juga menyelidiki, santri
diajak bertanya lebih jauh: mengapa pengarang berpendapat demikian, apakah
alasannya kuat, bagaimana bila keadaannya berbeda, dan apa artinya bagi
kehidupan kita hari ini. Pertanyaan-pertanyaan kedua ini tidak mengurangi
penghormatan terhadap kitab dan gurunya; justru ia memperlihatkan keseriusan
untuk memahami dan mengamalkannya secara cerdas.
Wacana
dan Cara Hidup
Dari uraian ini, kita dapat membedakan dua
wajah filsafat. Wajah pertama adalah filsafat sebagai wacana: kumpulan teori,
argumen, dan sistem pemikiran yang dapat dipelajari, diuraikan, dan diujikan.
Wajah ini penting, karena tanpa wacana, filsafat kehilangan ketajaman dan
kedalamannya. Wajah kedua adalah filsafat sebagai cara hidup: latihan untuk
memeriksa diri, mengendalikan hasrat, menimbang dengan adil, dan memandang
persoalan dari perspektif yang lebih luas.
Kedua wajah ini tidak boleh dipisahkan. Filsafat sebagai wacana tanpa
cara hidup menjadi permainan intelektual yang mandul. Filsafat sebagai cara
hidup tanpa wacana menjadi kebiasaan yang tidak teruji, mudah jatuh ke dalam
dogmatisme atau sentimentalitas. Hadot sendiri tidak menolak wacana; ia hanya
mengingatkan bahwa wacana dalam filsafat kuno selalu melayani transformasi
hidup.
Pendidikan Filsafat yang Mengubah
Dalam kajian kami tentang
paradigma pendidikan kritis dalam perspektif pendidikan Islam, kami berargumen
bahwa pendidikan harus membangkitkan kesadaran kritis yang berujung pada
tindakan, bukan hanya pemahaman (Idris et al., 2018). Pendidikan filsafat adalah
wilayah yang paling tepat untuk mewujudkan cita-cita ini, asalkan ia tidak
berhenti pada wacana.
Sebuah penelitian di Jurnal Ilmiah Peuradeun memperlihatkan bahwa
pembelajaran berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis
mahasiswa (Vegas & Djukri, 2021). Temuan ini sejalan dengan gagasan bahwa
kemampuan berpikir tidak tumbuh dari mendengar ceramah tentang berpikir, tetapi
dari latihan menghadapi persoalan nyata. Pendidikan filsafat dapat belajar dari
temuan ini: alih-alih memulai dari sejarah aliran, ia dapat memulai dari
persoalan yang dihadapi mahasiswa, lalu menghadirkan para filsuf sebagai mitra
dialog dalam menyelidiki persoalan itu.
Dalam kajian kami tentang studi Islam dalam pendekatan multidisipliner,
kami menekankan bahwa pemahaman yang utuh membutuhkan perjumpaan berbagai sudut
pandang (Tabrani ZA, 2014). Pendidikan filsafat yang mengubah juga membutuhkan
perjumpaan: antara tradisi Yunani dan tradisi Islam, antara teori dan
pengalaman, antara akal dan hati.
Beberapa langkah konkret dapat diusulkan. Pertama, setiap topik
filsafat dapat disertai latihan reflektif, misalnya jurnal harian di mana
mahasiswa memeriksa satu keyakinannya sendiri dengan alat yang baru dipelajari.
Kedua, kelas filsafat dapat diselenggarakan sebagai komunitas penyelidikan,
bukan sebagai ceramah. Ketiga, tradisi latihan diri dalam Islam, seperti muhasabah,
dapat dihadirkan sebagai bagian dari pembelajaran filsafat, dengan tetap
menjaga sikap kritis. Keempat, penilaian dapat memberi tempat bagi perubahan
cara berpikir, bukan hanya penguasaan materi. Langkah-langkah ini tentu
menuntut dosen yang juga menjalani filsafat sebagai cara hidup, sebab latihan
semacam itu sulit diajarkan oleh orang yang tidak pernah menjalaninya.
Penutup: Menjadi Bijaksana
Filsafat, menurut asal katanya, adalah cinta kebijaksanaan. Cinta tidak cukup diwujudkan dengan mengetahui segala hal tentang yang dicintai; ia diwujudkan dengan mendekat, berubah, dan hidup bersamanya. Demikian pula filsafat: ia tidak cukup diwujudkan dengan menguasai wacana tentang kebijaksanaan, tetapi dengan latihan sabar untuk menjadi bijaksana.
Bagi perguruan tinggi Islam, ini bukan gagasan asing yang perlu diimpor, melainkan warisan yang perlu dipulihkan. Tradisi kita mengenal hikmah yang menuntun tindakan dan riyadhah yang melatih jiwa. Bila keduanya dipertemukan kembali dalam pendidikan filsafat, maka mahasiswa tidak hanya akan lulus dengan pengetahuan tentang para filsuf, tetapi juga dengan sedikit lebih banyak kebijaksanaan dalam menjalani hidupnya sendiri.
References
Hadot, P. (1995). Philosophy as a Way of Life: Spiritual Exercises
from Socrates to Foucault (A. I. Davidson, Ed.; M. Chase, Trans.). Oxford:
Blackwell.
Ibn Tufayl. (2009). Ibn Tufayl’s Hayy ibn Yaqzan: A Philosophical
Tale (L. E. Goodman, Trans.). Chicago: University of Chicago Press.
Idris, S., Tabrani ZA, & Sulaiman, F. (2018). Critical Education
Paradigm in the Perspective of Islamic Education. Advanced Science Letters,
24(11), 8226–8230.
Lipman, M. (2003). Thinking in Education (2nd ed.). Cambridge:
Cambridge University Press.
Nussbaum, M. C. (1994). The Therapy of Desire: Theory and Practice
in Hellenistic Ethics. Princeton: Princeton University Press.
Tabrani ZA. (2014). Islamic Studies dalam Pendekatan Multidisipliner (Suatu Kajian Gradual Menuju Paradigma Global). Jurnal Ilmiah Peuradeun, 2(2), 211–234. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v2i2.32
Vegas, S. O., & Djukri, D. (2021). The Effect of Problem-Based Learning on the Critical Thinking Skill of the Students. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 9(1), 221–240. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v9i1.411