Education Zone
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
Read about the INSTAL Model →
← Back to home

Dari Produktivitas ke Kebermaknaan: Etika Riset dan Ekologi Pengetahuan di Perguruan Tinggi Islam

September 06, 2026
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini melanjutkan “Terbit atau Binasa?” dengan menggeser pertanyaan dari berapa banyak yang kita terbitkan menuju untuk apa dan dengan cara apa kita meneliti. Bila esai sebelumnya menyoroti tekanan publikasi, kegelisahan esai ini lebih mendasar: apa yang terjadi pada pengetahuan itu sendiri ketika riset diukur terutama dengan produktivitas? Dengan menimbang tipologi riset dari Donald Stokes dalam Pasteur’s Quadrant, peringatan John Ioannidis tentang mengapa banyak temuan riset keliru, model evolusioner Paul Smaldino dan Richard McElreath tentang “seleksi alamiah ilmu yang buruk”, serta gerakan slow scholarship dari Maggie Berg dan Barbara Seeber, esai ini mengajukan konsep ekologi pengetahuan: sebuah cara memandang riset sebagai bagian dari ekosistem yang dapat sehat atau tercemar. Merujuk kajian penulis tentang metodologi pengembalian investasi pendidikan, tentang jiwa dalam proses belajar, dan tentang paradigma pendidikan kritis di era 4.0, serta penelitian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang pseudo-maslahah sebagai kegagalan epistemologis, esai ini berargumen bahwa perguruan tinggi Islam perlu bergerak dari etos produktivitas menuju etos kebermaknaan, di mana nilai sebuah riset diukur dari kejujurannya, kedalamannya, dan kemaslahatan yang sungguh-sungguh dihasilkannya.

Keywords: Pendidikan tinggi; Etika riset; Ekologi pengetahuan; Produktivitas akademik; Kebermaknaan

KEY POINTS

  • Persoalan riset bukan hanya soal tekanan publikasi, tetapi soal kesehatan ekosistem pengetahuan secara keseluruhan.
  • Stokes menunjukkan bahwa riset terbaik sering memadukan pencarian pemahaman mendasar dengan pertimbangan kegunaan.
  • Ioannidis serta Smaldino dan McElreath memperlihatkan bagaimana insentif yang keliru dapat menyeleksi praktik ilmu yang buruk.
  • Gerakan slow scholarship mengingatkan bahwa pemikiran yang dalam membutuhkan waktu.
  • Ukuran produktivitas yang tidak diimbangi kebermaknaan dapat melahirkan “pseudo-maslahah” dalam riset.
  • Perguruan tinggi Islam perlu merumuskan etos kebermaknaan: jujur, dalam, dan sungguh bermaslahat.

— — — ARTICLE — — —

Dari Jumlah ke Makna

Dalam “Terbit atau Binasa?”, kita telah membicarakan budaya publish or perish dan dampaknya: jurnal predator, penulisan yang tergesa, serta indikator yang berubah menjadi tujuan. Kita menimbang Deklarasi San Francisco dan Manifesto Leiden sebagai upaya memperbaiki cara menilai riset, lalu menawarkan etika ilmu dari tradisi Islam sebagai penyeimbang.

Tetapi diskusi itu masih berada di permukaan, pada tingkat perilaku peneliti dan kebijakan penilaian. Persoalannya kemudian adalah bahwa tekanan produktivitas tidak hanya mengubah perilaku individu; ia juga mengubah wajah pengetahuan yang dihasilkan oleh sebuah komunitas. Bila ribuan peneliti didorong untuk menghasilkan sebanyak mungkin artikel dalam waktu sesingkat mungkin, maka yang berubah bukan hanya jumlah artikel, tetapi juga jenis pertanyaan yang diajukan, jenis metode yang dipilih, dan jenis temuan yang dianggap layak.

Di sinilah letak problem mendasarnya. Kita perlu memandang riset bukan hanya sebagai kumpulan karya individual, tetapi sebagai sebuah ekosistem. Seperti ekosistem alam, ekosistem pengetahuan dapat sehat atau tercemar. Ia sehat bila keragamannya terjaga, bila kesalahan dapat dikoreksi, dan bila setiap bagian memberi sumbangan yang bermakna bagi keseluruhan. Ia tercemar bila praktik-praktik yang buruk dibiarkan berkembang biak, bila temuan yang rapuh menumpuk tanpa diuji, dan bila kebisingan menenggelamkan pengetahuan yang sungguh berharga. Esai ini menyebut cara pandang ini sebagai ekologi pengetahuan.

Kuadran Pasteur

Donald Stokes, dalam Pasteur’s Quadrant, menggugat pemisahan kaku antara riset dasar dan riset terapan (Stokes, 1997). Selama puluhan tahun, kebijakan riset di banyak negara berangkat dari model linear: riset dasar menghasilkan pemahaman, lalu riset terapan mengubahnya menjadi teknologi. Stokes mengusulkan sebuah tipologi dua dimensi. Dimensi pertama bertanya: apakah riset ini mencari pemahaman mendasar? Dimensi kedua bertanya: apakah riset ini mempertimbangkan kegunaan?

Dari dua dimensi itu, lahir empat kuadran. Kuadran Bohr adalah riset yang mencari pemahaman murni tanpa memikirkan kegunaan. Kuadran Edison adalah riset yang mengejar kegunaan tanpa memikirkan pemahaman mendasar. Kuadran Pasteur adalah riset yang mencari pemahaman mendasar sekaligus diilhami oleh persoalan nyata, sebagaimana Louis Pasteur meneliti mikroba karena ingin memahami penyakit dan kerusakan anggur. Kuadran keempat, yang tidak diberi nama oleh Stokes, adalah riset yang tidak mencari pemahaman mendasar dan tidak pula memikirkan kegunaan.

Tipologi ini sangat menerangi persoalan kita. Tekanan produktivitas sering mendorong riset bergeser ke kuadran keempat yang tidak bernama itu: riset yang dilakukan bukan untuk memahami dan bukan untuk menolong, melainkan untuk memenuhi angka kredit. Riset semacam ini menambah jumlah publikasi, tetapi tidak menambah pemahaman dan tidak menyelesaikan persoalan. Sebaliknya, tradisi keilmuan Islam, bila dibaca dengan baik, memiliki kecenderungan alami ke kuadran Pasteur. Para ulama klasik meneliti falak karena perlu menentukan waktu shalat dan arah kiblat, tetapi mereka sekaligus mengembangkan matematika dan astronomi yang sangat mendasar. Ilmu dan amal, pemahaman dan kemaslahatan, tidak dipisahkan.

Mengapa Banyak Temuan Keliru

Pada tahun 2005, John Ioannidis menerbitkan sebuah artikel dengan judul yang mengejutkan: mengapa sebagian besar temuan riset yang diterbitkan keliru (Ioannidis, 2005). Dengan argumen statistik, ia menunjukkan bahwa kemungkinan sebuah temuan benar menurun ketika ukuran sampel kecil, efek yang diteliti lemah, desain dan analisis terlalu longgar, kepentingan finansial atau prestise tinggi, dan bidang riset sangat kompetitif sehingga banyak tim mengejar temuan yang sama.

Artikel ini memicu apa yang kemudian dikenal sebagai krisis replikasi, ketika banyak temuan penting dalam psikologi, kedokteran, dan ilmu sosial ternyata tidak dapat diulang. Yang menarik bagi kita adalah bahwa faktor-faktor yang disebut Ioannidis bukan hanya persoalan teknis. Mereka adalah persoalan budaya. Sampel kecil dan analisis longgar sering lahir dari ketergesaan. Ketergesaan lahir dari tekanan untuk segera menerbitkan. Dan tekanan itu lahir dari sistem penilaian yang menghargai jumlah lebih daripada ketelitian.

Seleksi Alamiah Ilmu yang Buruk

Paul Smaldino dan Richard McElreath membawa argumen ini lebih jauh dengan sebuah model evolusioner (Smaldino & McElreath, 2016). Mereka membayangkan laboratorium-laboratorium sebagai organisme yang bersaing. Laboratorium yang menghasilkan lebih banyak publikasi mendapat lebih banyak dana, lebih banyak mahasiswa, dan lebih banyak pengaruh, sehingga praktik-praktiknya lebih banyak ditiru. Bila sistem menghargai jumlah publikasi, maka laboratorium yang menggunakan metode longgar, yang lebih cepat menghasilkan temuan “positif”, akan unggul dalam persaingan. Akibatnya, dari generasi ke generasi, praktik ilmu yang buruk justru berkembang, bahkan tanpa ada satu pun peneliti yang berniat curang.

Temuan ini sangat penting karena menggeser persoalan dari moralitas individu ke struktur. Kita sering berpikir bahwa riset buruk lahir dari peneliti yang tidak jujur. Smaldino dan McElreath menunjukkan bahwa riset buruk dapat lahir dari peneliti yang jujur tetapi hidup dalam sistem yang keliru. Inilah mengapa pendekatan ekologis diperlukan: kita tidak cukup menasihati individu, tetapi perlu memperbaiki lingkungan tempat mereka bekerja.

Pseudo-Maslahah dalam Riset

Sebuah penelitian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang dispensasi kawin di pengadilan agama memperkenalkan istilah yang sangat berguna, yaitu pseudo-maslahah, kemaslahatan semu yang lahir dari kegagalan epistemologis (Azni et al., 2025). Para hakim mengira sedang menegakkan kemaslahatan, padahal penalaran yang dipakai tidak cukup kokoh untuk menjamin kemaslahatan yang sesungguhnya.

Konsep ini dapat dipinjam untuk membaca dunia riset. Banyak riset di perguruan tinggi kita diklaim bermanfaat: memberi rekomendasi, menawarkan model, mengusulkan kebijakan. Tetapi bila riset itu dilakukan dengan sampel yang tidak memadai, analisis yang tergesa, dan pertanyaan yang tidak sungguh berangkat dari persoalan nyata, maka manfaat yang diklaim hanyalah manfaat semu. Rekomendasinya tidak dapat diandalkan, modelnya tidak teruji, dan kebijakannya bisa menyesatkan. Inilah pseudo-maslahah dalam riset: kemaslahatan yang hanya ada di bagian saran, tetapi tidak didukung oleh bangunan epistemologis yang kokoh.

Pseudo-maslahah semacam ini lebih berbahaya daripada riset yang terang-terangan tidak berguna. Riset yang tidak berguna hanya membuang waktu. Riset yang mengklaim manfaat tanpa dasar yang kokoh dapat menyesatkan pengambil kebijakan, guru, dan masyarakat yang mempercayainya. Ambil contoh sebuah skripsi atau tesis yang menyimpulkan bahwa sebuah metode pembelajaran “efektif meningkatkan” hasil belajar, padahal hanya diuji pada satu kelas kecil tanpa kelompok pembanding yang memadai. Kesimpulan semacam itu lalu dikutip oleh penelitian berikutnya, dijadikan dasar pelatihan guru, dan diulang dalam berbagai seminar. Dalam waktu singkat, sebuah klaim yang rapuh berubah menjadi “pengetahuan umum” yang tidak pernah sungguh diuji. Inilah cara pencemaran bekerja dalam ekologi pengetahuan: bukan melalui satu kesalahan besar, melainkan melalui penumpukan kesalahan kecil yang saling menguatkan.

Menghitung Investasi, Menimbang Makna

Dalam kajian kami tentang metodologi menghitung pengembalian investasi pendidikan, kami membahas bagaimana manfaat pendidikan dapat diukur secara ekonomis (Patimah & Tabrani ZA, 2018). Kajian semacam ini penting, karena pendidikan memang membutuhkan sumber daya yang besar dan pengelolanya perlu mempertanggungjawabkan penggunaannya. Tetapi justru dari pengalaman menyusun kajian itu, kita menyadari batas-batas ukuran ekonomis. Ada manfaat pendidikan yang dapat dihitung, dan ada manfaat yang tidak dapat dihitung tanpa direduksi: kematangan berpikir, kepekaan moral, kemampuan memaknai hidup.

Hal yang sama berlaku bagi riset. Produktivitas riset dapat dihitung: jumlah artikel, jumlah sitasi, indeks-h. Ukuran ini memiliki kegunaan. Tetapi kebermaknaan riset, yakni apakah ia memperdalam pemahaman, menolong orang, atau memperbaiki keadaan, tidak selalu tertangkap oleh angka. Persoalannya kemudian bukan memilih antara menghitung dan tidak menghitung, melainkan menyadari apa yang hilang ketika kita hanya menghitung.

Ilmuwan yang Lambat

Maggie Berg dan Barbara Seeber, dalam The Slow Professor, menawarkan perlawanan yang tenang terhadap budaya kecepatan di universitas (Berg & Seeber, 2016). Terinspirasi oleh gerakan slow food, mereka berargumen bahwa pemikiran yang dalam membutuhkan waktu, keheningan, dan ruang untuk merenung. Budaya korporat di universitas, dengan tenggat yang terus-menerus dan tuntutan untuk selalu sibuk, justru menghancurkan kondisi yang dibutuhkan bagi kerja intelektual yang bermutu.

Gagasan ini tentu dapat dikritik sebagai kemewahan bagi akademisi yang sudah mapan. Dosen muda yang masih berjuang untuk kenaikan pangkat mungkin tidak memiliki kemewahan untuk melambat. Kritik ini sah. Tetapi pesan intinya tetap berharga: kecepatan bukan ukuran mutu, dan sistem yang memaksa semua orang untuk selalu cepat akan kehilangan jenis pengetahuan yang hanya dapat lahir dari kesabaran.

Tradisi Islam sangat akrab dengan gagasan ini. Al-Ghazali menghabiskan bertahun-tahun dalam uzlah sebelum menulis karyanya yang terbesar. Para muhaddits menempuh perjalanan berbulan-bulan untuk memastikan satu sanad. Para ulama menulis syarah atas sebuah kitab sepanjang hidup mereka. Kesabaran (shabr) dan ketelitian (itqan) bukan hambatan bagi ilmu; ia adalah syaratnya.

Jiwa dalam Riset

Dalam kajian filosofis kami tentang jiwa dan pengaruhnya dalam belajar, kami berargumen bahwa belajar bukan sekadar proses kognitif, melainkan melibatkan jiwa manusia secara utuh (Tabrani ZA & Masbur, 2016). Argumen ini dapat diperluas ke riset. Riset yang bermakna tidak hanya melibatkan kecakapan teknis, tetapi juga keterlibatan jiwa: rasa ingin tahu yang tulus, kepedulian terhadap persoalan, dan kejujuran terhadap data, termasuk data yang tidak sesuai dengan harapan.

Bila riset dilakukan tanpa keterlibatan jiwa, semata untuk memenuhi angka, maka peneliti terasing dari karyanya sendiri. Ia menulis tentang hal yang tidak ia pedulikan, menggunakan metode yang tidak ia pahami sepenuhnya, dan menghasilkan temuan yang tidak ia yakini. Keterasingan semacam ini bukan hanya persoalan psikologis, tetapi juga persoalan epistemologis, karena peneliti yang terasing dari karyanya tidak akan peka terhadap kejanggalan dalam datanya sendiri.

Merawat Ekologi Pengetahuan

Lalu, apa yang dapat dilakukan perguruan tinggi Islam? Saya ingin mengusulkan beberapa langkah yang bertumpu pada gagasan ekologi pengetahuan.

Pertama, menilai riset dari kualitas, bukan hanya kuantitas. Pimpinan dapat meminta dosen mengajukan beberapa karya terbaiknya untuk dinilai secara mendalam, alih-alih menghitung seluruh karyanya secara mekanis.

Kedua, menghargai replikasi dan riset yang memeriksa ulang. Dalam ekosistem yang sehat, temuan diuji berulang kali. Riset replikasi dan kajian kritis atas temuan sebelumnya perlu dihargai, bukan dianggap kurang orisinal.

Ketiga, mendorong riset di kuadran Pasteur, yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat tetapi menggali hingga ke pemahaman mendasar. Persoalan pendidikan di dayah, ketegangan antara adat dan syariat, atau ekologi pesisir Aceh dapat menjadi titik berangkat riset yang sekaligus bermaslahat dan mendalam.

Keempat, memberi ruang bagi kerja yang lambat. Tidak semua riset harus selesai dalam satu tahun anggaran. Skema hibah jangka panjang, cuti riset, dan penghargaan bagi karya monumental perlu dikembangkan.

Kelima, membangun budaya keterbukaan, termasuk keterbukaan data dan metode, agar kesalahan dapat ditemukan dan diperbaiki oleh komunitas.

Dalam kajian kami tentang paradigma pendidikan kritis di era pendidikan 4.0, kami menekankan pentingnya kesadaran kritis terhadap struktur yang membentuk praktik pendidikan (Idris et al., 2020). Kesadaran kritis yang sama perlu diarahkan ke dalam, ke struktur yang membentuk praktik riset kita sendiri. Dosen yang kritis terhadap ketidakadilan di masyarakat tetapi tidak kritis terhadap sistem insentif di kampusnya sendiri sedang kehilangan separuh dari kesadarannya.

Langkah-langkah ini tidak mudah, sebab sebagian berbenturan dengan sistem penilaian nasional yang masih sangat kuantitatif. Tetapi perubahan ekologis selalu dimulai dari wilayah-wilayah kecil yang dirawat dengan baik. Sebuah fakultas, sebuah pusat studi, atau bahkan sebuah kelompok riset dapat menjadi contoh bagaimana ekosistem pengetahuan yang sehat dapat tumbuh.

Penutup: Dari Produktivitas ke Kebermaknaan

Produktivitas adalah ukuran yang berguna bagi mesin. Bagi ilmu, ukuran yang lebih tepat adalah kebermaknaan. Riset yang bermakna adalah riset yang jujur dalam metodenya, mendalam dalam pemahamannya, dan sungguh bermaslahat dalam dampaknya. Ia mungkin lahir lebih lambat, mungkin lebih sedikit jumlahnya, tetapi ia menambah sesuatu yang nyata bagi khazanah pengetahuan dan bagi kehidupan masyarakat.

Perguruan tinggi Islam memiliki modal yang besar untuk bergerak ke arah ini: tradisi ilmu yang memadukan pemahaman dan kemaslahatan, etika ilmu yang menuntut kejujuran dan ketelitian, serta pandangan bahwa ilmu adalah amanah. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menjadikan modal itu sebagai dasar kebijakan riset, bukan hanya sebagai hiasan dalam pidato. Sebab pada akhirnya, yang akan ditanyakan tentang ilmu kita bukan berapa banyak yang kita tulis, tetapi apa yang kita amalkan dan maslahat apa yang kita tinggalkan.

References

Azni, A., Hafis, M., Zakariah, A. A., Harmanto, A., Miftahuddin, M., & Ihsan, M. (2025). Pseudo-Maṣlaḥah and Epistemological Failure in Marriage Dispensation at Indonesian Religious Courts. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 13(2), 1399–1420. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v13i2.2047

Berg, M., & Seeber, B. K. (2016). The Slow Professor: Challenging the Culture of Speed in the Academy. Toronto: University of Toronto Press.

Idris, S., Tabrani ZA, Sulaiman, F., & Amsori. (2020). Assessment of Critical Education Concepts in the Perspective of Islamic Education. Dalam A. Kusmawan et al. (Eds.), Emerging Perspectives and Trends in Innovative Technology for Quality Education 4.0 (pp. 66–70). London: Routledge.

Ioannidis, J. P. A. (2005). Why Most Published Research Findings Are False. PLoS Medicine, 2(8), e124. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.0020124

Patimah, S., & Tabrani ZA. (2018). Counting Methodology on Educational Return Investment. Advanced Science Letters, 24(10), 7087–7089. https://doi.org/10.1166/asl.2018.12414

Smaldino, P. E., & McElreath, R. (2016). The Natural Selection of Bad Science. Royal Society Open Science, 3(9), 160384. https://doi.org/10.1098/rsos.160384

Stokes, D. E. (1997). Pasteur’s Quadrant: Basic Science and Technological Innovation. Washington, DC: Brookings Institution Press.

Tabrani ZA, & Masbur, M. (2016). Islamic Perspectives on the Existence of Soul and Its Influence in Human Learning (A Philosophical Analysis of the Classical and Modern Learning Theories). Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, 1(2), 99–112. https://doi.org/10.22373/je.v1i2.600

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →