EDUCATION ZONE
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, Managing Editor of Jurnal Ilmiah Peuradeun, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
← Back to home

Yang Diajarkan Tanpa Diucapkan: Kurikulum Tersembunyi di Sekolah, Madrasah, dan Kampus Kita

February 22, 2025
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Tulisan ini mengajak pembaca melihat sisi kurikulum yang jarang dibicarakan dalam rapat penyusunan silabus: kurikulum tersembunyi, yakni nilai, sikap, dan kebiasaan yang dipelajari murid bukan dari buku pelajaran, melainkan dari suasana, aturan, dan relasi sehari-hari di lembaga pendidikan. Penulis menelusuri gagasan ini dari Philip Jackson yang mengamati kehidupan di ruang kelas, Michael Apple yang membongkar ideologi di balik kurikulum, hingga Elliot Eisner yang membedakan kurikulum eksplisit, implisit, dan nol. Gagasan-gagasan itu kemudian dibaca dalam konteks sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia: dari cara guru menegur murid, jadwal yang padat, papan peringkat juara, hingga budaya menyontek yang dibiarkan. Esai ini juga menimbang sisi positif kurikulum tersembunyi dalam tradisi pesantren dan dayah, di mana adab dihirup lewat kehidupan bersama. Merujuk penelitian penulis di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang internalisasi nilai Pancasila melalui kehidupan kampus di UIN Ar-Raniry, serta kajian tentang pembentukan karakter melalui budaya sekolah, esai ini berargumen bahwa pendidikan karakter yang paling efektif justru berlangsung melalui kurikulum tersembunyi. Karena itu, lembaga pendidikan Islam perlu menyadari, merancang, dan mengevaluasi apa yang diajarkannya tanpa diucapkan.

Keywords: Kurikulum tersembunyi; Kurikulum nol; Pendidikan karakter; Budaya sekolah; Pesantren.

KEY POINTS

  • Murid tidak hanya belajar dari apa yang tertulis di silabus, tetapi juga dari suasana, aturan, dan relasi di lembaga pendidikan.
  • Kurikulum tersembunyi dapat menanamkan nilai yang bertentangan dengan kurikulum resmi, misalnya kejujuran diajarkan tetapi kecurangan dibiarkan.
  • Eisner mengingatkan adanya kurikulum nol: apa yang tidak diajarkan juga mengajarkan sesuatu.
  • Tradisi pesantren dan dayah memperlihatkan sisi positif kurikulum tersembunyi: adab dihirup lewat kehidupan bersama.
  • Pendidikan karakter paling efektif berlangsung melalui budaya lembaga, bukan melalui ceramah tentang karakter.
  • Lembaga pendidikan Islam perlu mengaudit kurikulum tersembunyinya dengan jujur, sebagaimana ia menyusun kurikulum resminya.

— — — ARTICLE — — —

Pelajaran yang Tidak Ada di Rapor

Seorang murid kelas lima sekolah dasar pulang ke rumah. Ayahnya bertanya apa yang ia pelajari hari ini. Ia menjawab: matematika tentang pecahan, IPA tentang daur air, dan pendidikan agama tentang kejujuran. Itu adalah jawaban yang benar, karena itulah yang tertulis dalam jadwal dan buku pelajaran.

Tetapi ada banyak pelajaran lain yang ia terima hari itu, yang tidak pernah ia sebutkan karena ia sendiri tidak menyadarinya. Ia belajar bahwa teman yang duduk di depan dan sering menjawab pertanyaan guru lebih disayangi daripada teman yang duduk di belakang. Ia belajar bahwa ketika guru bertanya “ada yang belum paham?”, sebaiknya diam saja agar tidak dianggap bodoh. Ia belajar bahwa saat ulangan, beberapa teman saling melirik jawaban, dan guru yang sedang sibuk dengan ponselnya tidak peduli. Ia juga belajar bahwa petugas kebersihan sekolah jarang disapa, sementara tamu dari dinas disambut dengan karpet dan nasi kotak.

Pelajaran-pelajaran ini tidak tercantum di rapor. Tidak ada guru yang dengan sengaja mengajarkannya. Tetapi justru pelajaran-pelajaran inilah yang sering paling lama melekat. Bertahun-tahun kemudian, murid itu mungkin sudah lupa rumus pecahan, tetapi ia masih ingat bahwa bertanya di kelas itu memalukan, dan bahwa kecurangan kecil adalah hal biasa.

Para ahli pendidikan menyebut pelajaran semacam ini sebagai kurikulum tersembunyi. Esai ini hendak menelusuri apa itu kurikulum tersembunyi, mengapa ia begitu berpengaruh, dan bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat menyadarinya.

Dari Jackson hingga Eisner

Istilah kurikulum tersembunyi dipopulerkan oleh Jackson (1968), peneliti pendidikan di Amerika Serikat, dalam bukunya Life in Classrooms. Jackson menghabiskan waktu lama mengamati kehidupan sehari-hari di ruang kelas sekolah dasar. Ia menemukan bahwa sebagian besar waktu murid tidak dihabiskan untuk belajar materi pelajaran, tetapi untuk menunggu: menunggu giliran, menunggu izin, menunggu guru selesai dengan murid lain. Dari situasi semacam itu, murid belajar kesabaran, kepatuhan, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan otoritas. Pelajaran-pelajaran ini, menurut Jackson, adalah kurikulum yang sesungguhnya bekerja di balik kurikulum resmi.

Apple (1979) kemudian membawa gagasan ini ke arah yang lebih kritis. Dalam Ideology and Curriculum, ia berargumen bahwa sekolah tidak netral. Apa yang dianggap sebagai pengetahuan yang sah, siapa yang ditampilkan dalam buku pelajaran, dan bagaimana murid diperlakukan, semuanya mencerminkan kepentingan kelompok tertentu dalam masyarakat. Kurikulum tersembunyi, dalam pandangan Apple, sering berfungsi melestarikan ketimpangan sosial: anak-anak dari kelas tertentu diajari untuk memimpin, sementara anak-anak dari kelas lain diajari untuk patuh. Anyon (1980), dalam penelitian lapangan yang terbit di Journal of Education, membuktikannya secara konkret: di sekolah anak buruh, “belajar” berarti mengikuti prosedur; di sekolah anak kelas profesional, “belajar” berarti mengungkapkan gagasan sendiri. Materinya serupa, tetapi pelajaran tersembunyinya tentang kuasa sangat berbeda. Giroux dan Penna (1979) menambahkan bahwa kurikulum tersembunyi tidak cukup dikritik; ia perlu diubah melalui ruang kelas yang lebih demokratis dan dialogis.

Eisner (1979), dalam The Educational Imagination, menambahkan satu konsep yang sangat tajam. Ia membedakan tiga jenis kurikulum: kurikulum eksplisit, yaitu yang tertulis dan diajarkan secara sengaja; kurikulum implisit, yaitu yang diajarkan melalui suasana dan kebiasaan; dan kurikulum nol, yaitu apa yang tidak diajarkan sama sekali. Menurut Eisner, apa yang tidak diajarkan juga mengajarkan sesuatu. Jika sekolah tidak pernah membicarakan seni, murid belajar bahwa seni tidak penting. Jika sekolah tidak pernah membahas persoalan kemiskinan di sekitarnya, murid belajar bahwa persoalan itu bukan urusan mereka.

Wajah Kurikulum Tersembunyi di Sekitar Kita

Konsep-konsep itu mungkin terdengar abstrak, tetapi wajahnya sangat dekat dengan pengalaman kita sehari-hari. Mari kita lihat beberapa contohnya.

Pertama, cara guru menegur. Seorang guru yang menegur murid dengan mempermalukannya di depan kelas sedang mengajarkan, tanpa sadar, bahwa kekuasaan boleh dipakai untuk merendahkan orang lain. Seorang guru yang menegur dengan memanggil murid secara pribadi, mendengarkan alasannya, lalu memberi nasihat, sedang mengajarkan bahwa martabat setiap orang harus dijaga. Pelajaran ini jauh lebih membekas daripada ceramah tentang akhlak.

Kedua, papan peringkat. Banyak sekolah memajang daftar juara kelas atau peringkat nilai ujian. Tujuannya baik: memotivasi murid. Tetapi pesan tersembunyi yang diterima murid bisa berbeda. Mereka belajar bahwa nilai seseorang ditentukan oleh angka, bahwa teman adalah pesaing, dan bahwa yang tidak masuk daftar adalah pecundang. Di lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh takwa, pesan tersembunyi ini justru bertentangan dengan ajaran resminya.

Ketiga, kecurangan yang dibiarkan. Ketika guru atau pengawas ujian membiarkan murid menyontek, atau ketika sekolah memoles nilai demi akreditasi, murid belajar bahwa kejujuran hanyalah slogan. Mereka mungkin hafal ayat dan hadis tentang kejujuran, tetapi yang mereka pelajari dari kenyataan adalah bahwa kejujuran tidak berlaku saat taruhannya besar.

Keempat, cara lembaga memperlakukan orang-orang kecil. Murid memperhatikan bagaimana kepala sekolah berbicara kepada petugas kebersihan, bagaimana guru tetap diperlakukan berbeda dengan guru honorer, dan bagaimana tamu penting disambut. Dari pengamatan itu, mereka belajar tentang hierarki dan penghargaan terhadap manusia.

Kelima, di perguruan tinggi, kurikulum tersembunyi tampak dalam budaya akademik. Jika dosen sering terlambat atau membatalkan perkuliahan tanpa kabar, mahasiswa belajar bahwa waktu orang lain tidak berharga. Jika dosen memberi nilai tanpa membaca tugas, mahasiswa belajar bahwa kerja keras tidak dihargai. Jika plagiarisme ditoleransi, mahasiswa belajar bahwa integritas ilmiah dapat ditawar.

Keenam, di zaman digital, kurikulum tersembunyi juga bekerja di layar: murid memperhatikan apakah guru mereka menyebarkan kabar tanpa memeriksa kebenarannya dan apakah mereka berdebat dengan santun. Etika digital murid tidak hanya dibentuk oleh pelajaran tentang literasi digital, tetapi juga oleh teladan digital orang-orang dewasa di sekitarnya.

Belajar dengan Melihat

Sesungguhnya, tradisi Islam sejak awal sangat menyadari kekuatan belajar melalui pengamatan. Ketika Rasulullah mengajarkan salat kepada para sahabat, beliau tidak terutama memberikan uraian teoritis. Beliau bersabda agar mereka salat sebagaimana mereka melihat beliau salat. Para sahabat belajar dengan melihat, meniru, dan dikoreksi. Ketika ’Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, ia menjawab bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Ajaran tidak hanya disampaikan dalam kata-kata, tetapi diwujudkan dalam seluruh kehidupan sang guru.

Dalam bahasa teori kurikulum modern, para sahabat belajar terutama melalui apa yang kita sebut kurikulum implisit: kehidupan sehari-hari Rasulullah yang mereka saksikan di rumah, di masjid, di pasar, dan di medan perjuangan. Bedanya, kurikulum itu tidak tersembunyi dalam arti tidak disadari. Rasulullah sepenuhnya sadar bahwa seluruh hidupnya adalah pelajaran, dan karena itu beliau menjaga setiap tindakannya. Inilah teladan terbaik bagi setiap pendidik: menyadari bahwa ia selalu sedang mengajar, bahkan ketika tidak sedang berdiri di depan kelas.

Kurikulum Tersembunyi yang Menumbuhkan

Namun, kurikulum tersembunyi tidak selalu negatif. Ia juga dapat menjadi sarana pendidikan yang sangat kuat bila dirawat dengan sadar. Tradisi pesantren dan dayah adalah contoh terbaiknya.

Di pesantren dan dayah, banyak pelajaran paling penting justru tidak diajarkan di majelis kitab. Santri belajar kesederhanaan dari hidup di bilik yang sempit dan makan seadanya. Mereka belajar kemandirian dari mencuci pakaian sendiri dan mengatur waktu sendiri. Mereka belajar solidaritas dari berbagi makanan kiriman orang tua dengan teman sekamar. Mereka belajar hormat kepada guru dari melihat bagaimana para senior bersikap di hadapan kiai atau teungku. Mereka belajar disiplin ibadah dari bangun sebelum subuh bersama-sama. Semua itu tidak tertulis dalam silabus, tetapi dihirup setiap hari. Dhofier (1982) menyebut kehidupan dua puluh empat jam di bawah bimbingan kiai inilah yang membuat pesantren berbeda dari sekolah: ia bukan sekadar tempat belajar, melainkan tempat hidup yang mendidik.

Inilah yang dalam esai sebelumnya saya sebut sebagai adab yang dihirup, bukan diceramahkan. Kehidupan bersama selama dua puluh empat jam menjadikan seluruh lingkungan pesantren sebagai ruang belajar. Kiai tidak perlu banyak berceramah tentang keikhlasan; cukup santri melihat bagaimana kiainya mengajar tanpa pamrih dan melayani masyarakat tanpa membedakan.

Kajian kami tentang konsep pendidikan humanis dalam konteks pendidikan Islam memberi alat ukurnya: lingkungan yang mendidik adalah lingkungan yang memuliakan manusia, bukan sekadar mengaturnya (Idris & Tabrani ZA, 2017). Sementara itu, paradigma pendidikan kritis yang kami kaji mengingatkan agar pendidik selalu bertanya kepentingan siapa yang dilayani oleh kebiasaan sebuah lembaga (Idris et al., 2018).

Tentu, sebagaimana telah saya ingatkan dalam esai tentang adab, kehidupan bersama di lembaga berasrama juga dapat menyimpan kurikulum tersembunyi yang merusak: senioritas yang menindas, kekerasan yang dianggap biasa, atau kepatuhan yang membungkam. Karena itu, kekuatan kurikulum tersembunyi di pesantren harus dirawat dengan kesadaran dan pengawasan, bukan dianggap otomatis baik.

Pendidikan Karakter Melalui Budaya Lembaga

Pemahaman tentang kurikulum tersembunyi membawa konsekuensi penting bagi pendidikan karakter. Selama ini, upaya pendidikan karakter sering diwujudkan dalam bentuk mata pelajaran tambahan, slogan di dinding, atau program-program sesaat. Semua itu ada gunanya, tetapi tidak cukup. Karakter tidak terutama dibentuk oleh apa yang dikatakan, melainkan oleh apa yang dialami secara berulang.

Dalam penelitian kami tentang internalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai inti pembangunan karakter di UIN Ar-Raniry, yang dimuat di Jurnal Ilmiah Peuradeun (Tabrani ZA et al., 2024), kami menemukan bahwa internalisasi nilai berlangsung melalui integrasi dengan tridarma perguruan tinggi. Nilai-nilai religius, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas tidak hanya diajarkan dalam mata kuliah, tetapi juga dikuatkan melalui kegiatan moderasi beragama, kehidupan di Ma’had al-Jami’ah, dan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Kegiatan-kegiatan itu bahkan diakui secara formal melalui Surat Keterangan Pendamping Ijazah. Dengan kata lain, kampus berusaha menjadikan kurikulum tersembunyinya sebagai bagian yang disadari dan dirancang.

Temuan serupa muncul dari kajian tentang pembentukan karakter melalui budaya sekolah di SMA Taruna Nusantara Magelang (Kurniawati & Sunarso, 2019). Karakter peserta didik ternyata lebih banyak dibentuk oleh budaya sekolah dan kehidupan berasrama sehari-hari daripada oleh pelajaran khusus tentang karakter. Budaya sekolah dan keteladanan para pendidik, dua hal yang sering luput dari dokumen kurikulum, justru menjadi kunci.

Mengaudit yang Tak Tertulis

Lalu, apa yang dapat dilakukan lembaga pendidikan Islam? Langkah pertama adalah menyadari. Selama kurikulum tersembunyi tidak disadari, ia akan bekerja tanpa kendali, dan sering kali bertentangan dengan tujuan resmi lembaga.

Langkah kedua adalah mengaudit dengan jujur. Sebagaimana lembaga menyusun dan mengevaluasi kurikulum resmi, ia juga perlu bertanya tentang kurikulum tersembunyinya. Apa yang dipelajari murid dari cara kami memberi hukuman? Apa yang dipelajari dari cara kami merayakan prestasi? Apa yang dipelajari dari cara kami memperlakukan guru honorer dan petugas kebersihan? Apa yang dipelajari dari cara kami menangani kecurangan? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab melalui pengamatan, wawancara dengan murid, dan refleksi bersama para guru.

Langkah ketiga adalah merancang. Setelah menyadari kurikulum tersembunyinya, lembaga dapat dengan sengaja menata lingkungan agar mendukung nilai-nilai yang hendak ditanamkan. Jika ingin menanamkan kejujuran, lembaga dapat membuka kantin kejujuran, menegakkan aturan ujian dengan konsisten, dan memberi teladan kejujuran dalam laporan keuangan dan akreditasi. Jika ingin menanamkan penghargaan terhadap sesama, lembaga dapat membiasakan murid menyapa semua warga sekolah tanpa memandang jabatan.

Langkah keempat adalah memperhatikan kurikulum nol. Lembaga perlu bertanya: apa yang selama ini tidak pernah kami ajarkan, dan apa pesan yang tersirat dari ketiadaan itu? Apakah kami tidak pernah membicarakan lingkungan hidup di sekitar kami, sehingga murid belajar bahwa kerusakan alam bukan urusan agama? Apakah kami tidak pernah membahas penderitaan kaum miskin di kampung kami, sehingga murid belajar bahwa iman hanya urusan pribadi?

Penutup: Lembaga sebagai Teladan

Al-Qur’an mengingatkan dengan tajam orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan menyebut hal itu sebagai kebencian yang besar di sisi Allah. Peringatan ini berlaku bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi lembaga. Lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan kejujuran tetapi memoles angka, mengajarkan kasih sayang tetapi membiarkan perundungan, mengajarkan kesetaraan tetapi memperlakukan orang kecil dengan rendah, sedang mengajarkan kemunafikan melalui kurikulum tersembunyinya.

Sebaliknya, lembaga yang konsisten antara kata dan perbuatan akan menjadi teladan yang hidup. Murid-muridnya mungkin lupa banyak isi pelajaran, tetapi mereka akan membawa pelajaran yang paling berharga: bahwa nilai-nilai yang diajarkan memang dijalani. Mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa agama bukan sekadar pengetahuan yang dihafal untuk ujian, melainkan cara hidup yang nyata dan dapat dipercaya.

Kembali ke murid kelas lima di awal esai ini. Suatu hari nanti, ia mungkin akan menjadi guru, pejabat, atau orang tua. Apa yang akan ia wariskan kepada generasi berikutnya sangat ditentukan oleh apa yang ia pelajari hari ini, termasuk pelajaran yang tidak pernah tertulis di rapornya. Karena itu, setiap lembaga pendidikan perlu bertanya dengan jujur: apa yang sedang kita ajarkan, ketika kita tidak sedang mengajar?

Referensi

Anyon, J. (1980). Social Class and the Hidden Curriculum of Work. Journal of Education, 162(1), 67–92. https://doi.org/10.1177/002205748016200106

Apple, M. W. (1979). Ideology and Curriculum. London: Routledge & Kegan Paul.

Dhofier, Z. (1982). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.

Eisner, E. W. (1979). The Educational Imagination: On the Design and Evaluation of School Programs. New York: Macmillan.

Giroux, H. A., & Penna, A. N. (1979). Social Education in the Classroom: The Dynamics of the Hidden Curriculum. Theory & Research in Social Education, 7(1), 21–42. https://doi.org/10.1080/00933104.1979.10506048

Idris, S., & Tabrani ZA. (2017). Realitas Konsep Pendidikan Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, 3(1), 96–113. https://doi.org/10.22373/je.v3i1.1420

Idris, S., Tabrani ZA, & Sulaiman, F. (2018). Critical Education Paradigm in the Perspective of Islamic Education. Advanced Science Letters, 24(11), 8226–8230.

Jackson, P. W. (1968). Life in Classrooms. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Kurniawati, E., & Sunarso, S. (2019). Forming Students’ Character through School Culture in Senior High School Taruna Nusantara Magelang. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 7(1), 141–162. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v7i1.298

Tabrani ZA, Walidin, W., Idris, S., & Huda, M. (2024). Pancasila as the Core Value for Character Building in Islamic Higher Education Institutions. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 12(2), 565–592. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v12i2.1212

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →