ABSTRACT
Tulisan ini mengajak pembaca melihat sisi kurikulum yang jarang dibicarakan dalam rapat penyusunan silabus: kurikulum tersembunyi, yakni nilai, sikap, dan kebiasaan yang dipelajari murid bukan dari buku pelajaran, melainkan dari suasana, aturan, dan relasi sehari-hari di lembaga pendidikan. Penulis menelusuri gagasan ini dari Philip Jackson yang mengamati kehidupan di ruang kelas, Michael Apple yang membongkar ideologi di balik kurikulum, hingga Elliot Eisner yang membedakan kurikulum eksplisit, implisit, dan nol. Gagasan-gagasan itu kemudian dibaca dalam konteks sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia: dari cara guru menegur murid, jadwal yang padat, papan peringkat juara, hingga budaya menyontek yang dibiarkan. Esai ini juga menimbang sisi positif kurikulum tersembunyi dalam tradisi pesantren dan dayah, di mana adab dihirup lewat kehidupan bersama. Merujuk penelitian penulis di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang internalisasi nilai Pancasila melalui kehidupan kampus di UIN Ar-Raniry, serta kajian tentang pembentukan karakter melalui budaya sekolah, esai ini berargumen bahwa pendidikan karakter yang paling efektif justru berlangsung melalui kurikulum tersembunyi. Karena itu, lembaga pendidikan Islam perlu menyadari, merancang, dan mengevaluasi apa yang diajarkannya tanpa diucapkan.
Keywords: Kurikulum tersembunyi; Kurikulum nol; Pendidikan karakter; Budaya sekolah; Pesantren.
KEY POINTS
- Murid tidak hanya belajar dari apa yang tertulis di silabus, tetapi juga dari suasana, aturan, dan relasi di lembaga pendidikan.
- Kurikulum tersembunyi dapat menanamkan nilai yang bertentangan dengan kurikulum resmi, misalnya kejujuran diajarkan tetapi kecurangan dibiarkan.
- Eisner mengingatkan adanya kurikulum nol: apa yang tidak diajarkan juga mengajarkan sesuatu.
- Tradisi pesantren dan dayah memperlihatkan sisi positif kurikulum tersembunyi: adab dihirup lewat kehidupan bersama.
- Pendidikan karakter paling efektif berlangsung melalui budaya lembaga, bukan melalui ceramah tentang karakter.
- Lembaga pendidikan Islam perlu mengaudit kurikulum tersembunyinya dengan jujur, sebagaimana ia menyusun kurikulum resminya.
— — — ARTICLE — — —
Pelajaran yang Tidak Ada di Rapor
Seorang murid kelas lima
sekolah dasar pulang ke rumah. Ayahnya bertanya apa yang ia pelajari hari ini.
Ia menjawab: matematika tentang pecahan, IPA tentang daur air, dan pendidikan
agama tentang kejujuran. Itu adalah jawaban yang benar, karena itulah yang
tertulis dalam jadwal dan buku pelajaran.
Tetapi ada banyak pelajaran lain yang ia terima hari itu, yang tidak
pernah ia sebutkan karena ia sendiri tidak menyadarinya. Ia belajar bahwa teman
yang duduk di depan dan sering menjawab pertanyaan guru lebih disayangi
daripada teman yang duduk di belakang. Ia belajar bahwa ketika guru bertanya
“ada yang belum paham?”, sebaiknya diam saja agar tidak dianggap bodoh. Ia
belajar bahwa saat ulangan, beberapa teman saling melirik jawaban, dan guru
yang sedang sibuk dengan ponselnya tidak peduli. Ia juga belajar bahwa petugas
kebersihan sekolah jarang disapa, sementara tamu dari dinas disambut dengan
karpet dan nasi kotak.
Pelajaran-pelajaran ini tidak tercantum di rapor. Tidak ada guru yang
dengan sengaja mengajarkannya. Tetapi justru pelajaran-pelajaran inilah yang
sering paling lama melekat. Bertahun-tahun kemudian, murid itu mungkin sudah
lupa rumus pecahan, tetapi ia masih ingat bahwa bertanya di kelas itu
memalukan, dan bahwa kecurangan kecil adalah hal biasa.
Para ahli pendidikan menyebut pelajaran semacam ini sebagai kurikulum
tersembunyi. Esai ini hendak menelusuri apa itu kurikulum tersembunyi, mengapa
ia begitu berpengaruh, dan bagaimana lembaga pendidikan Islam dapat
menyadarinya.
Dari Jackson hingga Eisner
Istilah kurikulum tersembunyi
dipopulerkan oleh Jackson (1968), peneliti pendidikan di Amerika Serikat, dalam
bukunya Life in Classrooms. Jackson menghabiskan waktu lama mengamati
kehidupan sehari-hari di ruang kelas sekolah dasar. Ia menemukan bahwa sebagian
besar waktu murid tidak dihabiskan untuk belajar materi pelajaran, tetapi untuk
menunggu: menunggu giliran, menunggu izin, menunggu guru selesai dengan murid
lain. Dari situasi semacam itu, murid belajar kesabaran, kepatuhan, dan
kemampuan menyesuaikan diri dengan otoritas. Pelajaran-pelajaran ini, menurut
Jackson, adalah kurikulum yang sesungguhnya bekerja di balik kurikulum resmi.
Apple (1979) kemudian membawa gagasan ini ke arah yang lebih kritis.
Dalam Ideology and Curriculum, ia berargumen bahwa sekolah tidak netral.
Apa yang dianggap sebagai pengetahuan yang sah, siapa yang ditampilkan dalam
buku pelajaran, dan bagaimana murid diperlakukan, semuanya mencerminkan
kepentingan kelompok tertentu dalam masyarakat. Kurikulum tersembunyi, dalam
pandangan Apple, sering berfungsi melestarikan ketimpangan sosial: anak-anak
dari kelas tertentu diajari untuk memimpin, sementara anak-anak dari kelas lain
diajari untuk patuh. Anyon (1980), dalam penelitian lapangan yang terbit di Journal
of Education, membuktikannya secara konkret: di sekolah anak buruh,
“belajar” berarti mengikuti prosedur; di sekolah anak kelas profesional,
“belajar” berarti mengungkapkan gagasan sendiri. Materinya serupa, tetapi
pelajaran tersembunyinya tentang kuasa sangat berbeda. Giroux dan Penna (1979)
menambahkan bahwa kurikulum tersembunyi tidak cukup dikritik; ia perlu diubah
melalui ruang kelas yang lebih demokratis dan dialogis.
Eisner (1979), dalam The Educational Imagination, menambahkan
satu konsep yang sangat tajam. Ia membedakan tiga jenis kurikulum: kurikulum
eksplisit, yaitu yang tertulis dan diajarkan secara sengaja; kurikulum
implisit, yaitu yang diajarkan melalui suasana dan kebiasaan; dan kurikulum
nol, yaitu apa yang tidak diajarkan sama sekali. Menurut Eisner, apa yang tidak
diajarkan juga mengajarkan sesuatu. Jika sekolah tidak pernah membicarakan
seni, murid belajar bahwa seni tidak penting. Jika sekolah tidak pernah
membahas persoalan kemiskinan di sekitarnya, murid belajar bahwa persoalan itu
bukan urusan mereka.
Wajah Kurikulum
Tersembunyi di Sekitar Kita
Konsep-konsep itu
mungkin terdengar abstrak, tetapi wajahnya sangat dekat dengan pengalaman kita
sehari-hari. Mari kita lihat beberapa contohnya.
Pertama, cara guru menegur. Seorang guru yang menegur murid dengan
mempermalukannya di depan kelas sedang mengajarkan, tanpa sadar, bahwa
kekuasaan boleh dipakai untuk merendahkan orang lain. Seorang guru yang menegur
dengan memanggil murid secara pribadi, mendengarkan alasannya, lalu memberi
nasihat, sedang mengajarkan bahwa martabat setiap orang harus dijaga. Pelajaran
ini jauh lebih membekas daripada ceramah tentang akhlak.
Kedua, papan peringkat. Banyak sekolah memajang daftar juara kelas atau
peringkat nilai ujian. Tujuannya baik: memotivasi murid. Tetapi pesan
tersembunyi yang diterima murid bisa berbeda. Mereka belajar bahwa nilai
seseorang ditentukan oleh angka, bahwa teman adalah pesaing, dan bahwa yang
tidak masuk daftar adalah pecundang. Di lembaga pendidikan Islam yang
mengajarkan bahwa kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh takwa, pesan
tersembunyi ini justru bertentangan dengan ajaran resminya.
Ketiga, kecurangan yang dibiarkan. Ketika guru atau pengawas ujian
membiarkan murid menyontek, atau ketika sekolah memoles nilai demi akreditasi,
murid belajar bahwa kejujuran hanyalah slogan. Mereka mungkin hafal ayat dan
hadis tentang kejujuran, tetapi yang mereka pelajari dari kenyataan adalah
bahwa kejujuran tidak berlaku saat taruhannya besar.
Keempat, cara lembaga memperlakukan orang-orang kecil. Murid
memperhatikan bagaimana kepala sekolah berbicara kepada petugas kebersihan,
bagaimana guru tetap diperlakukan berbeda dengan guru honorer, dan bagaimana
tamu penting disambut. Dari pengamatan itu, mereka belajar tentang hierarki dan
penghargaan terhadap manusia.
Kelima, di perguruan tinggi, kurikulum tersembunyi tampak dalam budaya
akademik. Jika dosen sering terlambat atau membatalkan perkuliahan tanpa kabar,
mahasiswa belajar bahwa waktu orang lain tidak berharga. Jika dosen memberi
nilai tanpa membaca tugas, mahasiswa belajar bahwa kerja keras tidak dihargai.
Jika plagiarisme ditoleransi, mahasiswa belajar bahwa integritas ilmiah dapat
ditawar.
Keenam, di zaman digital, kurikulum tersembunyi juga bekerja di layar:
murid memperhatikan apakah guru mereka menyebarkan kabar tanpa memeriksa
kebenarannya dan apakah mereka berdebat dengan santun. Etika digital murid
tidak hanya dibentuk oleh pelajaran tentang literasi digital, tetapi juga oleh
teladan digital orang-orang dewasa di sekitarnya.
Belajar
dengan Melihat
Sesungguhnya, tradisi Islam sejak awal
sangat menyadari kekuatan belajar melalui pengamatan. Ketika Rasulullah
mengajarkan salat kepada para sahabat, beliau tidak terutama memberikan uraian
teoritis. Beliau bersabda agar mereka salat sebagaimana mereka melihat beliau
salat. Para sahabat belajar dengan melihat, meniru, dan dikoreksi. Ketika
’Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, ia menjawab bahwa akhlak beliau
adalah Al-Qur’an. Ajaran tidak hanya disampaikan dalam kata-kata, tetapi
diwujudkan dalam seluruh kehidupan sang guru.
Dalam bahasa teori kurikulum modern, para sahabat belajar terutama
melalui apa yang kita sebut kurikulum implisit: kehidupan sehari-hari
Rasulullah yang mereka saksikan di rumah, di masjid, di pasar, dan di medan
perjuangan. Bedanya, kurikulum itu tidak tersembunyi dalam arti tidak disadari.
Rasulullah sepenuhnya sadar bahwa seluruh hidupnya adalah pelajaran, dan karena
itu beliau menjaga setiap tindakannya. Inilah teladan terbaik bagi setiap
pendidik: menyadari bahwa ia selalu sedang mengajar, bahkan ketika tidak sedang
berdiri di depan kelas.
Kurikulum Tersembunyi yang Menumbuhkan
Namun, kurikulum
tersembunyi tidak selalu negatif. Ia juga dapat menjadi sarana pendidikan yang
sangat kuat bila dirawat dengan sadar. Tradisi pesantren dan dayah adalah
contoh terbaiknya.
Di pesantren dan dayah, banyak pelajaran paling penting justru tidak
diajarkan di majelis kitab. Santri belajar kesederhanaan dari hidup di bilik
yang sempit dan makan seadanya. Mereka belajar kemandirian dari mencuci pakaian
sendiri dan mengatur waktu sendiri. Mereka belajar solidaritas dari berbagi
makanan kiriman orang tua dengan teman sekamar. Mereka belajar hormat kepada
guru dari melihat bagaimana para senior bersikap di hadapan kiai atau teungku.
Mereka belajar disiplin ibadah dari bangun sebelum subuh bersama-sama. Semua
itu tidak tertulis dalam silabus, tetapi dihirup setiap hari. Dhofier (1982)
menyebut kehidupan dua puluh empat jam di bawah bimbingan kiai inilah yang
membuat pesantren berbeda dari sekolah: ia bukan sekadar tempat belajar, melainkan
tempat hidup yang mendidik.
Inilah yang dalam esai sebelumnya saya sebut sebagai adab yang dihirup,
bukan diceramahkan. Kehidupan bersama selama dua puluh empat jam menjadikan
seluruh lingkungan pesantren sebagai ruang belajar. Kiai tidak perlu banyak
berceramah tentang keikhlasan; cukup santri melihat bagaimana kiainya mengajar
tanpa pamrih dan melayani masyarakat tanpa membedakan.
Kajian kami tentang konsep pendidikan humanis dalam konteks pendidikan
Islam memberi alat ukurnya: lingkungan yang mendidik adalah lingkungan yang
memuliakan manusia, bukan sekadar mengaturnya (Idris & Tabrani ZA, 2017).
Sementara itu, paradigma pendidikan kritis yang kami kaji mengingatkan agar
pendidik selalu bertanya kepentingan siapa yang dilayani oleh kebiasaan sebuah
lembaga (Idris et al., 2018).
Tentu, sebagaimana telah saya ingatkan dalam esai tentang adab,
kehidupan bersama di lembaga berasrama juga dapat menyimpan kurikulum
tersembunyi yang merusak: senioritas yang menindas, kekerasan yang dianggap
biasa, atau kepatuhan yang membungkam. Karena itu, kekuatan kurikulum
tersembunyi di pesantren harus dirawat dengan kesadaran dan pengawasan, bukan
dianggap otomatis baik.
Pendidikan Karakter
Melalui Budaya Lembaga
Pemahaman tentang
kurikulum tersembunyi membawa konsekuensi penting bagi pendidikan karakter.
Selama ini, upaya pendidikan karakter sering diwujudkan dalam bentuk mata
pelajaran tambahan, slogan di dinding, atau program-program sesaat. Semua itu
ada gunanya, tetapi tidak cukup. Karakter tidak terutama dibentuk oleh apa yang
dikatakan, melainkan oleh apa yang dialami secara berulang.
Dalam penelitian kami tentang internalisasi nilai-nilai Pancasila
sebagai inti pembangunan karakter di UIN Ar-Raniry, yang dimuat di Jurnal
Ilmiah Peuradeun (Tabrani ZA et al., 2024), kami menemukan bahwa internalisasi
nilai berlangsung melalui integrasi dengan tridarma perguruan tinggi.
Nilai-nilai religius, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas
tidak hanya diajarkan dalam mata kuliah, tetapi juga dikuatkan melalui kegiatan
moderasi beragama, kehidupan di Ma’had al-Jami’ah, dan berbagai kegiatan
kemahasiswaan. Kegiatan-kegiatan itu bahkan diakui secara formal melalui Surat
Keterangan Pendamping Ijazah. Dengan kata lain, kampus berusaha menjadikan
kurikulum tersembunyinya sebagai bagian yang disadari dan dirancang.
Temuan serupa muncul dari kajian tentang pembentukan karakter melalui
budaya sekolah di SMA Taruna Nusantara Magelang (Kurniawati & Sunarso,
2019). Karakter peserta didik ternyata lebih banyak dibentuk oleh budaya
sekolah dan kehidupan berasrama sehari-hari daripada oleh pelajaran khusus
tentang karakter. Budaya sekolah dan keteladanan para pendidik, dua hal yang
sering luput dari dokumen kurikulum, justru menjadi kunci.
Mengaudit yang Tak Tertulis
Lalu, apa yang dapat dilakukan
lembaga pendidikan Islam? Langkah pertama adalah menyadari. Selama kurikulum
tersembunyi tidak disadari, ia akan bekerja tanpa kendali, dan sering kali
bertentangan dengan tujuan resmi lembaga.
Langkah kedua adalah mengaudit dengan jujur. Sebagaimana lembaga
menyusun dan mengevaluasi kurikulum resmi, ia juga perlu bertanya tentang
kurikulum tersembunyinya. Apa yang dipelajari murid dari cara kami memberi
hukuman? Apa yang dipelajari dari cara kami merayakan prestasi? Apa yang
dipelajari dari cara kami memperlakukan guru honorer dan petugas kebersihan?
Apa yang dipelajari dari cara kami menangani kecurangan? Pertanyaan-pertanyaan
ini dapat dijawab melalui pengamatan, wawancara dengan murid, dan refleksi
bersama para guru.
Langkah ketiga adalah merancang. Setelah menyadari kurikulum
tersembunyinya, lembaga dapat dengan sengaja menata lingkungan agar mendukung
nilai-nilai yang hendak ditanamkan. Jika ingin menanamkan kejujuran, lembaga
dapat membuka kantin kejujuran, menegakkan aturan ujian dengan konsisten, dan
memberi teladan kejujuran dalam laporan keuangan dan akreditasi. Jika ingin
menanamkan penghargaan terhadap sesama, lembaga dapat membiasakan murid menyapa
semua warga sekolah tanpa memandang jabatan.
Langkah keempat adalah memperhatikan kurikulum nol. Lembaga perlu
bertanya: apa yang selama ini tidak pernah kami ajarkan, dan apa pesan yang
tersirat dari ketiadaan itu? Apakah kami tidak pernah membicarakan lingkungan
hidup di sekitar kami, sehingga murid belajar bahwa kerusakan alam bukan urusan
agama? Apakah kami tidak pernah membahas penderitaan kaum miskin di kampung
kami, sehingga murid belajar bahwa iman hanya urusan pribadi?
Penutup: Lembaga sebagai Teladan
Al-Qur’an mengingatkan dengan
tajam orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka lakukan, dan menyebut
hal itu sebagai kebencian yang besar di sisi Allah. Peringatan ini berlaku
bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi lembaga. Lembaga pendidikan Islam
yang mengajarkan kejujuran tetapi memoles angka, mengajarkan kasih sayang
tetapi membiarkan perundungan, mengajarkan kesetaraan tetapi memperlakukan
orang kecil dengan rendah, sedang mengajarkan kemunafikan melalui kurikulum
tersembunyinya.
Sebaliknya, lembaga yang konsisten antara kata dan perbuatan akan
menjadi teladan yang hidup. Murid-muridnya mungkin lupa banyak isi pelajaran,
tetapi mereka akan membawa pelajaran yang paling berharga: bahwa nilai-nilai
yang diajarkan memang dijalani. Mereka akan tumbuh dengan keyakinan bahwa agama
bukan sekadar pengetahuan yang dihafal untuk ujian, melainkan cara hidup yang
nyata dan dapat dipercaya.
Kembali ke murid kelas lima di awal esai ini. Suatu hari nanti, ia
mungkin akan menjadi guru, pejabat, atau orang tua. Apa yang akan ia wariskan
kepada generasi berikutnya sangat ditentukan oleh apa yang ia pelajari hari
ini, termasuk pelajaran yang tidak pernah tertulis di rapornya. Karena itu,
setiap lembaga pendidikan perlu bertanya dengan jujur: apa yang sedang kita
ajarkan, ketika kita tidak sedang mengajar?
Referensi
Anyon, J. (1980). Social Class and the Hidden Curriculum of Work. Journal
of Education, 162(1), 67–92. https://doi.org/10.1177/002205748016200106
Apple, M. W. (1979). Ideology and Curriculum. London: Routledge
& Kegan Paul.
Dhofier, Z. (1982). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup
Kyai. Jakarta: LP3ES.
Eisner, E. W. (1979). The Educational Imagination: On the Design and
Evaluation of School Programs. New York: Macmillan.
Giroux, H. A., & Penna, A. N. (1979). Social Education in the
Classroom: The Dynamics of the Hidden Curriculum. Theory & Research in
Social Education, 7(1), 21–42.
https://doi.org/10.1080/00933104.1979.10506048
Idris, S., & Tabrani ZA. (2017). Realitas Konsep Pendidikan
Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan
Konseling, 3(1), 96–113. https://doi.org/10.22373/je.v3i1.1420
Idris, S., Tabrani ZA, & Sulaiman, F. (2018). Critical Education
Paradigm in the Perspective of Islamic Education. Advanced Science Letters,
24(11), 8226–8230.
Jackson, P. W. (1968). Life in Classrooms. New York: Holt,
Rinehart and Winston.
Kurniawati, E., & Sunarso, S. (2019). Forming Students’ Character through School Culture in Senior High School Taruna Nusantara Magelang. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 7(1), 141–162. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v7i1.298
Tabrani ZA, Walidin, W., Idris, S., & Huda, M. (2024). Pancasila as the Core Value for Character Building in Islamic Higher Education Institutions. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 12(2), 565–592. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v12i2.1212