Education Zone
Welcome to Education Zone

A Scholarly Space for Education, Philosophy, and Islamic Studies

Managed by Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. — Lecturer at Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Founder of SCAD Independent, and Initiator of the Integrative-Structuralist (INSTAL) Model.

Foto Dr. Tgk. Tabrani. ZA
Dr. Tgk. Tabrani. ZA, S.Pd.I., M.S.I., MA., C.Ed., CPS., CIICS. Associate Professor · UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Featured Works

Cover of The Paradigm of Science in Islam
The Paradigm of Science in Islam

LAP Lambert Academic Publishing, Germany (2020). Translated into 12 languages.

Cover of Arah Baru Metodologi Studi Islam
Arah Baru Metodologi Studi Islam

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015).

Cover of Persuit Epistemology of Islamic Studies
Persuit Epistemology of Islamic Studies

Penerbit Ombak, Yogyakarta (2015). Book Two of Arah Baru Metodologi Studi Islam.

Dissertation Finding INSTAL Model (Integrative-Structuralist)

A framework for internalising national philosophical values in the curriculum of State Islamic Higher Education Institutions (PTKIN) in Aceh.

IntegrationNaturalizationStructuralismTransformationAdaptabilityLongevity
Read about the INSTAL Model →
← Back to home

Belajar sebagai Cara Mengada: Dari Memiliki Pengetahuan Menuju Menjadi Manusia Pembelajar

November 06, 2026
Author:Tabrani ZA
Affiliation:Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, Indonesia
Corresponding Email:tabraniza@scadindependent.org

ABSTRACT

Esai ini melanjutkan “Tinta hingga Liang Lahat” dengan bergerak dari pertanyaan tentang lamanya belajar menuju pertanyaan tentang hakikat belajar itu sendiri. Jika esai sebelumnya menegaskan bahwa belajar berlangsung sepanjang hayat, esai ini bertanya: belajar yang macam apa yang layak dijalani sepanjang hayat? Kegelisahan yang hendak diurai adalah kecenderungan masyarakat pengetahuan untuk memperlakukan belajar sebagai akumulasi: mengumpulkan sertifikat, keterampilan, dan informasi, seolah-olah pengetahuan adalah barang yang dimiliki. Dengan meminjam pembedaan Erich Fromm antara modus memiliki dan modus menjadi, teori pembelajaran manusia Peter Jarvis, teori belajar transformatif Jack Mezirow, dan diagnosis Zygmunt Bauman tentang kehidupan yang cair, esai ini membaca ulang belajar sepanjang hayat sebagai cara mengada, bukan sekadar cara memiliki. Tradisi Islam, melalui nasihat Al-Ghazali dalam Ayyuha al-Walad tentang ilmu yang tidak diamalkan, menawarkan kriteria yang tajam: ilmu yang sejati adalah ilmu yang mengubah diri. Merujuk tulisan penulis tentang empat pilar pendidikan sepanjang hayat, Persuit Epistemology of Islamic Studies, kajian tentang jiwa dalam pembelajaran, serta temuan Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang pendidikan informal, esai ini berargumen bahwa pendidikan Islam perlu menumbuhkan manusia pembelajar, bukan pemilik pengetahuan: manusia yang terus berubah karena apa yang ia pelajari.

Keywords: Belajar sepanjang hayat; Modus menjadi; Belajar transformatif; Filsafat pendidikan; Masyarakat pengetahuan

KEY POINTS

  • Belajar sepanjang hayat sering dipahami sebagai akumulasi sertifikat dan keterampilan, bukan sebagai perubahan diri.
  • Fromm membedakan modus memiliki dan modus menjadi; keduanya melahirkan cara belajar yang sangat berbeda.
  • Jarvis memandang belajar sebagai proses ketika seluruh pribadi berubah melalui pengalaman.
  • Mezirow menunjukkan bahwa belajar yang paling mendalam adalah belajar yang mengubah kerangka makna seseorang.
  • Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu yang tidak mengubah diri bukanlah ilmu yang sejati.
  • Pendidikan Islam perlu menumbuhkan manusia pembelajar, bukan sekadar pemilik pengetahuan.

— — — ARTICLE — — —

Pertanyaan yang Belum Ditanyakan

Dalam “Tinta hingga Liang Lahat”, kita telah menegaskan bahwa belajar dalam tradisi Islam tidak mengenal batas usia. Imam Ahmad membawa tempat tinta hingga ke liang kubur, Al-Biruni bertanya tentang ilmu menjelang wafatnya, dan seorang nenek di meunasah mengeja ayat di usia senja. Kita juga menimbang laporan-laporan UNESCO tentang masyarakat belajar dan empat pilar pendidikan, lalu mengingatkan bahwa belajar sepanjang hayat tidak boleh direduksi menjadi tuntutan pasar.

Kesimpulan itu tetap kita pegang. Tetapi ada pertanyaan yang belum benar-benar ditanyakan. Kita telah berbicara tentang berapa lama manusia belajar. Kita belum cukup berbicara tentang apa yang terjadi pada manusia ketika ia belajar. Apakah belajar berarti menambah isi kepala, seperti mengisi gudang? Ataukah belajar berarti mengubah diri, seperti pohon yang tumbuh?

Persoalannya kemudian menjadi tajam di zaman yang disebut masyarakat pengetahuan. Di zaman ini, belajar sepanjang hayat sering dipahami sebagai akumulasi: mengumpulkan sertifikat pelatihan, menambah keterampilan baru, mengikuti kursus daring, dan memperbarui profil profesional. Semua itu tidak salah. Tetapi ia menyimpan asumsi diam-diam bahwa pengetahuan adalah barang yang dimiliki, dan bahwa manusia pembelajar adalah manusia yang memiliki banyak barang semacam itu. Di sinilah letak problem mendasarnya.

Memiliki dan Menjadi

Erich Fromm, psikolog dan filsuf sosial, menulis sebuah buku yang judulnya merangkum pertanyaan ini dengan tajam: To Have or To Be? (Fromm, 1976). Ia membedakan dua modus keberadaan manusia. Dalam modus memiliki, manusia memahami dirinya melalui apa yang ia punya: harta, status, gelar, bahkan pengetahuan. Dalam modus menjadi, manusia memahami dirinya melalui apa yang ia hayati: pengalaman, hubungan, pertumbuhan, dan keterlibatan aktif dengan dunia.

Fromm memberi contoh yang sangat relevan tentang belajar. Murid dalam modus memiliki mendengarkan kuliah, mencatat setiap kata, menghafalnya, lalu menyimpannya untuk ujian. Pengetahuan itu menjadi miliknya, tetapi tidak mengubah dirinya. Murid dalam modus menjadi mendengarkan kuliah dengan aktif, bergulat dengan gagasan, mengajukan pertanyaan, dan membiarkan gagasan itu mengubah cara ia memandang dunia. Bagi murid pertama, kuliah adalah transaksi; bagi murid kedua, kuliah adalah peristiwa.

Fromm juga mencatat bahwa orang dalam modus memiliki cenderung cemas terhadap gagasan baru, karena gagasan baru mengancam apa yang telah ia kumpulkan. Ia lebih suka mendengar hal yang sudah ia ketahui, karena itu menegaskan kepemilikannya. Sebaliknya, orang dalam modus menjadi menyambut gagasan baru sebagai kesempatan untuk tumbuh, bahkan bila gagasan itu menggoyahkan keyakinan lamanya. Pembedaan Fromm menyingkap sesuatu yang sering tersembunyi dalam wacana belajar sepanjang hayat. Masyarakat yang berada dalam modus memiliki akan menghasilkan pembelajar yang rajin mengumpulkan sertifikat, tetapi tidak semakin bijak. Ia belajar sepanjang hayat, tetapi tidak pernah benar-benar berubah.

Bayangkan dua guru madrasah yang mengikuti pelatihan yang sama tentang pembelajaran berdiferensiasi. Guru pertama mencatat semua materi, mengumpulkan sertifikat, dan memasukkannya ke dalam berkas kenaikan pangkat. Sepulang pelatihan, ia kembali mengajar seperti biasa, karena baginya pelatihan adalah kewajiban administratif. Guru kedua pulang dengan kegelisahan: ia mulai memperhatikan bahwa beberapa muridnya selama ini tertinggal bukan karena malas, tetapi karena cara ia mengajar tidak pernah menyapa cara mereka belajar. Ia mulai mencoba, gagal, mencoba lagi, dan perlahan mengubah cara ia memandang murid-muridnya. Kedua guru itu memiliki sertifikat yang sama. Tetapi hanya guru kedua yang benar-benar belajar.

Belajar sebagai Perubahan Seluruh Pribadi

Peter Jarvis, salah satu pemikir terkemuka tentang pendidikan orang dewasa, merumuskan teori belajar yang sangat menekankan keutuhan manusia. Menurutnya, belajar adalah proses ketika seluruh pribadi, dengan tubuh, pikiran, perasaan, dan nilai-nilainya, mengalami suatu situasi sosial, lalu mengolah pengalaman itu sehingga pribadinya berubah (Jarvis, 2006). Belajar, dalam pandangan Jarvis, bukan sekadar perubahan perilaku atau penambahan informasi, melainkan perubahan pada diri yang mengalami.

Pandangan ini memiliki konsekuensi yang mendalam. Bila belajar adalah perubahan seluruh pribadi, maka ukuran keberhasilan belajar bukan berapa banyak yang diketahui, melainkan siapa yang telah terbentuk. Seorang dosen yang telah mengikuti puluhan pelatihan tetapi tetap mengajar dengan cara yang sama, tetap memperlakukan mahasiswa dengan cara yang sama, dan tetap memandang ilmu dengan cara yang sama, mungkin telah memiliki banyak pengetahuan, tetapi belum benar-benar belajar.

Belajar yang Mengubah Kerangka Makna

Jack Mezirow melangkah lebih jauh dengan teori belajar transformatif. Dalam artikelnya di New Directions for Adult and Continuing Education, ia menjelaskan bahwa setiap orang dewasa memiliki kerangka acuan, yakni asumsi, keyakinan, dan cara pandang yang membentuk cara ia memaknai pengalaman (Mezirow, 1997). Sebagian besar belajar terjadi di dalam kerangka itu: kita menambah pengetahuan tanpa mengubah cara kita memaknai. Tetapi belajar yang paling mendalam terjadi ketika kerangka itu sendiri diubah, biasanya setelah seseorang mengalami peristiwa yang mengguncang asumsinya dan merefleksikannya secara kritis.

Mezirow menyebut pengalaman semacam itu sebagai dilema yang membingungkan. Seseorang yang menghadapi dilema itu dapat memilih untuk mempertahankan kerangka lamanya dengan menyangkal pengalaman baru, atau membiarkan kerangka itu diperiksa dan diubah. Pilihan kedua menuntut keberanian, kerendahan hati, dan refleksi, sebuah kombinasi yang dalam esai tentang adab kita sebut kebajikan epistemik.

Gagasan Mezirow ini dekat dengan pengalaman yang sangat dikenal dalam tradisi Islam: taubat. Taubat bukan sekadar menyesali satu perbuatan, melainkan perubahan arah hidup, yang sering diawali oleh peristiwa yang mengguncang. Al-Ghazali sendiri, sebagaimana kita bahas dalam beberapa esai sebelumnya, mengalami krisis yang mengubah seluruh kerangka hidupnya. Belajar transformatif, dalam pengertian ini, adalah bentuk taubat intelektual: kesediaan untuk mengubah cara memandang ketika kebenaran menuntutnya.

Teori Mezirow juga mengingatkan bahwa perubahan kerangka makna tidak terjadi dalam kesendirian. Ia membutuhkan percakapan dengan orang lain yang memiliki cara pandang berbeda, dalam suasana yang aman untuk berbeda pendapat. Dalam tradisi kita, majelis ilmu dan mudzakarah adalah ruang-ruang semacam itu.

Kehidupan yang Cair dan Godaan Pembaruan Tanpa Akhir

Zygmunt Bauman, sosiolog yang menggambarkan modernitas sebagai keadaan cair, mengingatkan sisi gelap dari tuntutan belajar sepanjang hayat (Bauman, 2005). Dalam kehidupan yang cair, segala sesuatu berubah begitu cepat sehingga keterampilan dan pengetahuan cepat usang. Manusia dituntut untuk terus memperbarui diri, bukan karena ia ingin tumbuh, melainkan karena takut tertinggal. Belajar berubah menjadi kecemasan yang tidak pernah selesai.

Bauman tidak menolak belajar sepanjang hayat. Tetapi ia mengingatkan bahwa dalam kehidupan yang cair, manusia mudah kehilangan pegangan. Ia terus mengganti pengetahuan seperti mengganti pakaian, tanpa pernah membangun kedalaman. Di sinilah tradisi Islam menawarkan sesuatu yang berharga: pegangan yang tidak cair, yakni nilai-nilai dan tujuan hidup yang memberi arah bagi seluruh perubahan. Manusia pembelajar dalam pandangan Islam terus berubah, tetapi perubahannya bergerak menuju kedalaman, bukan sekadar mengikuti arus.

Ilmu yang Mengubah Diri

Al-Ghazali, dalam surat nasihatnya yang terkenal kepada seorang murid, Ayyuha al-Walad, memberi kriteria yang sangat tajam tentang ilmu. Muridnya telah menghabiskan bertahun-tahun belajar dan bertanya ilmu mana yang akan bermanfaat baginya. Al-Ghazali menjawab bahwa ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu tidak akan terwujud. Ia mengingatkan muridnya bahwa banyaknya ilmu yang dihafal tidak akan menolongnya bila ilmu itu tidak mengubah cara ia hidup (Al-Ghazali, 2005).

Nasihat ini adalah kritik yang sangat dalam terhadap belajar dalam modus memiliki. Bagi Al-Ghazali, ilmu bukan barang yang dikumpulkan, melainkan cahaya yang harus menerangi jalan hidup. Ilmu yang sejati adalah ilmu yang mengubah diri: membuat seseorang lebih jujur, lebih rendah hati, lebih adil, dan lebih dekat kepada Tuhan. Inilah yang dalam tradisi disebut ilmu yang bermanfaat, ‘ilm nafi’, yang dimohonkan Rasulullah dalam doanya.

Dalam Persuit Epistemology of Islamic Studies, saya menegaskan bahwa epistemologi Islam tidak berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana pengetahuan diperoleh, tetapi juga bertanya tentang untuk apa pengetahuan itu dan bagaimana ia mengubah manusia yang memilikinya (Tabrani ZA, 2015). Dimensi transformatif ini adalah salah satu ciri khas epistemologi Islam yang membedakannya dari epistemologi yang hanya berurusan dengan kebenaran proposisi.

Tafakkur dan Muhasabah sebagai Praktik Belajar Transformatif

Tradisi Islam memiliki praktik-praktik yang sangat dekat dengan apa yang oleh Mezirow disebut refleksi kritis. Yang pertama adalah tafakkur, perenungan mendalam atas tanda-tanda Tuhan di alam, dalam diri, dan dalam peristiwa kehidupan. Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk bertafakur, dan para ulama menyebut satu saat perenungan yang sungguh-sungguh lebih berharga daripada banyak ibadah yang dilakukan tanpa kesadaran. Tafakkur bukan sekadar berpikir tentang sesuatu, melainkan membiarkan apa yang direnungkan mengubah cara kita memandang.

Yang kedua adalah muhasabah, menimbang diri. Praktik ini mengajak seseorang untuk secara teratur meninjau ulang tindakan, niat, dan cara pandangnya, lalu memperbaiki apa yang perlu diperbaiki. Bila dibawa ke dunia pendidikan, muhasabah dapat menjadi praktik reflektif yang sangat kaya: guru meninjau ulang cara mengajarnya, murid meninjau ulang cara belajarnya, dan lembaga meninjau ulang cara ia mendidik.

Kedua praktik ini memperlihatkan bahwa belajar transformatif bukan gagasan asing bagi tradisi kita. Ia telah lama dijalankan dalam bahasa spiritual, dan kini dapat dihidupkan kembali dalam bahasa pedagogis tanpa kehilangan kedalamannya.

Jiwa sebagai Tempat Belajar Terjadi

Bila belajar adalah perubahan diri, maka tempat belajar terjadi bukan hanya di kepala, melainkan di jiwa. Dalam analisis filosofis tentang keberadaan jiwa dalam pembelajaran, kami menimbang bahwa teori-teori belajar yang mengabaikan jiwa akan menghasilkan kecerdasan yang rapuh (Tabrani ZA & Masbur, 2016). Belajar dalam modus menjadi adalah belajar yang menyentuh jiwa: ia melibatkan rasa takjub, kegelisahan, kerinduan, dan keberanian untuk berubah.

Dalam tulisan saya di Education Zone tentang empat pilar pendidikan sepanjang hayat, saya menegaskan bahwa pendidikan membentuk manusia sebagai individu, sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk beragama (Tabrani ZA, 2017). Kini dapat ditambahkan: pilar belajar untuk menjadi diri, learning to be, adalah pilar yang paling sering diabaikan dalam praktik, justru karena ia paling sulit diukur. Padahal, tanpa pilar itu, tiga pilar lainnya kehilangan pusatnya.

Lembaga sebagai Ruang Menjadi

Bagaimana lembaga pendidikan dapat menumbuhkan belajar dalam modus menjadi? Kajian di Jurnal Ilmiah Peuradeun tentang pendidikan informal memperlihatkan bahwa pembelajaran di luar kelas formal dapat diarahkan secara sengaja untuk meningkatkan kecakapan pribadi dan kerja (Walidin, 2016). Temuan ini mengingatkan bahwa ruang belajar yang paling mengubah sering justru berada di luar kurikulum resmi: dalam percakapan, pengalaman, kegagalan, dan refleksi.

Di perguruan tinggi, godaan modus memiliki tampak jelas dalam cara pengembangan profesional dosen sering dinilai: berapa pelatihan yang diikuti, berapa sertifikat yang dikumpulkan. Ukuran-ukuran itu perlu dilengkapi dengan pertanyaan yang lebih bermakna: apa yang berubah dalam cara dosen mengajar, meneliti, dan memperlakukan mahasiswa setelah pelatihan itu? Lembaga pendidikan dapat menumbuhkan modus menjadi dengan beberapa cara. Pertama, memberi ruang bagi refleksi: tidak hanya bertanya apa yang telah dipelajari, tetapi juga bagaimana pelajaran itu mengubah cara memandang. Kedua, menghargai pertanyaan sama tingginya dengan jawaban, karena pertanyaan adalah pintu bagi perubahan kerangka makna. Ketiga, menghubungkan ilmu dengan amal, sehingga setiap pelajaran memiliki jalan menuju kehidupan nyata. Keempat, memberi teladan: guru dan dosen yang terus belajar, terus berubah, dan berani mengakui ketika pandangannya telah bergeser.

Penutup: Menjadi, Bukan Sekadar Memiliki

Kembali ke Imam Ahmad dengan tempat tintanya. Barangkali yang membuat kisah itu begitu indah bukan hanya kesetiaannya untuk terus belajar hingga akhir hayat, tetapi juga kenyataan bahwa belajar baginya bukan aktivitas yang terpisah dari hidup. Ia tidak sekadar memiliki ilmu; ia hidup di dalam ilmu, dan ilmu hidup di dalam dirinya.

Para ulama terdahulu menulis kitab bukan untuk menambah koleksi, melainkan karena ilmu yang mereka pelajari telah mengubah diri mereka dan mendorong mereka untuk berbagi. Masyarakat pengetahuan menawarkan kepada kita banyak kesempatan untuk memiliki pengetahuan: kursus, sertifikat, gelar, dan akses informasi tanpa batas. Tetapi ia juga membawa godaan untuk mengira bahwa memiliki pengetahuan sama dengan menjadi orang yang berilmu. Pendidikan Islam dipanggil untuk mengingatkan perbedaan itu: bahwa tujuan belajar bukan menjadi gudang yang penuh, melainkan menjadi manusia yang terus tumbuh, terus berubah, dan terus mendekat kepada Yang Maha Mengetahui.

References

Al-Ghazali. (2005). Letter to a Disciple: Ayyuha’l-Walad (T. Mayer, Trans.). Cambridge: Islamic Texts Society.

Bauman, Z. (2005). Liquid Life. Cambridge: Polity Press.

Fromm, E. (1976). To Have or To Be? New York: Harper & Row.

Jarvis, P. (2006). Towards a Comprehensive Theory of Human Learning. London: Routledge.

Mezirow, J. (1997). Transformative Learning: Theory to Practice. New Directions for Adult and Continuing Education, 74, 5–12. https://doi.org/10.1002/ace.7401

Tabrani ZA. (2015). Persuit Epistemology of Islamic Studies: Buku Dua Arah Baru Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Tabrani ZA. (2017, 13 Februari). 4 Pilar Tentang Pendidikan Sepanjang Hayat. Education Zone. https://www.tabraniza.com/2017/02/4-pilar-tentang-pendidikan-sepanjang.html

Tabrani ZA, & Masbur, M. (2016). Islamic Perspectives on the Existence of Soul and Its Influence in Human Learning (A Philosophical Analysis of the Classical and Modern Learning Theories). Jurnal Edukasi: Jurnal Bimbingan Konseling, 1(2), 99–112. https://doi.org/10.22373/je.v1i2.600

Walidin, W. (2016). Informal Education as a Projected Improvement of the Professional Skills of Employees of Organizations. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(3), 281–294. https://doi.org/10.26811/peuradeun.v4i3.103

Latest from Jurnal Ilmiah Peuradeun

Visit the journal →